Today only happens once in a lifetime, Make the most of it

Michael Ray


Advertisement

Pagi itu London terasa sangat dingin, pengukur suhu di dinding kamar kami menunjukan angka 3 derajat celcius, saya berjalan dengan semangat ke toko kopi kecil di pojokan Milk Street. Jangan tanya saya mengapa jalan ini dinamakan Jalan Susu, mungkin dahulu disini banyak pedagang susu, yang saya tahu jalan diseberang dinamakan Bread Street, cocok sekali bukan. Mungkin dahulu daerah ini adalah pusat sarapan para Londoners.

Bukan tanpa alasan pagi ini saya bersemangat menembus angin kota London, hari ini salah satu bucket list saya akan terpenuhi, yaitu menonton tim sepakbola favorit saya, The Blues, Chelsea langsung di kandangnya yang sakral, Stamford Bridge. Saya merapatkan jaket north face biru yang saya kenakan dan berjalan cepat cepat guna menghindari angin yang dinginya menusuk tulang.

Advertisement

Kota ini selalu berhasil membuat saya merasa sentimentil, London itu romantis dengan caranya sendiri. London jauh dari kesan romansa berlebihan ala film-film Hollywood maupun romantisme gothik ala Paris. London menghadirkan romantisme dengan gereja dan istana megah bergaya victorian dan tradisi kerajaan yang mereka pegang teguh. Di kota ini perpaduan tua dan muda terasa pas, tidak jauh dari tempat tinggal kami ada St Paul Cathedral, sebuah gereja yang menurut saya cantik dan berdampingan dengan manis di sebelah London Stock Exchange.

Untuk bisa menonton pertandingan Chelsea secara langsung tentunya kita harus memiliki tiket pertandinganya, cara terbaik untuk penonton pendatang seperti saya adalah dengan membeli tiketnya di awal musim. Berhati hatilah karena tiket untuk tim-tim besar cenderung cepat habis, saya beruntung ada teman di London yang berbaik hati membelikan tiket untuk saya beberapa bulan lalu.

Jangan heran bila menemukan "calo" tiket di internet harganya dapat melambung sampai 5 kali lipat. Pilihan lainya jika kamu ingin tetap menonton tim impianmu tapi sulit mendapatkan tiket adalah carilah saat mereka sedang menjalani laga tandang dengan tim gurem, teringat cerita teman saya seorang fans the blues yang bela belain menonton Chelsea di Fratton Park,kandang Portsmouth.

Segelas latte khas London yang agak tawar untuk lidah pecinta kopi toraja seperti saya ditemani Quiche daging yang lembut menemani saya mengawali pagi itu. saya beranjak berjalan kaki ke St Paul Station yang berada disebelah gereja St paul untuk menaiki Tube ke Fulham Broadway , tempat di mana kandang si Singa London berada. saat matchday seperti ini suasana meriah mulai terasa seiring kereta berada semakin dekat dengan Stamford Bridge, sedikit demi sedikit kereta mulai penuh,bahkan rasanya mirip KRL Bogor pada jam sibuk, penuh sesak, tetapi bedanya di sini semua menggunakan atribut biru khas Chelsea.

Turun di Fulham Broadway atmosfir kian meriah,di setiap sudut kita dapat mendengar yel-yel dan teriakan supporter. Dan yang paling saya suka adalah karena jalanan ditutup,maka gerombolan massa dengan jumlah besar ini nampak seperti sebuah long march berwarna biru yang berjalan dengan tertib ke Stamford Bridge. Lagu "Blue is The Colour" dinyanyikan dengan lantang dan bersemangat layaknya lagu perjuangan. atmosfir ini yang tidak bisa kita rasakan kalau menonton bola di televisi.

Saat memasuki stadion Stamford Bridge adalaha saat yang tidak akan kamu lupakan seumur hidup,sebagai seorang fans Chelsea sejati saya merasa merinding. Sebelum pertandingan dimulai disaat seluruh penonton kembali menyanyikan "Blue is the colour" seluruh stadion rasanya bergemuruh. air mata hampir menetes sangkin saya merasa terharu bisa berada di sini. Tetapi ternyata tidak hanya saya, teman saya yang kebetulan ikut menonton, yang kebetulan bukan penggemar Chelsea, ternyata ikut merasakan aura magis yang sama saat mendengar lagu itu dikumandangkan di Stamford Bridge.

Ketertiban memang adalah hal yang luar biasa disini,jarak antara penonton dan pemain sebenarnya tidak terlalu jauh,bahkan penonton paling depan harus siap siap terkena bola tendangan nyasar, tapi itu justru yang membuat atmosfer pertandingan terasa dekat dan akrab. Saya teringat pernah menonton pertandingan Tim nasional Indoensia di Gelora Bung Karno, karena jarak yang teramat jauh terkadang saat gol tercipta kita tidak dapat melihat siapa pemain yang mencetak gol tersebut.

Di stadion ini suasana nya akrab dan nyaman,semua tempat duduk teratur sesuai nomor sehingga kita tidak perlu takut tidak dapat tempat. Oh ya, penonton juga dilarang berdiri,jadi penonton bertubuh Asia (Kecil) tidak perlu khawatir terhalang penonton di depanya.

Hal menarik lainya adalah, di Inggris sepakbola sudah dikemas menjadi sebuah sajian hiburan dan bisnis yang sangat menarik. Di stadion biasanya kita juga akan menemukan souvenir shop dan musium mengenai klub bola kesayangan kita. bahkan pada saat terteatu kitda dapat mengikuti tur untuk masuk kedalam ruangan ruangan didalam stadium, termasuk tentunya ruang ganti mereka. So, sebagai seorang pecinta sepak bola sejati, Chelsea khususnya, saya sarankan kalian mencoba merasakan sendiri atmosfir menonton langsung pertandingan mereka di Stamford Bridge.

Yakinlah,itu akan jadi pengalaman tidak terlupakan,sekali seumur hidupmu.

Salam dari London,

#AyoKeUK #WTGB #OMGB

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya