Ketika Sepi Itu Ada

Serumit hidupku dalam kesedihan bersambung
Aku tetap kalah dan terkalahkan oleh kesepian
Kosong separuhnya, hampa sebelahnya
Itu jiwaku saat ini
Tak usah berkernyit heran atau bermuram didepanku
Aku akan tampak makin bodoh tak ada arti
Aku hanya berkeluh menyeka peluh
Atas lelah yang berputar tanpa ujung
Aku ingin menyalahkan takdir yang tak adil
Mengutukku seorang diri dengan kepasrahan
Aku putus asa tak bisa merasakan
Berulang-ulang dalam pikiranku terus bertanya
Apa itu bahagia sesungguhnya
Hanya fatamorgana atau maya yang terangkai karna kebuntuan
Hal yang sia-siakah ku kejar ini?
Berdoa sepanjang waktu sampai sesak
Berharap tak kan lagi bertemu sepi suatu saat nanti
Entah kapan masanya sampai kesendirian jenuh memelukku
Kan ku tunggu waktunya bertemu bahagia
Bukan lagi sepi yang ke-dua kalinya

Advertisement

Sederhana Saja

Sederhana saja….
Cukup segelas kehangatan tertera dimeja
Maka aku akan merasakan bahagia sesungguhnya
Tak dibutuhkan hal reka-reka di uar kepala
Tak perlu merinci setiap apa hingga pusing rasanya
Aku takkan menuntut apa-apa pada sang kuasa
Memilikimu sudah karunia luar biasa

Sederhana saja….
Cukup tirai tersibak meresap cahaya surya
Beriringan bisikan menggelitik ditelinga
Dengan bahagia aku akan membuka mata
Lelaki-ku ada didepanku bukan hanya sekedar imaji maya

Advertisement

Sederhana saja….
Tak perlu berletih mencari tukang bunga di jalan raya
Memburu pemanis agar aku tertarik memilikinya
Senyummu saja adalah segalanya yang ku pinta

Sederhana saja….
Cukup jadi milikku seutuhnya selamanya
Cukup cintai aku apa adanya
Cukup bersamaku hingga habis masanya
Karena aku tak suka negosiasi soal cinta ada syaratnya

Oleh Faridhotun Nikmah

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya