Hari Gizi Nasional 2022: Mengenal Stunting dan Cara Mencegahnya

Proses tumbuh dan berkembang pada anak selalu menjadi topik yang penting dan menarik untuk dibicarakan, apalagi bagi para orang tua di luar sana. Setiap anak selalu memiliki proses tumbuh dan berkembangnya masing-masing, yang mana antara anak satu dengan yang lainnya tidaklah sama.

Advertisement

Dalam proses pertumbuhannya, masih banyak orang tua di luar sana yang hanya memperhatikan berat badan anaknya dan kurang peduli tentang tinggi badan anak mereka. Padahal tinggi badan anak adalah salah satu cara mudah untuk mengidentifikasi kasus stunting pada anak.

Salah satu tema yang diusung dalam memperingati hari gizi nasional pada 25 Januari 2022 kemarin adalah ‘Aksi Bersama Mencegah Stunting’. Pemilihan tema tersebut bertujuan untuk meningkatkan kembali kesadaran masyarakat Indonesia tentang darurat stunting yang masih tinggi di negeri ini.

Lalu, apa sih itu stunting? Apa yang menyebabkan stunting pada anak? Hal apa yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya?

Advertisement

Stunting merupakan salah satu kondisi proses pertumbuhan tinggi anak yang kurang, jika dibandingkan dengan umur atau teman seusianya. Lebih mudahnya stunting merupakan gangguan proses tumbuh pada anak yang menyebabkan anak tersebut memiliki tubuh yang lebih pendek dibandingkan dengan anak lain yang seusianya. Tapi perlu diingat tidak semua anak yang bertubuh pendek adalah anak stunting, karena ada banyak faktor lain yang mempengaruhinya, misalnya faktor genetik. Oleh karena itu perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengatakan bahwa anak tersebut merupakan anak stunting atau tidak.

Gagal tumbuh kembang pada anak stunting, salah satunya disebabkan oleh kekurangan gizi baik saat hamil atau pun saat sudah lahir. Asupan ibu saat hamil merupakan hal penting yang menentukan terjadinya stunting pada anak. Hal tersebut disebabkan karena jika ibu hamil kurang mengkonsumsi makanan atau minuman yang bergizi dan berkualitas maka nutrisi yang akan diterima janin juga akan kurang atau terlalu sedikit.

Advertisement

Selain karena kurangnya nutrisi pada saat di kandungan, makanan balita di bawah 2 tahun yang kurang bernutrisi juga merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan stunting. Contohnya, kurangnya asi eksklusif yang sesuai porsi dan MPASI (makanan pendamping ASI) yang kurang berkualitas atau kurang memperhatikan gizinya. Kurangnya asupan-asupan tersebut lah yang menyebabkan anak kekurangan nutrisi dan tidak dapat tumbuh dengan maksimal atau normal. Untuk itu ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting pada anak ketika masih di kandungan dan juga saat sudah lahir.

Cara pertama, dengan memperhatikan nutrisi pada ibu bayi saat hamil. Nurtisi dari ibu untuk janin di dalam kandungan merupakan hal yang sangat penting. Jika ibu hamil tidak mengkonsumsi makanan sehat, berkualitas, dan bergizi yang cukup maka bayi yang ada di dalam kandungannya akan kekurangan nutrisi. Kekurangan nutrisi itu pun akan berpengaruh terhadap bayi, terutama terhadap proses tumbuh dan berkembangnya. Oleh karena iu, ibu hamil harus memperhatikan makanan yang dikonsumsinya dan sangat disarankan untuk memiliki pola hidup yang sehat.

Cara kedua, dengan memberikan makanan yang bergizi dan membantu pertumbuhannya. Kasus stunting umumnya terjadi karena kurangnya asupan bernutrisi pada pada 1.000 hari pertamanya atau sampai usia 2 tahun. balita yang tidak mendapatkan gizi yang cukup pada rentang tercukup sangat rentan terkena stunting. Oleh karena itu sebagai orang tua Anda harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh makanan anda dan anak Anda. Makanan Ibu akan berpengaruh pada kualitas ASI yang akan dikonsumsi si anak, sehingga sang ibu masih perlu menjaga makanannya.

Jika si anak sudah memasuki fase makan, pastikan anda memberikan MPASI yang cukup berkualitas, bergizi, dan tentunya banyak mengandung protein. Karena anak di atas usia 6 bulan butuh mengonsumsi protein yang cukup untuk membantu proses tumbuh dan berkembangnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa angkatan 2019 Universitas Negeri Surabaya