Usia 17 tahun.

Bagiku ini adalah usia yang paling kejam, dimana kita diajarkan mencari jati diri dan mulai membangun masa depan sendiri. Banyak pilihan pilihan yang harus segera diambil, atau orang lain akan mengambilnya.

Advertisement

Usia dimana aku merasakan beban hidup paling besar, tertekan, jatuh, bangkit, putus asa, dan hal lain yang membedakan dengan usia sebelumnya. Banyak emosi baru yang aku alami di usia ini.

Menangis. Hal yang sangat lumrah pun menjadi berbeda di 17 tahun. aku tidak lagi menangis dengan mengeluarkan suara di depan orang banyak, agar mereka memperhatikan. Entahlah sejak kapan aku berubah, diam diam meneteskan air mata di bawah selimut dan berpura pura tidur, atau menangis di kamar mandi, dan rasanya menangispun sangat menyakitkan di 17 tahunku.

Aku, jiwa yang penuh dengan persaingan sering lalai akan sesuatu yang sangat penting. Aku, jiwa yang tidak tega melihat teman menderita sering merasa ditusuk dari belakang. Aku, jiwa yang penuh kedengkian sering menyalahkan Tuhan.

Advertisement

Seberapa keras aku menahan emosi, mencoba bersabar walau sedikit, menyakitkan. Tidak tahu bagaimana untuk bangkit dari keterpurukan seringkali membuat frustasi. Bagaimana harus memulai membangun mimpi, terlalu lemah untuk tahu.

Aku takut menyalahkan orangtuaku, dilahirkan sebagai anak bodoh yang tidak tahu bagaimana menghadapi hidup. Anak yang takut jika di gertak, menangis jika disalahkan. Aku takut menyalahkan Tuhan, bagaimanapun aku sering dibantu oleh-Nya. Aku takut menyalahkan diri sendiri, karena aku benar benar takut menyalahkan.

Putus asa adalah sesuatu yang dibenci Tuhan. Aku tahu. Rasa sakit tak bisa dihindari, tapi putus asa adalah pilihan. Sudah berkali kali aku mengingat kalimat itu dan menerapkannya. Belum bisa dibilang berhasil sepenuhnya.

Aku tidak bisa bercerita dengan orangtua, salah satu hal yang ingin aku ubah sejak dulu. Aku tidak bisa bercerita ke kakak, karena aku paham sifatnya. Aku tidak bisa bercerita ke sahabat, karena dia terlalu sibuk dan pikirannya terlalu dewasa. Aku sedang berusaha bercerita dengan Tuhan. Karena mereka, orang yang aku percaya dan sayangi terlalu sering menganggap aku lembek, cengeng.

Di depan mereka, aku berusaha menahan tangis supaya aku tidak dianggap lemah, tapi aku menyakiti diri sendiri. Jauh di dalam sana, aku sangat benci keadaan seperti ini. aku belum bisa menjadi sesuatu yang mereka harapkan. Aku sudah terlalu sering beralasan karena aku adalah orang yang seperti ini. tapi mereka menjawab, maka dari itu harus diubah.

Cara kerja hidup ini terlalu cepat, aku belum mampu menyesuaikan. Aku tidak berubah meskipun mereka menggertaku, memaksa aku supaya berubah, tidak lemah, tidak cengeng. Aku hanya menyembunyikan semua itu, rapat rapat supaya mereka melihat bahwa aku baik baik saja.

17 tahun, saat aku memandang hidup tidak adil. Tapi aku terus berdoa bahwa Tuhan itu adil. Saat aku berpikir bahwa Tuhan tidak menyayangiku. Tapi aku percaya Tuhan Maha penyayang.

17 tahun, saat aku gagal dan tidak tahu cara untuk bangkit, tapi aku tertatih berusaha berdiri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya