#HipweePuisi Derana

Derana

Hiatus

Advertisement

Berhenti sejenak!

Sandarkan jangkar perjuangan, 

Bukan menyerah, 

Waktu perlu jeda. 

Dibanding tertidur ditelan ilusi, 

Gagal-gagal kemarin menghantui,

Minta cepat diperbaiki,

Menunggu kibarkan layar lagi,

Dengan yang baru.

Tapi hati-hati,

Hiatus begitu candu,

Bisa nyaman dibuatnya kau. 

Advertisement

Oleh : Davina Aulia Sekar 

Oke sekarang, siap-siap ya! 

Kamu yang sedang berusaha menyembuhkan diri, lihat-dengar-baca puisi berjudul Awan ​​​​​​​​​​​dengan perlahan, selamat datang! 

Advertisement

Awan

Kini aku terkurung, terlilit teratai duri dalam ruang gelap gulita 

Tak kasat mata

Tak terucap apapun

Tak teraba bahkan dengan tangan ajaib,

Samar sekali walau didepan mata.

Ada yang hilang dari diri,

Terjebak dalam tubuh yang tak punya jawaban untuk bahagia,

Lalu untuk apa aku ada?

Hey! semua prajurit kehidupan!

Keluarlah! Kecup dan hirup banyak-banyak udara luar kamar, rumah, kantormu, 

Berjalanlah dan pandangi wajah langit biru diatas,

Kecup banyak-banyak awan yang menggumpal lucu,

Lihat mereka tersenyum padamu, 

Menghapus tangis agar lekas kering. 

Dengar awan bicara,

Awan bersedia menghisap sedih, tangis, dan sesak.

Lukis senyummu sekarang,

Tatap lama awan biru hari ini,

Jangan tertinggal satupun,

Awan tak meninggalkan, 

Awan akan membawa satu persatu tangismu, 

Membawa awan baru untuk memelukmu lagi, 

Jangan kasihan! 

Awan banyak sekali, dia senang menaungi sedihmu. 

Tapi ingat janjimu, 

Cepatlah banyak tersenyum,

Semesta tak menyukaimu murung dibawah pandangannya. 



Oleh : Davina Aulia Sekar 

 

Peron Kereta

Jam giliran kita; menanti waktunya,

Kau menggenggam milikmu, aku!

Untuk menggenggam habis waktu, 

Agar sisa-sisanya tak penuh sesal. 

Tapi, peron-peron hening

Tak ada teriakan peringatan jam tepat waktu,

Bahkan sekedar bisikan.

Kau bawa aku,

Aku tanya sekali lagi padamu,

"Peron macam apa ini?," Kau jawab "Peron waktu keretaku." 

Lalu mari kita berdua naik bersama? 

Tidak ucapmu lantang! 

Akhirnya kau naik duluan,

Melepas tanganku dan membawa sisanya naik keatas peron kereta yang entah terbawa ke stasiun mana.

Tak lama kosong memenuhi sekat-sekat nadi dan aliran darah,

Lamunan menjadi mengerikan,

Sehingga membawaku setahun kemudian,

Terlalu lama aku menunggu giliran,

Sekarang giliran peron waktu keretaku! 

Membawaku menuju singgasana yang tak ditemui yang hidup.

Oleh : Davina Aulia Sekar 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Davina Aulia Sekar, seorang penulis pemula yang selalu tidak puas dengan karya tulisnya. Karena merasa belum ada apa-apanya. Tinggal di Jonggol kota yang tidak dipercayai. Dan pencinta warna kuning, hihi.Temui aku di instagram : @davinaauliasekar Kalau kamu mau repost karyaku tag aku di instagram ya 💛 sudah pasti aku akan menyukainyaa. Pembacaku sudah pasti aku anggap sahabatku.

CLOSE