Pada suatu hari Desa Plaugeran mengadakan Festival Panen setiap tanggal 13 Januari. Festival ini mengajak seluruh petani di desa menyumbangkan sebagian panennya untuk dimasak dan dimakan bersama-sama. Pagi itu, Merry dan David membantu ayahnya meletakkan panen padinya kedalam gerobak untuk dibawa ke lapangan, tempat festival itu berlangsung.

“Semuanya 20 kantong, Ayah! Sudah kuletakkan di gerobak” kata David “Bagus nak, cepat bawa ke lapangan. Ibumu telah berada disana sejak dini hari tadi” “Baik Ayah” Jawab Merry.

Dalam perjalanan ke lapangan, mereka bertemu seorang nenek duduk diujung jembatan.

“Permisi nak…” kata nenek itu “Iya nenek, ada apa?” jawab Merry

“Bolehkah aku meminta sekantong beras milikmu? Aku belum makan sejak kemaren. Aku mohon, nak.” Pinta nenek itu dengan sedih

Advertisement

“Oh.. tentu saja nek, silahkan.”

“Terimakasih, nak. Kau baik sekali padaku.”

“Sama-sama. Sampai jumpa, nek” Kata Merry sambil berlalu.

Dalam perjalanan tiba-tiba telepon ayah bordering.

“Haloo..” kata Ayah

Ayah kemarilah bantu Ibu sekarang. Ibu tak bisa mengangkat air seberat ini” Pinta seorang perempuan di telepon yang ternyata Ibu Merry.

Ayahpun pergi ke lapangan mendahului Merry dan David untuk membantu ibu. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan melewati jembatan. Tiba-tiba, gerobak itu tak sengaja menabrak batu. Lantas, 3 kantong beras pun pecah dan hanyut di sungai.

“Oh Tidak! Ayah pasti marah, begitu banyak panen yang terbuang, Kak!” Kata David dengan cemas,

“Sudahlah, ayah pasti tahu kalau kita tak sengaja. Ayo biarkan saya, toh masih ada 16 Kantong kan? Lanjutkan perjalanan kita!” Jawab Merry menyemangati Adiknya.

Perjalanan yang jauh membuat mereka lelah dan beristirahat disebuah gubug kecil. Disana mereka tak sengaja terlelap. Tiba-tiba banyak burung yang menghinggapi kantong beras itu. Mereka pun memakan beras itu dengan cepat. Karena suara kicauan yang keras, Merry dan David terbangun.

”Hey pergi kalian!” teriak David

“Ya ampun, mengapa kita bisa seteledor ini David? Harusnya kita tak membiarkan kantong ini terbuka. Dua kantong beras habis dimakan burung sebanyak itu.” Kata Merry dengan lesu.

“Sudah, kak. Masih ada 14 kantong beras yang bisa kita bawa. Ayah pasti memaafkan kita.” Kata David menenangkan kakaknya. Merry pun hanya mengangguk lesu.

Mereka melanjutkan perjalanan dan mencoba tetap menjaga kantong beras itu. Mereka berjalan dengan muka lesu dan sedikit lemas. Walaupun mereka saling menenangkan satu sama lain, mereka tetap cemas jika mengecewakan Ayahnya.

“Kira-kira Ayah marah tidak ya dengan kita?” Tanya Merry

“Tidak kak, kita akan menjelaskan ini padanya. Kali ini benar-benar harus hati-hati. Tak ada lagi pencurian, bocor, dan keteledoran lainnya” Jawab David.

Mereka tak ingin mengecewakan Ayahnya. Dalam perjalanan yang jauh menuju lapangan ini, mereka tak pedulikan kelelahannya lagi. Mereka bertekat membawa 14 kantong beras ini kelapangan.

Setengah perjalanan, mereka bertemu dengan pengemis laki-laki yang sedang duduk bersama keluarganya. Pengemis itu melihat kantong berisi beras dengan tatapan ingin memilikinya.

Merry yang mengetahui hal itu pun berkata, “Apakah bapak menginginkan beras ini?” Tanya Merry “Oooo.. tentu saja nak. Saya kelaparan, nak.” Jawab laki-laki itu

“Kalau begitu silahkan ambil buat bapak dan keluarga”, kata David.

“Oh terimakasih nak. Saya akan ambil 1 nak”, Kata laki-laki itu.

“Baiklah ayo lanjutkan perjalanan dengan 13 kantong beras! Bapak, kami permisi dulu ya. Semoga beras ini bisa membantu kalian” kata David

“Terimakasih banyak nak. Kau anak yang baik” jawab laki-laki itu.

Akhirnya lapangan berada didepan mata mereka. Mereka pun menemui Ayah dan Ibu.

“Ayah, Ibu, maafkan kami…” kata David

“Ada apa nak? Apa yang salah?” Tanya Ibu

“Jadi kami mengambil 20 kantong beras untuk festival ini..” jawab David

“Lalu apa yang salah, Nak?” Tanya Ayah, Merry pun menceritakan semua yang terjadi.

“Tak apa-apa nak. Kau anak yang baik. Kalian anak yang baik. Kita akan merayakan Festival Panen ini dengan 13 kantong beras, karena ini tanggal 13 maka sangat berarti dan sama dengan panen yang kudapatkan” Jawab Ayah.

“Terimakasih Ayah!! Ayah benar sekalii…..” kata David dan Merry sambil memeluknya.

“Nah, kalian bantu ibu menyiapkan festival ini ya. Jangan mengecewakan yang lain.” Kata Ibu.

“Siap Ibu!” Kata David dan Merry sambil tersenyum bahagia.

Semenjak saat itu, David dan Merry selalu teringat angka 13 dan menjadikannya sebagai angka penuh pelajaran. Karena pada tanggal 13 mereka menemukan pelajaran tentang mengasihi orang, menjaga amanat barang yang dibawa, serta membahagiakan orang lain. Setelah makanan yang mereka buat selesai, mereka pun memakannya dengan penduduk desa.

Artikel ini juga diterbitkan di: http://bobo.kidnesia.com/Bobo/B-Young-Journalist/Pengalamanku/Festival-Panen-13