Sosok tak lagi menjadi penting,

Sekelebat bayangan tak lagi menjadi asyik,

Senyum yang manis, tawa yang renyah, rona muka yang cemerlang tak lagi menjadi keindahan dunia,

Kesalahpahaman yang manis, saling bertepuk tangan, menepuk pundak tak lagi menjadi keseruan dunia,

Titik.

Advertisement

Terlalu banyak yang berubah, jaman yang berubah, pola pikir yang berubah dan kamu yang berubah, mahkluk sosialis yang berubah menjadi individualistik.

Handphone membuatmu selalu mengatakan, "ngomong apa tadi?", "iya iya", "eh apaan, gue gak denger", "sebentar, bales sms dulu"

-Padahal ketika itu aku sedang menyampaikan curhatku padamu

Headphone membuatmu selalu mengisyaratkan, "pergilah, jangan ganggu gue", "gue ingin sendiri"

-Padahal ketika itu aku sedang membutuhkan teman

Aplikasi chat membuatmu selalu mengatakan, "disambung lewat aplikasi chat", "udah sih chat aja", "ngobrolnya ntar aja lewat chat", "buat grup aja"

-Padahal tak segalanya bisa dibicarakan lewat aplikasi chatting

Aplikasi kamera membuatmu selalu mengatakan, "bentar foto dulu", "kapan lagi yang begini"

Aplikasi pamer foto membuatmu selalu mengatakan, "bentar cari sinyal", "bentar posting ini dulu", "minjem hape buat posting"

-Aku hanya butuh kamu memahami apa yang sedang kita alami, kita jalani tanpa terimprovisasi oleh hal-hal remeh seperti itu, aku tidak butuh komentar dari orang-orang lain mengenai apa yang kita lakukan dan kerjakan

Adanya internet membuatmu selalu mengatakan, "bentar gue googling dulu", "tanya mbah google aja", "udah sih tenang aja ada mbah google"

-Padahal aku tahu jawabannya atau setidaknya kita saling mencari lewat buku pelajaran

Adanya media sosial membuatmu selalu memposting apapun yang kamu alami, apapun yang membuatku mengatakan ini temanku atau bukan

-Padahal ada aku disini yang bisa menjadi ember curhatmu

Kita jadi hanya sebatas berbicara ketika saling bertatapan, sisanya aku dan kamu adalah asing. Yang kamu butuhkan hanyalah nomor atau pin, follow instagram atau path, join ask.fm atau kaskus, add FB atau follow twitter. Kita saling tahu keadaan bukan karena kita saling menganggap teman yang perlu tahu keadaan masing-masing tapi karena update BBM-anmu, Instagrammu, Pathmu, Facebookmu, Twittermu.

Jadilah ketika tahu keadaanmu aku bukannya menghubungimu tapi menanyakan lewat komentar pada media sosial.

Lagi-lagi ketika bertatap pandang kita kembali menjadi asing, kelu dalam berbicara, lancar dalam mengetik. Segala perasaan yang tak tercurahkan, semua lebur menjadi satu dalam media sosial.

Yang tak kenal menjadi kenal namun tak saling mengisi, tak saling memberikan dorongan, tak saling memeluk untuk merasakan kehangatan sebagai kaum sosialis

Yang kenal menjadi tak kenal tak lagi saling mengisi, mengibarkan dunia hanya milik sendiri, milik aku dan duniaku dan kamu bukanlah siapa-siapa didalamnya, kita pun berubah menjadi dingin dan berbicara sebatasnya, kelu dalam berbincang, sulit menemukan emosi yang terkandung karena dimedia sosial sudah ada emoticon yang menampilkan apa yang perlu kita tampilkan.

Persahabatan yang kita emban sedari kecil tergerus jaman, pertemuan hanya untuk formalitas bahwa kita punya teman dunia nyata, sisanya adalah kepalsuan.

Foto-foto yang kita sharing hanya sekedar menegaskan bahwa kita terkadang bertemu dan jalan berdua, sudah tidak ada lagi rasa itu. Rasa saling memiliki. Ketika handphone tak lagi semurah sekarang, kita saling mengunjungi atau bertukar suara lewat warung telepon terdekat.

Ketika kita belum kenal googling kita rela mengunjungi guru untuk menimba ilmu lebih dalam, ke perpustakaan demi membaca buku yang terkadang tak ada jawaban yang kita ingini dan pada akhirnya berguna untuk pelajaran yang lain, kita rela belajar sampai malam agar mengerti. Kita tidak belajar untuk menuliskan apa yang tertulis di pencarian, kita belajar untuk menulis apa yang kita ketahui dan dengar.

Kawan,

Haruskah kita jadi jauh?

Yang aku butuhkan hanyalah,

Ketika kita sedang bertemu, letakkan handphonemu, silent, mari kita habiskan waktu bersama dalam canda tawa dan kenangan masa lalu yang indah

Ketika kita sedang bertemu atau kamu berada ditempat umum, singkirkan headphonemu, mari kita habiskan waktu untuk melihat keadaan sekitar yang telah berubah dan merindui keadaan yang dulu

Ketika kita sedang bertemu, jauhi dulu kameramu dan aplikasi pamer foto, karena kenangan itu lebih indah tersimpan dalam hati yang tak pernah lekang

Ketika googling pada akhirnya membuatmu pintar sebentar, mari rendahkan diri dan kita saling menggali info yang tidak pernah kita ketahui dari teman kita

Ketika kita sedang berkumpul, log out dari media sosialmu karena disini teman nyatamu lebih asik daripada media sosialmu.

Kawan,

jangan jadikan persahabatan ini sekejap ada, kenyataan dilumuti. Biarkan ini abadi seperti kamu yang rindu main tak jongkok atau tak umpet.