Cerita Tentang Hidupku, Hilang Baru Berharga

Sosokmu tak akan terganti dan tak pernah ku lupakan, Ayah.

Cerita ini bermula dari tahun 2012, dimana aku masih berumur 9 tahun atau masih duduk di bangku kelas 4 SD, ayahku mengidap penyakit yang membahayakan yaitu TBC paru-paru. Umur ayahku masi muda kala itu, badan nya tinggi tak terlalu berisi tapi untuk orang-orang yang sudah pernah mengidap penyakit tersebut, menggemukan badan adalah hal tersulit dalam hidupnya, terkadang mengurang dengan sendirinya.

Ayahku harus Mendapatkan perawatan jalan selama 6 bulan di puskesmas terdekat dengan meminum obat yang sudah di anjurkan oleh dokter. Terkadang ayah ku merasa bosan dengan hal meminum obat-obatan tersebut karena harus rutin dan tepat waktunya yang sudah di tentukan, tapi kalau tidak, yaaa apa boleh buat, ayahku harus mengulangi lagi selama 6 bulan.

Ayahku mengidap TBC berawal dari kebiasaan buruk yang di lakukan setiap hari nya kala itu. Ayahku suka dengan rokok, dan bagi abah ku rokok adalah hidupnya, karena bisa saja ayahku menghabiskan tiga bungkus rokok dalam sehari. Bisa kalian bayangkan saja satu rokok saja bisa mengotori dalam paru-paru apalagi tiga bungkus dalam sehari nya.

6 bulan sudah berlalu akhirnya ayah sudah tidak lagi berusan dengan obat-obatan. Akan tetapi tidak dengan rokok nya, ayah ku tidak jera dengan hal-hal yang di lakukan kemarin. Ayahku tetap merokok dan menghiraukan tentang kejadian berobat selama 6 bulan nya. Sampai ibu lelah sendiri dengan kelakuan ayahku yang susah di beri tau. Tidak lama penyakit TBC itu kambuh lagi. Tapi pengobatan sekarang berbeda dengan pengobatan sebelumnya, ayahku tidak lagi meminum obat-obatan yang di anjurkan oleh dokter tapi ini adalah pengobatan kedua, yaitu dengan menyuntik obat di bagian pantat secara rutin setiap hari selama 2 bulan.

Semenjak itu ayah berusaha untuk menghindari merokok dengan mengganti rokok dengan permen. Disitu lah ayah sudah di katakan sembuh oleh dokter. Tapi bekas flek didalam paru-paru nya masi ada, masi menghitam itu dibuktikan dengan ayah ku masih batuk-batuk kalau ada asap rokok, polusi atau asap dari masakan. Tapi itu tak menjadi penghalang, kadang juga ayah merokok tanpa sepengetahuanku dan ibu.

Tahun berganti tahun ayah ku sudah membaik, hingga aku kelas 10 SMA, aku melanjutkan di salah satu pesantren sekitar kota Semarang, aku di pesantren atas usulan dari ayah dan ibu, karena di zaman ini menjaga anak perempuan bagi orang tua sudah susah, tidak hanya ayah dan ibu, tetapi juga para orang tua yang mempunyai anak milenial seperti ku. 

Bagi orang tua ku, lebih baik mencegah daripada mengobati dari godaan yang biasa di katakan zaman edan. Teknologi semuanya Berkembang pesat, mau tidak mau kita sebagai manusia bisa mengikuti zaman yang serba canggih ini. Tetapi banyak dampak negatif dari seluruh penggunaan Teknologi. Contoh kecilnya yaitu sifat yang keduniaan, nah itulah alasan orang tua ku mengapa aku di pondok pesantren. Karena di pondok pesantren anak lebih mendekatkan diri ke Tuhan bukan mempelajari Teknologi yang gaada habisnya.

Libur kenaikan kelas telah tiba, saatnya aku keluar istirahat sebentar dari penjara suci ini, akhirnya aku pulang kerumah. Waktu itu hujan lebat sekali, ayah kesusahan saat mengendarai motor karna wajah ayah harus terkena timpaan air hujan, lain dengan aku yang bahagia saat libur kenaikan kelas tiba. Aku sangat antusias kala itu, aku ingin cepat-cepat sampai rumah tapi ayah sangat kesusahan karena ayah memakai kacamata ukuran minus 5 yang membuat ayahku mengendarai motornya pelan-pelan dan sangat berhati-hati.

Kita sampai dirumah sore hari, ayah langsung istirahat di kamar karena ayah capek seharian kegiatan. Malam harinya ayah terbaring lemas di atas kasur dan muka nya pucat pasi ternyata ayah sakit tipes. Esok harinya ibuku menyuruh kakak ayahku datang kerumah untuk menyuntik cairan infus karena ayah ga mau makan seharian dan malamnya mual-mual jadi kekurangan cairan semalam. Dan efek dari sakit ayah semakin memburuk kondisi badannya, dan lebih sensitive terhadap debu, asap, atau sejenisnya yang membuat ayah batuk-batuk tak karuan, sampai pada bulan desember 2020 kondisi ayah sangat memburuk, sampai ayah sudah tidak lagi bekerja dan aku menggantikan peran ayahku karena aku anak perempuan pertama. Aku bekerja di salah satu toko baju untuk mencukupi biaya hidup sehari-hari karena biaya pengobatan ayahku itu tidak sedikit dan aku juga membiayai hidupku sendiri, mencari biaya kuliah dan kebutuhan ku sendiri.

2 Bulan telah berlalu, bukannya semakin membaik tetapi keadaannya semakin memburuk, dan tidak lagi bernapas dengan bebas harus menggunakan bantuan tabung oksigen untuk bernapas. Hingga pada tanggal 1 maret 2021, aku kehilangan sosok ayah. Ayahku sudah tiada di dunia ini, ayah menghembuskan napas terakhirnya saat itu, ayah tidak lagi merasakan sakit, ayah sudah tenang di sana, suasana ruangan kamar saat itu histeris. Ibu terdiam sedih melihat badan ayah ku sudah terkujur kaku dan tidak bernyawa  lagi. Rumah saat itu yang awalnya sepi menjadi ramai, banyak orang yang melayat di rumah dan aku menghirau kan itu, aku masih tidak menyangka hal itu terjadi. Semua orang memberi semangat tapi suasana itu tak akan ku lupakan.  

Hampir satu tahun sudah terlewati itu lah perjalanan yang sulit tapi berkat dukungan keluarga dan teman-teman, aku semakin kuat semakin percaya diri bahwa aku bisa menjalani semuanya. Aku mulai terbiasa dengan suasana baru, suasana tanpa sosok ayah yang selalu mendukung semua kegiatan yang aku lakukan, dan semenjak itu aku sadar bahwa kita akan merasa memiliki setelah kehilangan. Mungkin disini aku diajarkan untuk selalu bersyukur atas apa yang aku miliki sekarang entah itu keluarga ataupun teman.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini