Sore itu gerimis menjadi tirai pertemuan kita. Di tempat dimana aku dan kamu pertama kali dipertemukan. Tiada resah juga gelisah, kita duduk dimeja yang sama dengan cangkir masing-masing di jari kita. Katamu semalam, hari ini akan menjadi sore dimana aku dan kamu berbagi cerita dan janji.

Sempat dibuat bingung dengan maksudmu semalam, tapi aku mencoba memahami apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan. Hingga sore itu aku dan kamu bertemu. Beberapa menit awal kita hanya saling melempar senyum dan saling menatap selagi mulai menyesap sedikit demi sedikit cappuccino milik kita masing-masing. Tak biasanya kita bertemu dengan suasana yang begitu tenang tanpa gurau dan kecerewetan kita masing-masing.

Advertisement


Kamu: Ternyata kamu cantik ya kalo aku perhatiin.

Aku: Situ sehat?

Kamu: (ketawa)

Advertisement

Aku: Kamu gak habis ngelakuin kesalahan kan?

Kamu: Enggalah. Cuman kamu ini yang selalu keliatan dimataku.

Aku: Kumat.


Saat itu sebenarnya aku sedang menjaga kedua pipiku tidak memerah dan salah tingkah karena perkataanmu. Bisa aku hitung berapa kali kamu mengatakan aku cantik. Pertama, saat ada kedua tepung hasil keisengan teman-teman kita saat aku ulang tahun. Kedua, saat aku selesai berolahraga dan aku yakin saat itu wajahku kusam bulukan. Ketiga, saat aku dan kamu pulang dari beribadah dan kita kehujanan.

Dan keempat, hari itu dimana aku untuk pertama kalinya dalam keadaan yang cukup baik aku rasa. Jika perempuan lain yang hanya mendapatkan empat kali kata 'cantik' dari kekasihnya setelah sekian tahun bersama mungkin kamu akan dimaki-maki. Tapi ntah, aku rasa kamu benar sayang denganku meski hanya empat kali memujiku.


Biar saja orang mengatakan aku ke-PD-an meski hanya empat kali kamu puji aku cantik.


Hari itu tidak banyak masa depan yang aku dan kamu bicarakan seperti pertemuan sebelum-sebelumnya. Ntah mengapa cerita dimasa lalu seperti pertama kali bertemu hingga akhirnya kita sampai ada meja berdua sore itu menjadi topik yang begitu menarik untuk kembali kita ulang dan bicarakan.

Lebih kocak lagi saat kita mencoba mengingat bagaimana saat-saat lebay hubungan aku dan kamu, seringkali kamu lebih fokus berselingkuh dengan video game sedangkan aku yang sering ngambek saat itu selalu memilih mematikan hp ku dan pergi ke rumah kakakku tanpa mengabarimu kemudian membuatmu panik saat sadar aku dan kamu tidak pulang dengan motor yang sama.


Hari itu aku dan kamu banyak mengenangsaat-saat memalukan hingga mengharukan yang pernah terjadi.


Senang kamu masih mengingat masa-masa yang pernah kita lewati bersama meski kamu tak pernah ingat kapan tepatnya kita jadian. Aku tak mempermasalahkan itu. Karena dengan kamu ada dan setia hingga saat ini saja sudah menjadi sukacita tersendiri bagiku. Pembicaraan kita terjeda karena pesanan makanan yang sudah kita pesan.

Hari itu kamu memesan nasi goreng spesial (menu terfavorit) dan aku memesan omelet (alibinya lagi diet). Sesekali disela makan kita kembali bertukar cerita bagaimana teman kita yang ini selalu bertingkah kocak dan teman yang itu selalu menjadi yang tertindas (jahat sih tapi seru bahasnya). Banyak hal yang kita bicarakan dan aku sadar bahwa tak pernah bosan untuk mendengar suaramu.


Kamu: Aku sayang kamu.

Aku: Aku juga.

Kamu: Tapi aku lebih sayang kamu.

Aku: Kenapa gitu?

Kamu: Karena itu kamu.

Aku: Kumatkan selalu gak jelas.

Kamu: (Ketawa)

Kamu harus selalu bahagia.

Aku: Makanya jangan bikin hal aneh-aneh yang bikin jengkel.

Kamu: Kan sesekali.

Aku: Sesekali tapi tiap hari.

Kamu: Aku janji hari ini bikin kamu bahagia kok.

Aku: Ya jangan hari ini aja, tapi tiap hari.

Kamu: Love you till the end.


Kalau kamu tahu saat itu aku tak memiliki firasat apapun. Aku terlalu menikmati kebersamaan denganmu dan terlalu bahagia karena hari itu meski masih sejail biasanya tapi kamu membuat berbeda suasana pertemuan kita. Kamu mendadak jadi raja gombal, tukang muji, kalimatnya manis mulu sampe aku ngeri kalo pulangnya jadi diabetes.

Kalau ditanya kapan malam paling baik dalam hidupku maka aku dengan tegas akan menjawab bahwa malam itu saat banyak hal manis yang kamu lakukan adalah malam terbaik dari sepanjang kita bersama-sama menjadi sepasang kekasih. Menjelang tengah malam kita memilih untuk pulang karena katamu tak ingin kejadian beberapa tahun lalu terjadi dimana jam pertemuan kita dipotong oleh ayah karena pukul 1 pagi gadis kecilnya baru diantar pulang.

Aku selalu ketawa ketika mengingat ekspresimu saat itu, wajahmu lebih kusut dibanding saat dihukum oleh guru fisika kita. Rasanya aku tak ingin mengakhiri acara jalan-jalan dan nongkrong kita malam itu, banyak hal perihal masa depan yang belum kita berdua bicarakan. Padahal dipertemuan-pertemuan sebelumnya kita selalu menghayalkan masa depan seperti apa yang akan aku dan kamu jalani nantinya.


Rupanya malam yang indah itu hanya narasi untuk menghantarku pada kepedihan.


Senyuman, pujian, tawa, keisengan, cerita, janji dan kebersamaan hari itu adalah penutup dari kisah kita. Kamu tidak benar-benar menepati seluruh janjimu meski untuk janji mencintaiku hingga akhir benar-benar kamu lakukan. Tapi mendapatkan kenyataan bahwa hari-hari berikutnya aku tak lagi bisa mendengar tawamu dan menatap mata teduhmu rasanya sakit.

Sedari lama aku ingatkan untuk berhenti menanggapi dan terlalu baik dengan mereka, tapi kamu hanya tersenyum dan selalu mengatakan ada kesempatan untuk mereka berubah. Nyatanya mereka hanya memanfaatkan kebaikanmu saja.


Jadi hari di sore sebelum kita bertemu kamu telah menyadari hari akhir ini?


Ingin rasanya aku memukul kepalamu untuk menyadarkan bahwa mereka tak sebaik yang kamu bayangkan. Kemana mereka saat malam itu kamu bertaruh nyawa demi membela mereka? Seberapa sadar mereka jika sudah sering membuatmu selalu dalam kesulitan? Sekarang siapa yang terluka karena kepergianmu? Bukan hanya aku, tapi keluarga kita, teman-teman kita dan semua kenalan kita. Aku sadar dengan kenakalanmu dulu tapi aku tak percaya kamu hingga senekat itu.


Aku marah tapi juga rindu.


Siapa nanti yang akan menarik ikat rambutku? Siapa nanti yang tiap pagi selalu spam di hpku? Siapa nanti yang bakal nemenin aku berburu buku? Siapa nanti yang bakal aku jambak rambutnya kalo lagi kesel? Gak ada lagi kan? Rasa-rasanya harapan dan mimpiku lenyap seketika. Malam terbaik dalam hidupnya nyatanya lenyap tertimbun pagi yang menyakitkan. Hpku hari kemarin dan hari ini mendadak jadi sepi, bekal pagi di rumah juga gak ada yang makan. Aku harus gimana sekarang?


Aku sakit.


Aku kesal karena tak juga bisa meneteskan air mata padahal dadaku sesak dan tenggorokanku sakit. Kakiku gemetar melangkah dipelataran rumahmu, bahkan beberapa mereka yang datang memberikan tatapan yang tak aku sukai. Mereka melihatku seakan-akan aku terkena penyakit keras, mungkin mereka hanya kaget karena aku datang ke rumahmu terihat pucat.

Aku lupa membuat alis dan memakai lipstik, tapi gak apa sesekali aku ingin terlihat natural di depanmu. Saat aku masuk, kamu diantara bunda dan ayah. Mereka meneteskan air mata begitu juga dengan abangmu, aku bisa melihat tatapan terluka dan amarah itu.


Kamu tersenyum?


Kenapa kamu tersenyum? Kamu gak kesakitan ya? Padahal aku bisa melihat beberapa memar diwajahmu. Pengennya aku obatin tapi sepertinya itu akan membaik sendiri. Jari-jarimu juga dingin tak sehangat biasanya begitu pun kulit dan bibirmu. Kamu jangan-jangan udah lelah ya nanggepin aku yang cerewet ini?


Rasanya aku tak ingin percaya.


Banyak yang hilang rasanya setelah malam terbaik itu. Kalau kamu bilang saat itu setidaknya aku bisa mempersiapkan diri sehingga aku akan berusaha bersiap meski pasti tetep engga siap. Tapi aku mau berusaha buat kamu. Tapi rupanya kamu terlalu pandai menyembunyikan rencana dan maumu.

Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya apa yang bakal aku lakuin selanjutnya, karena aku gak yakin bisa berjalan tegar seperti biasanya. Ada yang gak pas rasa-rasanya, rasanya dingin dan sakit. Aku kebingungan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya