Mungkin Desa Penadaran terdengar asing di telinga orang awam. Namun, saya sudah akrab dengan udara pagi desa dan nyanyian merdu ayam berkokok ketika matahari mulai terbit. Sudah bersahabat dengan bau masakan nenek di dapur yang masih menggunakan kompor dari kayu. Apalagi, saya sudah jatuh cinta dengan pemandangan sawah saat panen dan bukit–bukit di baliknya. Desanya yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai membuat penduduknya akrab dengan satu sama lain.


Desa Penadaran terletak di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, sekitar dua jam dari pusat Kota Semarang.


Advertisement

Desa Penadaran adalah desa yang belum memiliki banyak perkembangan, sehingga kehidupan di sana sangatlah sederhana dengan jalanan yang masih bebatuan, rumah–rumah yang terbuat dari kayu, dan daerah yang hanya disinari oleh bulan jika matahari sudah terbenam di balik bukit–bukit.

Masih teringat jelas keseruan saat bermain tebak lagu di mobil dengan keluarga saya untuk menghabiskan waktu selama diperjalanan menuju Kota Semarang. Waktu itu, kami lebih memilih untuk menggunakan kendaraan mobil untuk mendapatkan sensasi mudik dan menikmati pemandangan kanan kiri di tol Cipali. Belasan jam kami tempuh, melalui berbagai macam kota yang sangat berbeda dengan Jakarta. Butuh waktu sekitar 16 jam untuk tiba di kota Semarang dan 2 jam tambahan untuk ke Desa Penadaran.

Untuk memasuki Desa Penadaran kita harus memiliki keterampilan menyetir mobil, karena setelah melewati gapura batu yang bertuliskan 'Welcome to Penadaran' jalanan di Desa Penadaran banyak lubang dan belum diubah menjadi aspal, jadi seakan-akan kita sedang off-road. Di desa tersebut pun penduduk lebih mudah untuk mengendarai motor dibandingkan mobil karena lebih mudah untuk menghindari lubang–lubang.

Advertisement

Sekitar 500 meter memasuki Desa Penadaran, terlihat sebuah sungai yang ramai dengan ibu–ibu mencuci pakaian yang ditemani oleh anak–anaknya yang sedang asik berenang. Sekitar 50 meter lebih dalam, kita bisa melihat bukit–bukit yang gundul dimana Gua Maria terletak. Lebih dalam lagi, kita bisa mulai melihat sawah yang hijau jika sedang musim panen.


Desa Penadaran mengalami beberapa perubahan yang signifikan dibandingkan terakhir kali saya kesana 2 tahun lalu.


Menurut ibu saya yang baru saja pulang dari Desa Penadaran kemarin, ia memberitahu saya bahwa sekarang Desa Penadaran mengalami perkembangan seperti adanya listrik dan sebagian besar jalanan sudah diperbarui. Masyarakat sekarang bisa melakukan aktifitas di malam hari tanpa menyalakan lilin. Penduduk juga bisa berpergian dengan lebih cepat karena sudah tidak harus menghindari lubang–lubang besar.

Rumah nenek saya terletak dibagian Desa Penadaran yang cukup dalam yang akan memakan waktu sekitar 30 menit dari tulisan 'Welcome to Penadaran' untuk tiba di rumah nenek. Disana, rumah–rumah masih terbuat dari kayu dan mirip seperti rumah panggung. Uniknya, rumah nenek saya tidak berpintu dan sangat terbuka di bagian depan. Hal tersebut membuat rumah nenek saya mendapatkan banyak sinar matahari dan udara yang segar.

Rumah tersebut adalah tempat tinggal ibu saya dan saudara–saudaranya sejak kecil, sebelum mereka berpindah ke Jakarta. Ibu saya berbicara bahwa kakeknya yang bernama Morojoyo dulu pernah bercerita kalau Desa Penadaran itu sangat jauh dari keramaian dan terpencil. Desa Penadaran pun tenggelam di dalam hutan yang lebat.

Ayah ibu saya, Suparjo, adalah pemimpin desa yang pernah membangun jembatan untuk menghubungkan satu desa ke desa lainnya. Jembatan tersebut dibuat olehnya 30 tahun lalu yang terbuat dari kelapa, kayu, dan jerami. Sayangnya, 3 tahun lalu jembatan tersebut runtuh dan serpihannya jatuh ke sungai di bawahnya dan belum ada usaha untuk membangun jembatan yang lain.


Selain itu, Desa Penadaran juga rumah dari tempat wisata Gua Maria. Gua Maria terletak di dekat perbukitan Desa


Penadaran cukup jauh dari rumah–rumah penduduk. Perjalanan ke Gua Maria cukup rumit sehingga kita harus meminta bantuan penduduk sekitar agar diantar kesana. Mayoritas penduduk di Desa Penadaran adalah pemeluk agama Katolik, maka dari itu dibangunlah gereja yang cukup impresif disana, yang bernama Gereja Katolik Santo Paulus. Jadi, kakek saya dulu adalah salah satu penyebar agama Katolik di Desa Penadaran. Maka dari itu dibangunlah Gua Maria sebagai salah satu tempat suci penduduk disana.

Hal menarik dari Gua Maria menarik adalah keajaibannya. Di Gua Maria terdapat aliran air yang muncul di sebelah Gua Maria dan membuat penduduk sekitar percaya bahwa air tersebut adalah air suci. Air suci tersebut biasanya digunakan umat Katolik penduduk dalam acara baptisan. Hebatnya, penduduk Desa Penadaran menunjukan rasa toleransi agama, di mana mereka hidup dengan makmur dan memiliki kepercayaan masing–masing.

Mengetahui bahwa ibu saya dulu pernah tinggal di sebuah desa yang jauh dari karamaian dan terpencil, membuat saya ingin menjadi lebih dekat kepada masa lalu ibu saya agar lebih mengenali kehidupan yang berbeda dari kehidupan kota. Menurut saya, mengunjungi Desa Penadaran dua tahun sekali penting untuk saya dan keluarga saya agar kami tidak melupakan asal kita dan tidak terlalu terjebak dalam kehidupan kota.

Selain itu, Desa Penadaran juga memiliki tempat wisata yang bersejarah yang sayangnya tidak diketahui banyak orang karena lokasinya yang sulit untuk ditemukan. Untuk ke depannya, saya berharap Desa Penadaran bisa terus berkembang agar diketahui lebih banyak orang dan tidak melupakan keorisinilannya yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya