Kalau orang tanya itu di jawab! Jangan bisanya cuma diam saja. Dengan nada yang lantang dan keras. Kalimat itu lazim saya dengar. Ketika menjadi siswa hingga kini seorang mahasiswa pembelajar.
Apalagi sebagai orang yang kerap berkecimpung dalam suatu organisasi atau saat sedang melaksanakan kegiatan orientasi. Lalu apakah gertakan seperti itu perlu?
Alih-alih dengan alasan untuk mendisiplinkan diri dan memperkuat mental. Bicara masalah mendisiplinkan diri, selama kita hidup  di dunia tentunya orang tua yang paling berperan.
Kegiatan yang diberi nama orientasi pengenalan sekolah maupun kampus sepertinya diluar semua hal itu. Di masa anak-anak atau saat pertumbuhan menuju remaja, saya berpikir kegiatan dengan nama orientasi pengenalan lingkungan sekolah lebih menekankan pada hal-hal yang seharusnya dilakukan saat berada pada lingkungan tersebut.
Pengenalan pada beberapa ruang kelas yang ada, tempat jajan, masjid, toilet dll. Semua hal itu dipatahkan dengan adanya kegiatan orientasi di kuliah. Beberapa kegiatan memang awalnya terasa seru dan menyenangkan.
Dengan berbagai tugas yang telah diberikan. Mahasiswa diharapkan dapat menyalurkan kreativitasnya dalam tugas. Namun seiring berjalannya waktu, semua itu seakan sirna.
Kemunculan sebuah forum dengan dalih evaluasi akan tugas-tugas yang telah diberikan. Kami sebagai mahasiswa yang mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan baru merasa kaget akan hal itu. Suasana menegangkan muncul dengan cepat.
Semua mahasiswa diam tak berkutik sama sekali. Menatap layar pribadi, dengan wajah dan tampang yang begitu tak ada nyali. Berharap tidak ada satu hal pun yang tertinggal untuk kami dengari. Sebenarnya bukan serius mendengarkan, namun memang karena rasa takut yang menghampiri.
Kadang kala tidak berani menyampaikan pendapat karena ketakutan. Takut bila salah menjawab dan juga takut tidak bisa memberi tanggapan. Tanggapan yang baik dan relevan. Walaupun tidak seperti yang mereka harapkan, kami mecoba tetap memberi balasan.
Hal-hal semacam itu kadang bukan menguatkan mental mahasiswa, namun malah kebencian yang dirasa. Kebencian seorang adik tingkat kepada kakak tingkatnya. Walaupun semua itu ternyata hanya gimic semata.
Seperti teman saya mengatakan, kesan pertama masih membekas untuk dirasa. Berbagai keluh kesah, rasa lelah dan air mata yang kadang tanpa disadari menetes dengan sendirinya. Tidak hanya satu dua teman yang merasakan, ternyata hampir satu angkatan juga merasakan.
Deadline ospek yang bebarengan dengan tugas kuliah, hingga kami berusaha keras membagi waktu sebaik mungkin agar semua itu cepat terselesaikan tanpa ada yang tertinggalkan. Segala usaha, tenaga dan pikiran yang kami keluarkan tentu bukan hal yang mudah.
Lalu apakah ospek seperti ini layak dan perlu diberikan kepada mahasiswa baru? Perlu dan tidak perlu sebenarnya hal yang relatif. Tergantung pada presepsi masing-masing yang menjalaninya.
Apakah dianggap sebagai beban, atau malah dianggap simulasi dan pembiasaan bila nantinya mendapat tugas yang lebih berat. Setelah berbagai drama kami lewati, banyak hal positif yang menghampiri.
Beberapa kakak tingkat yang rasanya kami takuti, justru sangat baik hati. Membantu seorang mahasiswa ini menemukan jati diri. Dalam berbagai masalah yang sedang dihadapi. Dan akhirnya saya sadari semua itu membawa hikmah dan esensi tersendiri.
Lebih terbiasa dengan tugas yang berat, belajar mengatur waktu dengan baik dan tepat, serta tahu bagaimana cara bersosialisasi apalagi dengan orang baru yang sebelumnya belum dikenal. Ketika seorang mahasiswa semester satu mencoba hidup di lingkungan yang baru, disitulah banyak hal yang dirasa perlu.
Perlu untuk dipelajari dan ditiru. Sehingga tidak sedikit hal yang harus kami tahu. Tidak lain bimbingan dan arahan dari kakak tingkat sangatlah perlu. Sehingga otak kami tidak merasa buntu.
Dari segala keluh kesah yang kami curahkan, tak sadar pertemanan antar teman seangkatan justru lebih baik dan malah semakin akrab. Bahkan terkadang melontarkan celotehan random pada whatsapp group yang menimbulkan tawa tiada henti.
Walaupun saat ini hanya melalui media online tidak menjadi tembok penghalang kami dekat dan saling bersapa. Dari segala suka duka ospek saya menyimpulkan bahwa, bila tujuan ospek yakni sebagai sarana kami lebih mengenal dunia kampus, dari relasi hingga hal akademik, sangatlah baik untuk dilakukan.
Namun tidak untuk hal membentak. Sekarang hal itu sudah tidak dibutuhkan. Apalagi bila tujuannya untuk memperkuat mental. Mencari cara tetap mempertahankan tujuan utama tanpa harus berbicara dengan lantangnya. Layaknya senior dengan juniornya.
Kami hanyalah seorang mahasiswa baru yang perlu bimbingan dan arahan. Seiring bertambahnya tahun dan masa perlu berbagai pembaharuan. Era kami dan mereka sudah sangat berbeda.
Saya harap semua ini dapat diambil sisi baiknya dan dibuang lalu diperbaiki sisi buruknya. Mari berubah dan berjalan untuk tujuan yang lebih berwarna. Guna memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”