Ini dimulai dari tiga bulan lalu, saat saya berkenalan dengan seorang ikhwan di media sosial Facebook, yang awalnya hanya bertanya kabar, bertanya hal-hal sepele hingga saya merasa nyaman, janjian untuk ketemuan dan akhirnya kami berpacaran diam-diam.

Tiga bulan sebelum bertemu ikhwan ini, saya berniat hijrah untuk memperbaiki diri, namun tak kusangka setelah tiga bulan menjalani hubungan, saya kembali tersadarkan, hijrahku munafik. Dulu saya meninggalkan seseorang, karena tak ingin berpacaran lagi, tapi kenyataannya saya terjerumus dalam pacaran yang lebih parah. Jika dulu pacaran diumbar begitu bahagianya, tapi dengan ikhwan ini malah kami lakukan diam-diam. Seakan-akan Allah tidak melihat semuanya.

Advertisement

Niat awal saya, menjalin hubungan dengan ikhwan tersebut murni karena niat yang baik karena Allah, namun cara untuk meraihnya yang salah. Hingga saya terus berfikir, Ya Allah saya lelah berbuat dosa, dan akhirnya Allah mendengar doa saya.

Di suatu malam tanpa kabar, saya menghubungi ikhwan tersebut sebut saja inisialnya "MA"

Saya bertanya kepada "MA" apa engkau tidak ingin memperdulikanku lagi?

Advertisement

"MA" menjawab iya

Apa sebab dari semuanya?

Ternyata "MA" mengakui bahwa ia berkomunikasian lebih dari 10 perempuan.

Menurut kalian apa respon saya, sebagai cewe bodoh yang awalnya terlena karena janji manisnya yang ingin menikahi saya dan perlakuannya yang baik terhadap keluarga dan saya sendiri?

Iya saya baik-baik saja, entah kenapa kali ini saya merasa baik-baik saja, karena Allah meletakkan hikmah dan pelajaran di dalam perkenalan kami. Allah ajarkan saya bahwa sesuatu hal yang baik harus diperoleh dengan jalan yang baik.

Kalian ingin suami yang sholeh?

kalian ingin suami yang rajin beribadah?

Kalian ingin suami yang setia?

Ini tidak diperoleh dari jalan pacaran.

Kurang lebih seperti ini menurut Ustaz Felix diceramah singkatnya "UDAH PUTUSIN AJA" Islam tidak pernah mengharamkan cinta. Islam mengarahkan cinta agar ia berjalan pada koridornya. Bila bicara cinta di antara lawan jenis, satu-satunya jalan adalah dengan pernikahan, yang dengannya cinta menjadi halal dan penuh keberkahan. Sebaliknya, Islam melarang keras segala jenis interaksi cinta yang tiada halal. Bukan karena apa pun, tapi karena Islam adalah agama yang memuliakan manusia dan mencegah kerusakan-kerusakan yang akan terjadi pada diri manusia itu sendiri.

Ini motifasi awal saya, dan hati saya merasa hancur. Ya Allah selama ini saya selalu meminta suami yang baik, tapi cara saya salah dalam menjemputnya.

Karena saya menginginkannya, akhirnya waktu yang tepat di saat dia mengakui bahwa "MA" nggak puas hanya berhubungan dengan satu perempuan. Menurut saya ini bukan hal yang buruk, toh kan itu hak dia karena kami bukan suami istri. Tetapi karena tiga bulan berjalan ini saya sudah merasa jenuh terus-menerus melakukan dosa, saya merasa hijrah saya munafik dan alasan sepele itu saya jadikan alasan untuk memblokir semua akses kami.

Alhamdulillah…dengan seizin Allah saya masih baik-baik saja, saya mulai memperbaiki diri saya, karena….

"Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik ." (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih).

Tentang Rasa, biarlah saya dan ALLAH yang tahu…

Kedepannya semoga banyak keajaiban-keajaiban yang terjadi. pada akhirnya cinta itu sangat sederhana, sesederhana keyakinanmu terhadap takdir Allah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya