Body goals jadi impian setiap orang. Siapapun sepertinya. Wanita mana yang tidak ingin langsing dengan perut rata. Paling nggak, enak dilihat dan nggak mirip boneka beruang. Pria mana juga yang tidak ingin jadi idaman. Tinggi, berotot, dan terlihat sanggup memberi keamanan pada para wanita.

Pengertian waita cantik dan pria tampan juga belum berubah. Kulit seputih plamir tembok, postur tubuh yang menjulang, rambut sepanjang kuntilanak untuk perempuan, dan badan yang peluk-able bagi kaum pria.

Advertisement

Kalau standar ketentuan umum sudah ditetapkan, maka untuk mereka yang belum masuk standar diatas harus berupaya sekuat tenaga. Panasnya telinga mendengar caci maki jadi motivasi memperbaiki diri.

Baik memang niatnya. Ingin berubah menjadi lebih baik. Tetapi kalau memulai hanya untuk memenuhi standar sosial, apa niat baik itu bias berhasil baik?

Terlepas dari itu semua, salah satu cara memperoleh body goals bagi sebagian orang adalah dengan cara diet. Diet yang dipersepsikan masing-masing orang.

Advertisement

Kebanyakan, kalau orang sudah bilang diet, pasti yang terpikir adalah kelebihan berat badan alias gendut. Diet hanya untuk mereka yang obesitas. Kalau kamu diet, berarti kamu adalah salah satu dari sekian banyak orang yang kelebihan berat badan.

Mengurangi porsi makan, menahan lapar, hingga bisa jadi sampai terkapar lemas tak punya energy untuk menjalani hari. Berharap penderitaan dibalas menurunnya angka timbangan.

Memang semudah itu memahami tubuh? Bahkan mungkin kamu saja tidak tahu usus manusia dua kali lebih luas dari lapangan tenis. Tubuh dengan segala kerumitannya disimplifikasi bisa kurus dengan seketika. Bisa saja itu terjadi. Tapi bener yang berkurang itu lemaknya? Bukan kesehatannya?

Memahami diet aja masih salah. Padahal diet dalam KBBI tidak mencantumkan sama sekali masalah berat badan. Diet itu berarti aturan makan atau mengatur pola makan. Mau gendut, kurus, semua bisa saja melakukan diet.

Ditambah gampangnya akses informasi, cari cara diet jadi sembarangan. Termakan pula judul youtube menggiurkan. Influencer abal-abal tanpa pengetahuan bicara pengalaman. Memang boleh jika disertai pemberitahuan “tidak dapat diberlakukan pada setiap tubuh”. Yang bahaya adalah ketika membagikan tips yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Tips-tips dibuat sepertinya cuma untuk cari nama semata. Semakin kontroversial judulnya, semakin banyak views-nya. Semakin banyak yang lihat, semakin banyak juga Adsense dan endors-an berdatangan. Kalau sudah begitu, tidak peduli bagaimana nasib orang diluarsana yang asal saja ikut-ikutan supaya turun berat badan.

Kalau sudah tidak bisa mengikuti tips ini itu, cuma stress yang dirasa. Tertekan tidak bisa mengikuti menurunkan angka timbangan. Tertekan karena gagal memenuhi target. Padahal baru satu minggu juga menjalani diet. Ckckck.

Sudah begini pasti tau apa yang diinginkan. Yap, cara instan. Mulai deh cari berbagai suplemen, obat, the atau apapun yang memiliki klaim menurunkan berat badan dengan cepat.

Karena pengen instan, beli obat diet ratusan ribu dengan iming-iming turun 10 kilo dalam seminggu. Testimoni artis dengan bentuk tubuh aduhay jadi pedoman. Belum lagi foto dua orang dengan perbedaan berat badan yang disandingkan. Sangat menggiurkan bukan?

Padahal tidak semua fakta diberitahukan. Ya namanya aja jualan. Pasti testi bagus-bagus saja yang dijual. Padahal, siapa yang tahu berapa persen orang yang berhasil dan gagal menggunakan suatu produk. Lha wong Tuhan menciptakan manusia dengan karakter berbeda. Gabisa dong kalau dipukul rata.

Banyak juga yang dalam promosinya meng-klaim kalau produknya memiliki manfaat yang sangat hebat. Turun 5 kilo dalam seminggu misalnya. Kalaupun benar terjadi pada salah satu konsumen, apa bisa berefek sama untuk pengguna lainnya?

Cara lain juga digunakan untuk menggaet banyak konsumen. Terutama konsumen yang awam akan bagaimana seharusnya dan semestinya diet bekerja. Orang-orang tenar jadi korban editan untuk kepentingan promosi. Iya kalau memang dibayar untuk meng-endorse produk tersebut. Nyatanya orang-orang bertangan jahil ini asal comot saja tanpa meminta izin. Yang lebih keterlaluan lagi kalau caption yang disertakan seolah-olah orang itu mendukung betapa efektifnya produk yang ditawarkan.

Kan kasihan mbak-mbak atau mas-mas terkenal ini jadi korban pemalsuan testimoni. Bisa saja citra mereka jatuh kalau tidak dipercaya lagi.

Cantik butuh memang pengorbanan. Tapi apa benar harus mengorbankan kesehatan? Tidak bukan?

Berkorban berarti harus bisa meninggalkan kebiasaan lama untuk merubah pola makan. Bisa juga mengorbankan waktu nonton drama korea untuk sedikit membaca tentang ilmu tubuh. Atau juga berkorban uang untuk mendapatkan tips yang lebih terpercaya kepada dokter gizi atau mereka yang sudah tersertifikasi.

Dengan begitu, pengorbanan yang dilakukan tidak akan merugikan. Niat kurus yang awalnya mungkin hanya untuk memenuhi ekspektasi orang dapat menjadi nilai plus juga bagi kesehatan.

Tapi jangan lupa, yang namanya diet itu menjaga pola makan. Terlepas dari bagaimanapun pandangan orang, jadikan diet itu sebagai tujuan yang lebih baik. Misalnya, biar lebih sehat, dan biar nggak gampang loyo karena badan yang nggak kerasa nyaman. Jangan malah diet ini jadi alasan biar dapat pacar. Kalau dietnya nggak bener, belum dapat pacar udah mati duluan.

Kalau sudah menetapkan tujuan dan alasan, tinggal memantapkan niat nihh. Jangan pasang target terlalu dekat, karena sesuatu yang diraih secara instan hilangnya juga akan instan. Berarti diet ini harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau memang bertekat hidup sehat. Boleh lah sekali-kali menetapkan cheat day, tapi balik lagi imbangi dengan makanan-makanan bergizi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya