Tiada habisnya jika bercerita tentangmu ibu. Sosok yang lembut, cerdas, dan bermartabat. Kisah perjalananku denganmu tak akan ku lupa. Setapak demi setapak jalan yang dilalui tak pernah putus doamu untuk anakmu. Anakmu ini tak mengerti bagaimana cara perjuanganmu mendidik anak sejak dini yang baru mengetahui dunia, belajar berjalan menginjak tanah, menghirup merasakan udara alam yang baik, menyentuh tetesan hujan yang didalamnya selalu engkau doa-doa untuk anakmu. Anakmu belajar darimu tentang kesederhanaan hidup. Bagimu hidup tak perlu harus selalu enak. Karena engkau telah mengerti tentang roda kehidupan. Bagimu ibu, engkau bisa melahirkan anak, bisa membimbing anak hingga dewasa, semua itu dapat engkau nikmati dari susah maupun senangnya. Keikhlasan dalam menjalaninya yang tidak bisa anakmu ukur dengan hanya menerkanya saja.


“Kekayaan yang sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta, kekayaan yang sebenarnya adalah hati yang selalu merasa cukup”


Advertisement

Tak ada kata lelah untuk merawat dan melindungi. Ketika terluka, terjatuh, sampai bersimbah darah, engkau tetap tabah dan sabar merawat anakmu. Marah serasa tak mungkin diungkapkan, karena tak tega melihat anakmu menangis juga. Tangisan anak seakan sama dalam tangisanmu ibu. Biarlah itu menjadi suatu pelajaran kehidupan yang berharga sebagai seorang anak.


“Biarkan orang lain melihat penampilanmu ibu yang biasa saja, tetapi amalmu ibu yang luar biasa dimata Allah”


Waktu terus berjalan, untuk pertama kali dalam satu tahun aku berpisah denganmu ibu. Belajar dan mecari bekal kehidupan di tanah orang. Meskipun jauh engkau selalu tak lupa menghubungi anakmu. Tak jarang engkau selalu memberi kabar dahulu sebelum diriku. Dan terasa malu pada diri sendiri, tak bisa memberi kabar dahulu sebelum engkau. Engkau selalu bercerita keadaan rumah, keadaan disini dan juga keadaan disana. Dalam membaca tulisanmu seakan aku bersama dirumah bersamamu. Selalu ada kehangatan dalam tulisanmu ibu.

Advertisement


“Setiap kali aku malas belajar, aku ingat ada orang ayng bekerja keras menyekolahkan, ada orang yang selalu menyebut namaku disetiap doanya, ada orang yang selalu membanggakanu dan ada mimpi yang harus jadi nyata”


Waktu demi waktu tak terasa anakmu yang dulu pernah nakal dimatamu, sekarang beranjak dewasa dan belajar memegang sebuah tanggungjawab. Bagimana menjadi seorang laki-laki yang nantinya menjadi kepala sebuah keluarga dan juga seorang ibu yang mengajarkan kesabaran. Dan ketika berjalan bersamamu banyak pesan-pesan yang dapat menjadi bekal dewasaku. Semua pengalaman yang pernah engkau lalui menjadi kekuatan motivasi dalam diri ini. Sebuah pesan yang selalu ku ingat: “Kualitas seorang anak ditentukan bagaimana kedua orang tuanya, maka buat kamu nak calon orang tua siapkan diri untuk menjadi orang tua yang baik”.

Ibu engkau sudah tampak tua dan lelah. Goresan kulit sudah mulai terlipat disela matamu, sekiranya menandakan betapa kuatnya menjagaku untuk tetap terjaga setiap, malam ketika saat kecilku menangis. Hempasan dan teriknya surya terpahat dikeningmu, sekiraya menandakan betapa kuatnya kesabaranmu untuk menjalani dikehidupan nyata. Helai demi helai rambut telah berubah warnanya, sekiranya menandakan perjuangan dalam mendidik anak yang berharap untuk menjadi lebih baik dari orang tuanya. Meskipun diri ini dianggap suda dewasa namun aku tetaplah sebagai anak kecil dimatamu.

Semua ceritaku bersamamu menjadi sebuah saksi perjalanan kehidupan dimasa mendatang. Apa yang bisa aku berikan kepadamu ibu? Hanya doa sepanjang waktu yang akan selalu mengiringi jalanmu. Tak pantas bagiku jika saat berdoa hanya untuk diri sendiri, seakan lupa akan semua jerih payah yang telah engkau perjuangkan kepada anakmu. Maka seakan sepasang tangan dan mata ini tahu, untuk siapa aku berdoa dan untuk siapa aku meneteskan air mata.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya