Sekolah di pulau seberang bukan perkara mudah bagiku. Rindu Bapak, rindu Ibu siang dan malam.

Apalagi yang dapat kulakukan selain merajut untaian doa untuk mereka.

Advertisement

Jarak antara pulau Kalimantan dengan pulau Jawa memang tidak seberapa jauh, transportasi canggih meyulapnya menjadi dekat. Namun, bukan persoalan jarak, bukan pula persoalan hari raya, aku tak pulang karena sedang meneyelesaikan mimpi.

Iya, mimpi yang dahulu tak pernah terpikir untuk menjadi nyata. Mimpi yang seumur hiduppun tak pernah aku dan kita bayangkan, Bu, Pak. Mampu bersekolah tinggi bukan mimpi yang keluarga kita bisa capai. Sekolah tinggi yang mahal, sekolah tinggi yang hanya dapat kita lihat di sinetron ketika kita menonton di malam hari. Sudah barang tentu bangku-bangku disana adalah milik orang berduit; pikir kita.

Bu, ketika menjumpaimu tahun lalu, ibu menangis ketika akan melepasku di perantauan lagi. Perpisahan jarak dan waktu kita hanya sebentar lagi, kok! Tahun ini aku janji akan menyelesaikan kuliahku dengan baik, dengan doa Bapak dan Ibu. Aku ingin engkau bangga padaku, Bu.

Advertisement

Bu, bukan perjalanan pendek untukku dapat meraih mimpi ini. Ibu pun pasti tahu, bagaimana kerasnya Ibu dan Bapak bekerja demi hidupku di perantauan. Aku yakin Ibu akan mengerti mengapa aku tak dapat pulang lebaran tahun ini. Bukan aku tak merindukan Ibu, pun Bapak. Puncak rinduku rasanya sudah di ubun-ubun, ingin segera memelukmu.

Bu, kumohon Ibu bersabar. Sedikit lagi, sebentar lagi, ku janji mimpi itu akan segera kuraih untuk Ibu, untuk Bapak.

Jika senyum adalah kebahagiaan, aku akan selalu membuat Ibu tersenyum. Tanggung jawabku adalah membuat Ibu dan Bapak bahagia.

Tertanda,

Anak laki-lakimu yang cengeng di tanah rantau

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya