Maka Nikmat Tuhan Manakah Yang Kamu Dustakan ?

Banyak sekali dari kita yang menginginkan harta yang banyak serta kehidupan yang megah/mewah, punya kendaraan yang mewah mewah, uang yang banyak sehingga bisa membeli apa saja yang kita inginkan. Dan tidak sedikit dari kita yang mengira hal demikian itu bisa membuat diri kita hidup bahagia dan senang. Lalu pertanyaannya adalah, apakah benar harta benda merupakan nikmat yang hakiki? Jawabannya tentu bukan, lalu apakah nikmat Allah Ta'ala yang hakiki? Berikut ini penjelasannya.

Nikmat Yang Abadi

Advertisement

Dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,”Nikmat itu ada dua, yaitu nikmat muthlaqoh (mutlak) dan nikmat muqoyyadah (nisbi). Nikmat muthlaqoh ialah nikmat yang mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, yakni nikmat Islam dan Sunnah. Nikmat inilah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk memintanya dalam doa-doa kita, agar Allah menunjukkan kepada kita jalan orang-orang yang Allah karuniakan nikmat itu padanya.” [Lihat Ijtima’ Al-Juyuus Al-Islamiyyah, hal 5.]

Dan dari keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah diatas sudah sangat jelas bahwasannya nikmat Allah yang hakiki/kekal adalah ketika Allah Azza Wa Jalla memberikan hidayah pada seseorang untuk mengenal islam dan sunnah Rosulullah Shallallahu'alaihi Wasallam serta mengamalkan keduanya dengan istiqomah.

Dengan hidayah yang Allah Ta'ala berikan, kita bisa mengenal Tauhid serta dapat mengamalkannya dan juga kita bisa menghindari lawan dari Tauhid yakni Syirik yang merupakan dosa terbesar dalam islam, dan juga kita bisa mengenal akan sunnah-sunnah Rosulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dan mengikutinya serta mengenal lawan dari sunnah yakni bid'ah dan menghindarinya.

Advertisement

Dengan nikmat yang Allah Ta'ala berikan ini, niscaya hati kita akan selalu merasa bahagia walaupun banyak cobaan yang datang, dan percayalah bahwasannya orang yang dicintai oleh Allah Ta'ala maka akan selalu dipermudah segala urusan dunia dan akhiratnya. Orang-orang yang mendapatkan nikmat itu pasti setiap hari memohon agar selalu diberikan petunjuk, terbukti dengan menegakkan sholat yang wajib, maka seseorang akan meminta sebanyak 17 kali dalam sehari semalam dalam sebuah kalimat suci,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yakni) jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka” (QS. Al Fatihah ayat 6-7).

Dari sini sudah sangat jelas bahwasannya nikmat yang hakiki bukanlah harta benda, namun nikmat yang sebenarnya adalah nikmat iman serta hidayah yang dimiliki oleh seseorang. Dan dengan nikmat tersebut maka tidak ada yang mengahalanginya untuk masuk ke dalam surga dengan segala kemewahan yang ada di dalamnya.

Dan disebutkan berkali kali dalam surat Ar Rahman kalimat berikut :

فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"[Q.S Ar-Rahman]

Jadi, mari buka pemikiran kita bahwasannya bukan hanya harta benda yang bisa membahagiakan seseorang, bahkan harta benda itu tidak ada apa apanya dibandingkan nikmat iman dan hidayah. Namun, hal ini jangan dijadikan alasan bagi kita untuk malas bekerja sehingga kita menjadi orang yang lemah secara ekonomi. Karena kefakiran merupakan hal yang dekat dengan kekufuran, dan kekufuruan sangat dekat dengan kekafiran.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya