Seberapa pun saat ini usia seorang anak, tetaplah selalu terlihat bayi oleh sang Ibu. Begitupun saya. Entah hanya sekedar cari kaos kaki pun pasti nanya ke ibu. Ibu itu ibarat "google" buat anak-anaknya dirumah, gimana nggak macam google? Apa-apa nanyanya ke ibu. Mau makan nyari ibu, nyari baju, celana, rok atau jilbab pasti larinya ke ibu. Diantara kalian pasti udah nggak asing dengan hal ini

"Buuu, jilbabku yang merah dimana ya?"

Advertisement

Dan ibu ngejawab "Coba cari dilemari."

"Nggak ada buu, uda dicari"

"Cari dulu yang bener" Ibu sambil menghampiri dan bantu nyari dilemari.

Advertisement

Ajaibnya, kita uda nyari dan nggak nemu. Giliran ibu yang nyari pasti langsung ketemu.

Yass! Itulah ajaibnya malaikat yang dipilih Allah untuk menjadi rumah terbaik bagi anaknya. Rahimnya adalah rumah terbaik yang pernah saya tinggali, 9 bulan bersama dalam 1 raga. Makan makanan yang sama dan minum minuman yang sama. Kebersamaan yang begitu berharga buat saya. Mungkin kita nggak pernah sadar, 9 bulan dalam kandungannya apa saja yang beliau rasakan. Sakit? Pasti. Namun beliau adalah sosok yang tidak pernah mengeluh, menjalani dengan ikhlas dan sabar kebersamaan ini.

Saya sama ibu itu kadang bisa jadi seperti sahabat, berbagi cerita, ngelawak bareng bahkan kami sering ngakak bareng. Kadang ibu suka jadiin saya seperti bayi kecilnya lagi, di gangguin, di isengin, ya begitulah kami. Kalau deket kadang saya suka kesel kalau dinasehatin atau disuruh-suruh. Tapi percaya deh, kalau jauh bakalan kangen banget sama ibu. Saya kuliah dan merantau jauh dari keluarga termasuk ibu, rasanya kalau capek dan nggak ada tempat berkeluh kesah itu kangen ibu pakai banget deh.

Suka tiba-tiba nangis kalau kangen ibu, mau nelpon nggak bakal bisa ngomong. Apalagi kalau lagi sakit, dijamin bakalan butuh sosok ibu banget. Ini yang kadang buat saya takut jauh bahkan kehilangan beliau, maka selagi ibumu masih ada bahagiakanlah. Kalau rahimnya itu bagai rumah selama 9 bulan, sosok dan hatinya itu bagai rumah seumur hidup buat anak-anaknya. Rumah yang selalu mampu menampung semua keluh kesah, semua bentuk protes maupun curhatan setiap anak.

Bahkan ketika semua orang berlari menjauh dari seorang anak, ibu adalah kaki pertama yang akan berlari kencang untuk mendekat, tangan pertama yang akan meraih dan mendekap, tidak akan pernah membiarkan anaknya sendirian. Begitulah yang saya rasakan, ibu saya merawat tanpa pamrih, tanpa keluhan dan selalu memberikan yang terbaik. Banyak momen yang kami lakukan bersama, mulai dari dapur sampai diluar rumah. Maka dari itu saya selalu membayangkan, gimana bisa ya saya hidup tanpa ibu? Saya tumbuh dirahimnya dengan gratis, saya besar melalui asuhan dan kasih sayangnya dengan gratis, bahkan ibu adalah sekolah pertama saya.

Sanggup kah saya membalas? Bahkan dengan uang pun tidak sebanding untuk membayar kebersamaan ini. Kebersamaan yang begitu berharga, penuh dengan pelajaran hidup dan kenangan yang sangat bermakna. "Satu orang Ibu mampu mengurus 10 anak bahkan lebih, tapi satu orang anak belum tentu dapat mengurus seorang Ibu" kalimat ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa tidak ada yang mampu membayar seluruh pengorbanan seorang ibu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya