Sungguh, Inggris tidak hanya London, namun juga kota-kota kecil di sekitarnya.

Pada tahun 2014, tepatnya bulan Oktober, saya berkesempatan mengunjungi negeri Ratu Elizabeth. Saat itu musim gugur, di mana Inggris terlihat sendu namun tetap terlihat cahaya. Hujan turun hampir setiap hari. Kota pertama yang saya pijak setelah empat belas jam perjalanan adalah Birmingham. Tujuan saya ke Inggris ketika itu hanya satu, liburan dan mengunjungi keluarga om saya yang sudah menetap di sana selama kurang lebih lima tahun.

Ketika sampai di bandara Birmingham, saya masih belum percaya. "Ini di Inggris, nih?" Jujur saja tidak banyak perbedaan antara bandara di Birmingham maupun di Jakarta. Sama-sama penuh dengan orang yang lalu lalang membawa koper. Bandara tersebut tidak terlalu istimewa. Namun layaknya turis yang baru pertama kali ke Inggris, tentu saja saya, ibu saya, dan kakak saya harus berfoto di depan tembok yang bertuliskan "Welcome to Birmingham". Sahlah saya sampai ke Inggris.

Advertisement

Bandara Birmingham memiliki akses untuk langsung ke pusat perbelanjaan yang terkenal. Saya menemui keluarga saya di mall itu. Tidak ada yang terlalu istimewa dari mall tersebut, bahkan jika bisa saya berpendapat, mall di Jakarta jauh lebih spektakuler. Keluar dari pusat perbelanjaan tersebut barulah saya merasa benar-benar di Inggris. Langit ketika itu agak sendu karena memang sudah sore, penuh dengan bule lalu lalang, saat itu sepertinya hanya saya dan keluarga saya yang berkulit kuning. Kami melihat salah satu patung banteng yang terkenal di Birmingham.

Selepas dari Birmingham, kami berangkat ke Stafford, kota di mana om saya tinggal. Stafford adalah kota kecil yang berjarak satu jam saja dari Birmingham. Sepanjang perjalanan di mobil, saya tidak bisa berhenti tersenyum. Negara yang sungguh jauh, dengan perbedaan yang sangat kentara, dan saya menjadi orang asing kembali. Sungguh indah.

Saya sering mendengar pendapat dari sepupu saya bahwa Stafford adalah kota kecil yang membosankan, lebih tepat untuk ditinggali oleh pensiunan. Mungkin karena mereka sudah lima tahun tinggal di kota tersebut, dan sebelumnya mereka tinggal di kota Paris yang sangat metropolitan, mereka sudah sangat terbiasa dan sudah bosan. Namun menurut saya, Stafford adalah kota yang sangat indah, yang saya idam-idamkan untuk saya tinggali suatu saat.

Advertisement

Rumah om saya sederhana saja. Rumah dua tingkat yang tidak terlalu luas, dengan halaman kecil di belakang. Rumah-rumah di Stafford kebanyakan mirip, tidak menempel satu sama lain seperti rumah-rumah di Jakarta. Jarak antara rumah-rumah tersebut memberi kesan keindahan tersendiri untuk saya. Rerumputan terlihat asri dan hijau. Sesampainya di rumah tersebut ada perasaan hangat seperti seakan-akan saya berada di rumah sendiri. Halaman yang kecil terlihat sangat menentramkan. Sampai saat ini rumah tersebut adalah bayangan rumah impian saya suatu hari nanti.

Keesokan harinya saya berjalan kaki di sekitar perumahan tersebut bersama ibu dan sepupu saya. Terlihat rumah-rumah khas Inggris. Rumah dari batu bata, artistik, dan ada kesan megah namun bukan mewah ketika lewat di depannya. Terbayang di kepala saya di dalamnya ada sebuah keluarga yang rapi, artistik, dan hobi minum teh sembari melihat pemandangan di kebunnya.

Udara dingin namun tidak mengharuskan kita memakai jaket. Saya tidak kuasa menahan senyum ketika berjalan melihat rumah-rumah yang kecil namun cantik berjejer di kiri dan kanan saya. Saya dibawa ke suatu taman di sana. Taman tersebut seperti yang saya sering lihat di film Hollywood, lengkap dengan ayunan, panjatan, jungkat-jungkit, trampolin, bahkan peralatan gym. Sempurna untuk anak-anak bermain di sore hari. Di seberang taman terdapat danau di sekitarnya ditumbuhi rumput yang tinggi namun tidak terlihat liar.

"So this is how life is supposed to be," begitulah pikir saya ketika melihat taman tersebut. Damai, tenang, sesuatu hal yang jarang saya rasakan ketika berada di Jakarta.

Keesokan harinya saya berangkat dengan keluarga saya ke Liverpool, kota kelahiran band ternama The Beatles. Sepanjang perjalanan tante saya memasang lagu-lagu The Beatles di mobil. Alunan lagu The Beatles, kaca mobil yang dibuka, dan rintik-rintik hujan di sepanjang perjalanan Stafford-Liverpool membuat saya berimajinasi, inikah kehidupan orang-orang Inggris?

Liverpool di mata saya adalah kota yang mungkin penampilan luarnya tidak terlalu menarik namun menyimpan banyak sejarah. Sesampainya di Liverpool kami langsung mengunjungi The Beatles Museum. Sungguh istimewa cara mereka menghargai sejarah band ternama tersebut. Mulai dari rekaman-rekaman asli, foto-foto, sampai replika tembok-tembok atau jalan yang pernah disinggahi The Beatles, termasuk jalanan terkenal The Abbey Road.

Sejenak saya merasa dekat dengan John Lennon, Paul McCartney, Ringo Starr, dan George Harrison. Saya berada di kota kelahiran The Beatles! Meskipun saya tidak bisa lagi mendengar atau melihat langsung konser mereka, setidaknya saya berada di tempat dimana mereka pernah berada.

Tetiba saya teringat dulu pernah ada yang bertanya pada saya. "Do you like The Beatles?" lalu saya menjawab, "who doesn't?" Perjalanan kami selanjutnya adalah kota London. Kota metropolitan yang terkenal dengan aristokrasinya. Tidak sah rasanya ke Inggris kalau belum ke kota ini. Hiruk-pikuk. Orang lalu lalang.

Sejenak saya teringat kembali dengan Jakarta. Namun kali ini lebih banyak orang yang berjalan kaki dibandingkan naik mobil. Sungguh London sangat dipenuhi oleh orang-orang dari seluruh dunia, entah bekerja atau berlibur. Fenomena yang sering saya temui di kota-kota populer di dunia saya temukan juga di kota ini, yaitu kemacetan manusia, bukan macet mobil, terutama di lokasi wisata.

Tempat pertama yang kami datangi adalah London Bridge. Hari itu bukanlah hari biasa. Ada festival mengenang para pahlawan. Menarik sekali melihat warga London membuat upacara dan membawa mawar merah untuk mengenang para pahlawan mereka. Kebanggaan akan para pahlawan terasa jelas di acara tersebut. Setelah itu kami pergi ke London Eye sambil melihat jam terkenal Big Ben.

"I'm here," batin saya ketika melihat BIg Ben. Entah kenapa saat itu di kepala saya terputar lagu The Changcuters – London.

Kau berkelana

Ke negara sepakbola

Bukan Italia

Bukan juga Argentina

London, London

Ingin ku kesana

London, London

Pergi menyusulnya

Destinasi berikutnya adalah Istana Buckingham. Sayangnya ketika itu istana tidak dibuka, kami hanya melihat dari balik gerbang. Tidak apa, saya bisa menikmati keindahan dari istana yang terkenal itu. Saya berada di kota yang sama dengan Ratu Elizabeth! Di sekitar istana terdapat taman-taman yang dipenuhi dengan daun-daun yang berguguran berwarna kuning. Cantik sekali.

Setelah berkunjung ke Istana Buckingham, kami pergi ke Hyde Park. Alasannya simple sekali, saya yang ingin pergi kesana karena dulu Lady Diana pernah berjalan-jalan disana dengan mantan kekasihnya sang dokter. Seolah-olah saya ingin menapak tilas Lady Diana yang sudah meninggal sejak tahun 1997. Taman tersebut sangat luas. Pantas saja Coldplay bisa mengadakan konser di sana.

Perjalanan ke Hyde Park mengakhiri wisata saya di London – keesokan harinya kami berangkat ke bandara untuk kembali lagi ke Jakarta. Perjalanan selama 10 hari di Inggris tersebut walau singkat sangat membekas di hati saya. Kesenduan Inggris, namun di barengi dengan keindahan dan sejarah yang kental, membuat saya berjanji pada diri saya sendiri, suatu saat saya akan kembali ke kota ini, untuk menempuh pendidikan S2 saya.

Janji tersebut, adalah janji yang saat ini sedang dalam perjalanan untuk ditepati #AyokeUK #WTGB #OMGB

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya