Kehidupan masyarakat modern selalu identik dengan sesuatu yang praktis. Seperti tempat tinggal yang sekarang lebih banyak di apartemen karena fasilitas yang komplit, sarana transportasi yang bisa dijangkau secara online, informasi yang mudah diperoleh lewat gadget, hingga kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman kemasan.

Masyarakat modern memang gemar mengonsumsi makanan dan minuman kemasan. Pergi bekerja dan berangkat sekolah di waktu yang sangat pagi untuk menghindari macet, membuat mereka tak sempat menyiapkan makanan dan minuman sendiri. Selain itu, waktu senggang yang sedikit diantara kesibukan kerja membuat mereka harus pandai mengakali waktu untuk menyempatkan makan dan minum. Maka makanan dan minuman kemasan adalah salah satu pilihan mereka. Selain itu, makanan dan minuman kemasan juga menjadi hal penting yang harus dibawa saat mayarakat modern ini melakukan hobinya, travelling.

Advertisement

Berbicara mengenai kebiasaan masyarakat modern yang gemar mengonsumsi makanan dan minuman kemasan, tentu tak akan lepas dari masalah sampah yang ditimbulkan dari plastik kemasan tersebut. Kemasan makanan dan minuman yang dibuang turut memiliki andil dalam menambah produktivitas sampah plastik. Sampah plastik dari kemasan makanan dan minuman ini seiring berjalannya waktu semakin meningkat pesat dalam jumlah yang banyak.

Saat ini Indonesia berada pada peringkat dua dunia dalam menghasilkan sampah plastik. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia menghasilkan sampah plastik sebanyak 64 juta ton/tahun, dan 3,2 juta ton diantaranya dibuang ke laut. Per tahunnya kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik. (megapolitan.kompas.com)

Dilihat banyaknya jumlah sampah yang dihasilkan oleh masyarakat tentu akan berpengaruh pada lingkungan. Sampah plastik yang menggunung menyebabkan zat-zat kimia yang terkandung didalamnya meracuni tanah dan air yang ada di lingkungan sekitar. Serta sifat plastik yang tidak mudah terurai membuat sampah plastik susah untuk dikendalikan. Plastik membutuhkan waktu selama 500 sampai 1000 tahun lamanya untuk dapat terurai.

Advertisement

Dengan waktu penguraian yang selama itu, dan kebiasaan masyarakat yang selalu membuang sampah plastik dalam jumlah yang banyak, tentu akan membuat ketimpangan antara pembuangan dan penguraiannya. Sampah plastik akan terus bertambah dan menumpuk saat sampah plastik masih banyak yang belum sempat terurai. Jika hal ini terus berlangsung tidak mustahil jika nantinya setiap jengkal di bumi akan penuh dengan sampah plastik.

Masalah-masalah yang ditimbulkan dari sampah plastik ini pun kini sudah mulai bisa dirasakan. Bisa dilihat sekarang ini kualitas tanah dan air yang menjadi kurang bermutu karena terpapar zat kimia dari plastik. Bencana banjir yang sering terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta juga tak luput dari permasalahan sampah plastik. Salah satu penyebab terjadinya banjir di Jakarta adalah tersumbatnya saluran air akibat sampah, dan sampah yang menyumbat di dominasi oleh sampah plastik.

Bukan hanya manusia yang merasakan masalah yang timbul akibat sampah plastik ini. Namun, hewan-hewan juga turut merasakan. Seperti kasus yang terjadi di Pulau Wakatobi, Sulawesi Tenggara, ditemukan bangkai paus dalam keadaan yang sudah membusuk. Paus tersebut mati akibat memakan sampah plastik yang tersebar di laut. Saat dibedah, dalam perutnya berisi 5,9 kg sampah plastik. Sampah plastik yang ada dalam perut paus tersebut berupa gelas plastik, plastik keras, botol plastik, kantong plastik, karung nilon, dan tali rafia.

Setelah di pulau Wakatobi, terjadi pula kasus yang serupa di Filipina pada 15 Maret 2019. Ditemukan bangkai paus yang mati terdampar dengan perut penuh dengan sampah plastik. Tak tanggung-tanggung, sampah plastik yang ada dalam perutnya ada sebanyak 40 kg. 40 kg sampah plastik tersebut terdiri dari 16 karung beras, 4 plastik perkebunan pisang dan beberapa tas belanja.

Melihat fenomena yang memprihatinkan seperti ini masyarakat modern harus mulai merubah kebiasaannya dalam ‘mengonsumsi plastik’. Lakukan tindakan kecil seperti mengurangi kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman kemasan. Sempatkan diri untuk membuat bekal dan menyiapkan air minum dalam botol saat hendak bekerja atau travelling. Jika mamang terpaksa harus membeli makanan dan minuman kemasan, daur ulang kemasannya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Selain itu, masyarakat modern adalah masyarakat yang dekat dengan gadget, internet, dan media sosial. Mereka bisa manfaatkan hal tersebut untuk membuat ajakan mengurangi konsumsi plastik demi menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Memang dampaknya tidak akan dirasakan secara instan, namum jika setiap orang mau merubah kebiasaan menjadi lebih baik, perlahan tapi pasti keadaan lingkungan akan membaik. Walau perlu waktu yang lama, namun itu lebih baik daripada tidak berubah sama sekali.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya