Ikhlas.

Mungkin salah satu kata yang sering kita dengar dan mudah diucapkan namun sulit untuk melakukannya.
Sebab melakukan sikap ikhlas itu bukan hanya sekedar diucap atau dikatakan di mulut saja.
Namun lebih dari itu, ikhlas harus murni lahir dari dalam diri kita, yaitu hati.

Advertisement

Ikhlas itu adalah ketika kita mampu diam di saat seharusnya membalas, tersenyum meski inginnya marah.
Ikhlas itu berarti merelakan, menerima dengan lapang dada atas apa yang telah terjadi.
Menyerahkan semuanya kepada yang kuasa dan yakin bahwa akan ada kebahagiaan yang telah disiapkan untuk kita yang telah bersabar dan bersikap ikhlas atas kuasa-Nya.

Ikhlas itu tenang, karena dari ketenangan itu akan membawa kita kepada kebahagiaan yang sesungguhnya (hakiki).
Ikhlas itu indah, karena keikhlasan itu akan membawa kita menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi atas apa yang telah dilalui dengan banyaknya macam-macam problematika dalam kehidupan ini.

Hidup akan indah, jiwa akan tenang, jika kita melakukan semuanya apapun itu dengan rasa ikhlas.
Tidak ada rasa gelisah, tidak ada rasa galau gundah gulana, tidak ada rasa kecewa, tidak ada rasa sedih, tidak ada rasa penyesalan bahkan tidak ada rasa putus asa atas apa yang telah terjadi pada kehidupan ini.

Advertisement

Jika saat ini rezekimu, tidak sesuai dengan apa yang telah kau kerjakan maka ikhlaskan lah, sebab rezeki bukan hanya persoalan materi saja.
Jika saat ini banyak musibah dalam hidupmu, ikhlaslah dalam menghadapinya sebab akan ada pelangi setelah hujan, akan ada kebahagian dan hikmah di setiap permasalahan atau musibah yang terjadi.

Jika saat ini semua usahamu atau yang telah engkau lakukan sia-sia, ikhlaslah dalam menerima pernyataan tersebut, sebab dari situlah tanpa disadari telah membuat engkau menjadi pribadi yang mandiri, kuat, dan pantang menyerah.

Jika saat ini sesuatu ada yang pergi atau hilang, ikhlaskan lah. Sebab suatu saat nanti akan dikembalikan kepada dirimu oleh sang kuasa jika memang sudah semestinya. Namun jika memang bukan semestinya tentunya akan diberikan yang jauh lebih baik lagi dari pada yang hilang itu.

Karena ketahuilah, bahagia itu adalah ketika kamu bisa ikhlas melepaskan yang pergi, merelakan yang hilang, dan ikhlas menerima yang akan datang karena Tuhan.
Sebab, mengikhlaskan bukan berarti menyerah tetapi menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan.

Mungkin ikhlas itu permata, berkilau karena tiada henti diasah dengan amal bermakna, walau terkadang ada rasa tersiksa. Mungkin ikhlas itu emas, murninya karena dilelehkan panas dibakar agar kerak noda terlepas. Hingga akhirnya kilaunya terlihat dengan jelas.

Mungkin ikhlas itu mutiara, terbentuk karena adanya luka.
Jauh dikedalaman samudra dan penuh keberanian untuk meraihnya.

Berbicara tentang ikhlas pun membutuhkan keikhlasan.
Ikhlas dibutuhkan dimana pun dan kapan pun, bahkan oleh siapa pun.

Sebagaimana telah diketahui, ikhlas adalah pondasi amalan.
Selain harus sesuai tuntunan, amalan juga harus dilandasi dengan keikhlasan.
Tanpanya, amal dan kebaikan hanya akan sirna begitu saja. Bagaikan debu-debu yang beterbangan.

Belajar ikhlas lah dari daun, sebab daun yang jatuh tidak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja, tak melawan, dan mengikhlaskan semuanya berjalan pada semestinya.

Belajar ikhlas lah dari akar pohon, sebab akar pohon itu letaknya tersembunyi dalam tanah, tidak banyak manusia yang peduli atau mengaguminya. Dia terus bekerja siang dan malam demi kehidupan batang dan dedaunan tanpa mengenal lelah dan tanpa pamrih.

Belajar ikhlas lah dari Nabi Ibrahim, sebab ia rela dan mengikhlaskan anaknya untuk disembelih karena atas perintah Allah Swt.

Marilah saat ini, detik ini, mulailah kita bersikap ikhlas dengan menjalani kehidupan ini.
Awali lah permasalahan-permasalahan kecil dalam hidup ini dengan rasa dan sikap Ikhlas.
Maka hidup yang indah dan jiwa yang tenang lah yang akan kita dapatkan.

"Ikhlas adalah sebuah kekayaan hati yang tidak ternilai"

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya