Banyak orang memilih duduk, diam dalam gelap yang dicipta sendiri. Tersiksa dalam relung-relung kesedirian. mengurung diri habis-habisan ditelan suramnya hati dan pikiran. Ratapi ketidakrelaan yang jelas sudah pergi dibawa aliran hujan lebat pada malam-malam panjang.

Apakah tersesat dalam rasa sendiri atau sudah paham tapi memilih diam tanpa kata, menggiring luka pada ujung tanduk?

Advertisement

Denyut makin melemah hingga senja tutup hari. Tapi, cerita-cerita itu belum usai mengusik jiwa. Beradu mulut pada sudut hati yang kian robek. Pikiran ingin melerai tapi apa daya, hati memilih diam dalam siksa sendiri. Layu merayu hingga tutup, merenungi tangis yang basah tak terbayar. Patah pada ranting-ranting kering itu sama halnya dengan angan yang mengering tak berguna. Kenangan yang semakin membuat berdarah tapi tak terlihat.

Hei, kawan yang sedih hatinya! Hingga hari semakin berlanjut, akankah mengurung diri dalam luka sendiri terus-menerus?

Lihatlah pohon-pohon yang masih tegak berdiri meski tanpa daun yang menemani. Pohon-pohon itu rela melepas apa yang seharusnya dan sepantasnya dilepas. Jika daun mengering, ia akan jatuh tak jauh dari yang ia tinggalkan. Gugur satu per satu menutupi akar-akar.

Advertisement

Pohon itu mengerti, paham sekali apa yang akan terjadi maka terjadilah. Jika sesuatu tidak bisa diperjuangkan lagi, biarkanlah ia pergi. Raganya akan pergi seketika. Relakanlah ketika sesuatu memang pantas dilepas. Karena memang yang pergi pun memilih ego sendiri tanpa melihat kanan atau kiri.

Percayalah, kawan! Tetapkan langkahmu untuk memilih. Tegakkan bahumu untuk lawan luka yang menggerogoti.

Jika kau adalah rumah baginya, ia akan kembali pulang. Jika ia jawaban disetiap doa-doa yang kau ungkapkan pada Sang Semesta, langkahnya akan kembali pada rumah tertutup yang kau buat.

Tetapi, jika bukan maka relakanlah. Meski awalnya sakit, nikmati perjalanan luka yang menggores. Ungkapkan itu dalam doa-doa agar semesta pun mendengar dan menghapus luka lewat hujan deras pada malam panjang. Terima kekecewaan itu lalu ungkapkan lewat tulisan ataupun lukisan yang membuatmu lega, lalu mengganti langkah untuk maju.

Nikmati setiap kepergian, nikmati setiap sedihnya ditinggalkan, nikmati setiap luka yang menggores hati tak tahu diri. Hidupmu tak lagi sama, hidupmu tak sehari saja. ada hari-hari selanjutnya yang harus diukir oleh tangan-tangan dan kaki-kakimu yang kuat nan tangguh.

Pada suatu saat nanti, saat kau disegarkan kembali, saat mata dan hati mulai terbuka, sembuh dan mengering tak berbekas, saat itu pula pasti kau akan merindu.

Rindu akan sakitnya melepas apa yang tidak bisa digenggam lagi. Rindu akan perjuangan sendiri. Akan ada tunas baru menghiasi ranting-ranting muda pada pohon yang masih saja tegar. Hingga saatnya, kembali meniti hari dengan hati yang sembuh dari luka. Akan ada harapan yang menggelantung pada binar-binar indah sang mentari pagi. Melanjutkan langkah-langkah yang lalu-lalu itu, menunjukan pada orang-orang yang sama bernafas sepertimu bahwa dirimu memang pantas untuk sembuh dan melangkah lebih maju dari mereka yang meninggalkan dan menginjakmu. Tunjukan pada semesta, bahwa ungkapan lewat doa memang sudah terkabul. Harimu tak lagi suram, tapi lebih berwarna dari pelangi

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya