Artikel merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Mengenalinya ketika berayun rasa dan menari dalam segala imajinasi . Semua yang tergambar dengan pensil ceritaku mengatakan bahwa kita hanya merasa tersakit karena mengenang segala kenangan masa-masa itu, tanpa melihatnya lebih dalam. Sampai kita bisa menemukan arti dan jawaban dari segala tanda tanya yang menyertainya. Ketika semua terlihat begitu indah karena aku bisa menerimamu dengan apa adanya, bahkan saat kamu tak ingin menjelaskan arti dari sebuah hubungan yang kita jalani tanpa ikatan, aku bisa mengerti dan rela untuk itu. Sampai aku mempertanyakan apakah cinta itu bodoh ataukah aku yang begitu terbodohi?

Dia adalah wanita dengan segala hal yang melekat tepat dalam segala bentuk dirinya. Tingginya rata-rata, wajahnya rata-rata, rambutnya rata-rata. Tidak perlu kesan lama membuat semesta menaikkan segala rata-rata yang selalu di tempatinya. Namun, pesonanya membuat jurang pemisah antara aku dengannya dan menjadikan sebuah sisi keangkuhan baginya karena aku hanya mampu melihatnya dari tempat yang terpisah jauh.

Waktu itu di tahun ajaran baru, hal yang sangat istimewa kita bisa berada di titik pencapaian tertinggi program pendidikan. Mengerti dengan segala nuansa kemahasiswaan dan terbebas dari segala jenis seragam yang mengkotakan kita layaknya anak SD yang didikte dengan doktrin dan literasi monoton dari para guru, dan kini kita mulai sesuatu yang sangat luar biasa. Bebas aktif dan melingkar dalam keteraturan organisasi. Dia, sampai aku melihatnya di sudut meja ujung depan paling kiri ruangan kelas kuliah ini. Cukup riyuh suasana perdana kuliah saat itu, yang menurutku semua orang memang tertuju kepadanya bukan dengan dosennya, dengan segala topik yang memang ditujukan kepadanya.

Aku melihat cukup banyak sudut kampus ini yang begitu menawan dan meneduhkan. Mulai dari area free wifinya, perpus yang rapi dan tenang, kantin yang bersih, dan sudut ruangan depan kelas yang diisi dengan sofa-sofa yang nyaman. Tapi entah kenapa aku sungguh begitu nyaman duduk di tangga jalan samping ruangan dosen ini. Mungkin karena tangga ini jarang dilewati para Mahasiswa untuk berlalu lalang sehingga lebih tenang. Sesaat aku mulai mendengarkan musik dari balik headsheat ku sembari membaca buku, tanpa kusadari dia melintas disamping ku di tangga jalan tempat aku duduk. Tanpa banyak bicara dia tiba-tiba berhenti dan hanya mengatakan “buku yang bagus ” setelah melihat judul dan sampul bukuku. Aku hanya terdiam dan senyum setuju dengannya.

Advertisement

Setelah pertemuan pertama itu kami sepertinya tidak banyak mengalamai kesulitan dan berkenalan mengenal masing-masing diantara kami. Kami berteman cukup baik dari mulai diskusi ringan berkaitan dengan materi kuliah kemudian makan siang bersama sampai dengan nonton di bioskop bersama. Walau aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi, sepertinya aku sangat menikmati semua momen ini. Bahkan selepas pulang kuliah kami sering menghabiskan waktu seharian hanya dengan berkunjung dari tempat satu ketemat lainnya.

Sampai pada suatu saat aku mulai termenung dan merasa bahwa sepertinya harus ada kepastian dari arti hubungan ini. Ketika pikiranku mulai disudutkan dengan pertanyaan yang membingungkan karena setelah dia mulai menggandeng tanganku di pusat perbelanjaan, mengajaku dan jalan ke pantai bersama, naik gunung bersama, nonton bioskop bersama, seperti memaksaku untuk memperjelas hubungan ini. Namun dia merasa bahwa semua ini adalah hanya hubungan teman saja.

Menurutnya dengan berteman kita lebih lepas dan tidak ada perasaan untuk menyakiti atau tersakiti. Namun aku sepertinya sudah tidak sanggup untuk setuju dengan sanggahannya. Apakah dia juga menyanggah perasaan jatuh cinta yang hadir dalam perasaannya sendiri. Ataukah dia memang benar-benar menginginkan hubungan tanpa status ini? Aku harus menghentikan semua ini dengan beraneka ragam kisah di dalamnya. Aku pikir ini tidak akan berjalan baik dan bukan pula hal yang baik.

Advertisement

Setelah itu aku tidak bisa menjalani hidupku menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Rasa lelah dan menderita sepertinya selalu menyelimuti segala perasaan pribadi atau pun untuk hal-hal lainnya. Cukup lama kami tidak melakukan komunikasi atau sekedar tegur sapa. Sepertinya kami sama-sama merasakan masa sulit dan berat untuk merasakan apa yang terjadi salama ini.

Dua bulan tepatnya kami tidak komunikasi, terkecuali dengan alasan kami harus bertemu di kampus untuk kuliah. Sampai akhirnya kami harus menghadiri sebuah acara ulang tahun salah satu teman, kami berdua masuk dalam daftar undangan. Sekuat tenaga aku menghindarinya, sampai akhirnya dia datang menghampiriku dan menanyakan kabarku.

Sungguh perasaan ini seperti bergemuruh antar suka sedih bahagia marah kecewa senang menjadi satu. Namun aku merasa di tempat ini dan suasana seperti ini tidak tepat mengedapankan emosi ku. Aku menyimak segala pembicaraannya menjadi pendengar yang baik layaknya teman lama yang tidak berjumpa. Kemudian dia ingin mengundangku hadir ke rumahnya karena akan sebentar lagi ada acara keluarga. Dengan perasaan cinta yang diselimuti rindu yang kesekian kalinya aku menerima undanganya.

Sampai hari itu tiba, aku dengan setelan jas kemeja coklatku dan sepatu kasualku datang ke rumahnya. Satu persatu aku mulai dikenalkan kepada keluarga dan kerabatnya. Setelah sekian lama kami berteman dan banyak berkisah, ini kali pertama aku berada di tempat dengan posisi seperti ini. Aku merasa semakin yakin semua akan menjadi lebih baik setelah masa suram dan kesendirianku.

Sampai akhirnya, saat dimana hadir seorang laki-laki dengan pakaian kemeja serba putih datang menghampirinya sembari mengegam tangannya. Dan tanpa kusadari aku melihat dengan mata kepalaku telah melingkar cincin indah di jari manisnya. Ya, ternyata ini acara pertunangannya. Dan apa yang sedang aku lakukan disini?

Tanpa banyak berkata kutinggalkan semua yang ada di sini dan segera melangkah keluar. Sepertinya ini tidak sesuai dengan yang kubayangkan. Aku hanya melihat gelap, aku tidak lagi melihat ada warna di depan mataku, sepertinya semua menjadi rata, tidak ada lagi gedung tinggi, tidak ada lagi jalan yang lebar, pohon-pohon tumbang dan lenyap entah kemana. Benar-benar tidak ada lagi hal yang bisa aku ingat tentang segala kisah manis kita, aku mulai membenci semua yang terjadi, aku benci nonton bioskop, aku benci dengan lagu kesukaannya dan aku sangat membeci segala hal apapun tentang dia. Aku sampai ketitik lebur dari segala yang pernah aku rasakan.

Satu bulan kemudian sejak kejadian saat itu aku pun tak melihatnya lagi di kelas atau di kampus, dia tidak melanjutkan lagi kuliah S1 nya tersebut, karena setelah menikah dia lebih memilih untuk mengurus rumah tangganya. Dan aku masih terpuruk di dalam waktu dan suasana ini sampai waktu yang tidak pernah aku tahu. Walau seperti ini aku tetap berangkat kuliah dan bertekad menyelesaikannya meski terseret-seret. Aku harus bertekad, dengan segala hal yang menghitamkan keadaanku, aku harus segera mengkahiri ini semua dan menyelesaikan S1 ku ini. Hari demi hari aku habiskan waktuku di perpustakan dan melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing.

Saat itu, dimana aku suka menikmati sudut ruang Jogjaku di kursi kayu yang melintang dengan panorama Tugu Jogja dan tepat di belakangku adalah kantor kedaulatan rakyat lengkap dengan armada jajanan angkringan yang melegenda, aku menghabiskan sore ku disini. Tak bisa kupingkiri ini adalah kursi ternyaman setiap aku datangi. Aku menjadikannya ini adalah tempat terindah di bumi dari sudut pandangku. Dari arah kiriku aku mendengar ada yang memanggilku, kemudian berjalan perlahan ragu mulai mendekatiku. Tak kusangka dia ada disana, ternyata dia mulai suka dengan tempat ini setelah aku pernah mengajaknya dan menceritakan kenapa aku menyukai tempat ini.

Seraya aku berkata dan mengucapkan selamat atas pernikahannya. Dia lantas duduk disampingku dan menjelaskan hal kenapa selama ini dia tiba-tiba menikah. Tak ada alasan lebih darinya, selain hanya mengikuti garisan nasib yang diperolehnya. Walau dia seperti mengutarakan bahwa dia juga sangat mencintaiku tapi dia tidak bisa mengharapkan aku lebih karena hal alasan pribadi dan keluarganya. Setelah dia mengucapkan bahwa “aku bersyukur melihat kamu baik-baik saja” kemudia dia pamit dan tersenyum lantas pergi meninggalkanku.

Kemudian hari-hari berlalu dan aku menggenggam kelulusan S1 ku. Sejenak aku mulai melepaskan bebanku. Tak ada satupun hal yang kebetulan di dunia ini. Sepertinya hidup adalah teka-teki dan kumpulan misteri. Kita hanya harus memantaskan diri menjadikannya penuh arti dan jangan pernah untuk memaksa takdir. Ku nikmati hidupku dengan karyaku ku nikmati sedihku dengan tangisku karena aku rasa begitulah hidup dan aku tak ingin menghakimi apa yang belum kita ketahui.