Kita belajar berjalan untuk berlari,

Jatuh berkali-berkali dan berdarah,

Advertisement

Kemudian mati bunuh diri

Waktu adalah imainasi kita berdua. Setahun lalu saat kulihat wajahmu menghiasi atmosfir di kedai kopi malam itu, aku tau, semua ini akan terjadi. Cepat atau lambat. Tanpa atau dengan tangan Tuhan. Bisa saja engkau tak sengaja terjatuh didepanku atau menabrakkan diri ke tubuhku, ku tunggu.. Dan tak pernah terjadi. Biar aku yang ciptakan takdir, mungkin Tuhan enggan membawa kita bersama dalam satu kereta, mungkin pikirnya kita terlalu egois dan kurang sabar untuk kereta yang berjalan lebih lambat dibandingkan pesawat. Namun memang kesabaranku hanya sebatas ujung kuku. Jadilah ku kejar engkau lewat bintang jatuh yang melayang di depan rumah. “Aku minta ia datang tanpa bayang-bayang, tanpa kemunafikan, tanpa pertanyaan” dan Engkau disini.. dulu..

Advertisement

Sekarang,

Hati menghilang pelan-pelan. Katanya terbawa angin dari pantai selatan. Kemudian aku sadar bahwa hati adalah sekumpulan debu. Bisa hilang utuh, bisa hilang setengah. Aku mencoba menulis namamu, dan detik berikutnya hilang. Waktu masih sebuah imajinasi. Mungkin tak seharusnya aku memintamu datang lewat bintang jatuh. Mungkin aku salah. Ku coba mencari hujan di hutan lewat teguran orang di pinggir jalan. Katanya hujan menyamankan hati. Dingin dan sunyi. Memadatkan debu. Mungkin kelak bisa ku tulis lagi namamu tanpa takut angin datang. Mungkin kelak aku bisa mengenggam hatimu tanpa meghancurkan. Mungkin kelak aku bisa mengucapkan tidak bisa dan membiarkanmu pergi. Entahlah. Aku tak tau.

Sekarang,

Engkau pergi diam-diam lewat pintu belakang. Orang bilang kau takut tertangkap. Kau takut akan cinta yang kau berikan sudah terlalu banyak dan basi dan kau memutuskan pergi. Untuk apa tinggal bila pergi lebih memudahkan engkau untuk bersembunyi. Iya, aku paham sejujurnya, tak ada bilik kecil dihatiku hingga kau tak bisa menyembunyikan seluruh perasaanmu. Mungkin hatiku bukan rumah. Mungkin hatiku hanya tempat singgah tanpa atap. Sehingga saat hujan turun lebat, kau basah. Benar rupanya. Ku bawa kau dengan hujan, dingin dan sunyi menjadi rumahmu.

Esok,

Akan ku bangunkan atap setelah hatiku mampu untuk dipayungi lagi. Karna ia retak saat ini, sayang. Ia hampir rubuh namun pintu nya masih kuat dan terkunci. Esok, saat engkau tak ada lagi disini, ku berjanji atas langit yang berkuasa, akan ku bangun atap dan ruang. Semoga kelak seseorang yang lain akan tetap tinggal dan menyebutnya rumah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya