Hai ibu, Apa kabar? Kuharap ibu baik-baik saja ya disana.

Terlepas dari harapanku, aku tahu pundak ibu sudah mulai lelah memikul segala beban yang ada dan tenaga ibu tidak sekuat yang dulu. 58 tahun hidup dengan keadaan sederhana, tidak membuat ibu cepat berputus asa. Aku akan selalu bangga kepadamu. Empat anak yang kau besarkan kini semuanya sudah menjadi seorang sarjana yang sah. Tersisa satu, yaitu aku yang saat ini sedang berjuang meraih gelar sarjana. Sungguh besar pengorbananmu ibu.

Advertisement


Bahkan, kesuksesan yang ku dapat kelak, tidak akan cukup membalaskan pengorbanan mu selama ini. Ada satu kewajiban yang sampai kapanpun harus kami tunaikan untuk mu, yaitu waktu.


Aku sadar, disamping dari materi, kebahagiaan yang tidak dapat ternilai adalah waktu, yaitu meluangkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Diusia ibu yang sudah mulai rentan, di masa muda ku yang sibuk memikirkan masa depan, aku dituntut untuk tetap bisa membagi waktu untuk kalian. Kalau bisa berkata jujur, aku takut bilamana ibu dipanggil Tuhan, aku belum bisa memberikan kebanggan untuk kalian. Tapi aku percaya semuanya akan baik-baik saja, karena Tuhan sudah menyiapkan skenario yang terbaik untuk seluruh umatnya.

Ibu tau? Menyandang peran sebagai anak laki-laki satu-satunya adalah peran yang cukup membanggakan sekaligus menegangkan. Apalagi aku yang paling bungsu. Aku dituntut keadaan untuk dapat mandiri, untuk mampu berbagi dan menjadi tiang penengah dikala saudara-saudara ku sedang memperdebatkan sesuatu. Ibu pernah bilang, bila waktunya telah tiba, akulah yang akan menggantikan peran bapak didalam keluarga sekalipun kenyataannya sosok bapak tidak akan pernah tergantikan. Karena itu, aku memilih untuk merantau agar aku ditempah menjadi lelaki yang kuat dan hebat oleh kehidupan.

Advertisement


Walaupun harus jauh darimu untuk beberapa tahun, akan ku lakukan demi ibu, bapak dan keluarga. Aku akan berjuang sekuat tenaga ku untuk membahagiakan ibu. Jangan pernah mengkhawatirkan aku, karena aku akan selalu dalam lindungan Tuhan sebagaimana ibu dikampung dalam lindungan Tuhan.


Disetiap malam yang ada, aku selalu menyempatkan waktu untuk berdoa supaya Tuhan senantiasa memberikan ibu kesehatan dan panjang umur. Bersabarlah ibu, aku sedang dalam proses menggapai kesuksesan. Aku berjanji, tidak akan lama. Aku akan pulang secepat yang ku bisa sampai aku benar-benar mendapatkan apa yang ku mau, dan kelak dapat membanggakan ibu. Terimakasih Tuhan, sehingga ibu masih bisa membaca isi hati ini.

Sehat selalu ibu. Aku akan pulang dan membawakan ibu ketempat yang ibu mau. Salam rindu, Putramu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya