Yang sangat menarik dari menjalani hidup adalah kita menyadari seutuhnya apa yang kita rasakan. Apa yang kita pikirkan dan lakukan. Kita dianugerahi memori yang begitu lekat dan dapat diakses kapan saja. Dapat menjadi pribadi yang sinting, nggak penting, dan bikin pening, tapi tetap kita akan melepaskan tawa setelah semua itu terjadi.

Banyak yang bisa diceriterakan dari hidup. Bukan melulu tentang bagaimana merengkuh bahagia sepanjang hayat, tapi juga tentang sedih yang pedih dan membuat kita berjalan tertatih.

Kesempurnaan dalam hidup membuat kita semua menjadi manusia yang lebih luhur. Sayangnya, yang kita sebut dengan hidup sempurna adalah hidup bersama orang yang kita cintai lahir batin, menikmati materi tak bertepi, dan senantiasa berbagi. Saya tidak menyebut kalau konsepsi tentang hidup yang bahagia seperti itu adalah salah. Pengertian itu benar. Totally legit!

Kemudian, jika iya bahagia adalah lawan dari derita. Mengapa derita menjedai objek yang penuh nestapa? Bukankah tidak akan ada bahagia tanpa derita? Seperti halnya tidak akan ada terang tanpa gelap. Tidak ada siang jika malam tiada.

Hidup kadang memang bisa jadi (sangat) menyebalkan. Tapi yakinlah, hidup tidak pernah sepenuhnya gagal.

Rotasi yang dimainkan oleh hidup tidak mengizinkan kita untuk merengkuh bahagia seutuhnya. Akan curang sekali rasanya jika di dunia (yang fana) ini ada orang yang sepenuhnya bahagia. Yang hidupnya tanpa cela. Kering dari air mata.

Advertisement

Karena sebahagia apapun, tentu saja ada cerita derita yang menyapa. Derita yang berasal dari kegagalan. Yang membuat kita menafsirkan kegagalan sebagai kepayahan, ketidakberdayaan, dan kekalahan. Bertolak dari situ, hidup akan terasa sangat menyebalkan.

Hal yang sesungguhnya menyenangkan mendadak menjadi menyebalkan. Kegagalan yang mengubah cara pandang, cara pikir, dan cara respon. Padahal, mereka hadir untuk mengingatkan. Untuk mempertebal iman kita kepadaNya. Untuk membuat kita lebih tangguh. Untuk kemudian bisa mmbuat tangguh orang lain.

Tidak ada hidup yang sepenuhnya gagal. Sungguh tidak akan ada. Mekanisme kehidupan membuat setiap orang harus mengecap rasanya kegagalan. Miliaran manusia di dunia ini merasakan kegagalan. Dengan kadar dan cara yang berbeda. Lalu, saat sadar jikalau kegagalan memang ada untuk semua, bukan hanya untuk kita sendiri, apa yang membuat perasaan optimis itu perlahan raib? Sungguh tidak ada agama, logika, atau riset apapuh yang bisa membenarkan itu.

Tidak ada hidup yang sepenuhnya gagal. Sesendiri apapun kehidupan itu ada. Sedalam apapun kesedihan itu menancap. Sejauh apapun perasaan jengkel itu mengudara. Ia semua akan kembali, akan mengikuti alur rotasi yang Tuhan telah gambar untuk kita semua.

Adalah klise untuk mengundang kata "menunggu" ke dalam tulisan ini. Tapi saya rasa kita memang sebaiknya mengundangnya masuk. Membuatnya nyaman menjadi bagian dari hidup kita yang tiada pernah mulus. Menyandingkannya dengan optimisme dan ikhtiar untuk senantiasa melakukan perbuatan baik. Serta memastikannya selalu ada dengan energi yang sempurna.

Karena menunggu hanyalah soal waktu. Dan seperti kata Mas Einstein, waktu itu relatif.