Sore ini hujan lagi, rintik itu saling memburu membasahi bumi, bukankah ini berkah? rahmat? bukankah seharusnya aku bersyukur? Bukankah aku begitu menyukai hujan di sore hari, di saat semuanya sudah begitu lelah menjalani hari, buliran hujan itu turun membawa kesejukan dan kesegaran. Bukankah seharusnya begitu?

Entahlah, sejak beberapa bulan yang lalu aku bukan lagi penikmat hujan sore. Hatiku menggigil bahkan hanya dengan melihatnya. Suara rintik di genting pun menjadi nyanyian sepi yang begitu menyayat. Aku banci, ya, aku benci rindu yang dibawanya serta, aku benci kenangan yang mengiringinya, aku benci mengingatmu di saat tak ada yang bisa ku lakukan, aku benci rasaku yang ternyata sedalam ini, dan yang paling aku benci, kenapa baru menyadarinya disaat kau pergi, disaat tak ada lagi yang bisa ku lakukan? dan pada rintik hujan sore ini aku terus bertanya, bagaimana ini? bagaimana ini?

Advertisement

Ternyata rasa ini sudah terlalu dalam. Bersembunyi dalam canda tawa persahabatan. Dan saat kau pergi, semuanya baru ku sadari. Saat aku tau kau telah dengannya, rasa itu semakin menyiksa. Bagaimana ini? Bagaimana caraku melupakanmu?

Kamu!

Tetaplah seperti itu, tak pernah tau rasaku, tak pernah tau kesepianku, tak pernah tau kerinduanku, karena aku pasti berhasil mengalahkan semua. Aku hanya perlu menghadapi hujan sore ini, membiarkan kenangan kita basah dan hanyut dalam genangan, menunggu mentari esok membuatnya kering sama sekali.

Advertisement

Kamu!

Jika suatu hari kau tau tentang rasaku, mungkin rasaku telah berubah dari ‘mencintai’ menjadi ‘pernah mencintai’, karena mungkin nanti aku telah berhasil melupakanmu dengan perjuangan yang tak mudah. Saat itu pula mungkin aku telah bisa menyukai hujan sore seperti saat itu, saat kita akan pulang dan terjebak hujan di sore yang indah itu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya