Ini mungkin bisa dikatakan bahagia yang sesungguhnya, bahagia ketika bisa terlepas dari hal yang selama ini menyesakkan dada dan membuat kita sedih dan terpuruk terus menerus. Akhirnya aku mampu menemukan jalan damai itu, tidak hanya berdamai dengan masa lalu tetapi juga berdamai dengan diri sendiri.

Mungkin benar adanya untuk bisa menerima dan terus berjalan maju, kita tidak bisa membenci. Karena pada hakikatnya, semakin kita membenci sesuatu/ seseorang, maka akan semakin sering kita memikirkan hal tersebut. Ini bukan tentang memaafkan seseorang tapi tentang memaafkan diri sendiri.

Advertisement

Lucu rasanya dulu hati yang kini mulai utuh dan jiwa yang mulai menemukan kembali bahagianya,pernah terluka begitu dalam hanya karena cinta besar yang fana pada seseorang yang bukan garisan takdirnya. Lucu memang jalan hidup masing msing orang. Dulu kau menangisi hal itu terus menerus, selalu memikirkan hal itu, hingga aku memaksakan kehendak yang sudah seharusnya aku relakan.

“Rela itu perkara waktu, makin lama kamu jauh dan tanpa dia makin terbiasa juga nantinya” – Ibu.

Mungkin bisa dikatakan lebih mudah untuk menerima sesuatu jika memang dari awal sesutau itu tidak menerima kita dengan baik. Dan itulah yang aku rasakan. Meskipun sesak dan pedih di awal tapi kini aku merasakan bahagia karena tidak lagi terjerat oleh perasaan yang salah. Hatiku kini bebas menari kesana kesini, bebas memilih, hati ini lega karena memang menerima adalah sumber bahagia.

Advertisement

Karena pada hakikatnya, wanita itu dikejar dan dicintai bukan mengejar dan mencintai, apalagi sampai harus mengemis kepada orang yang tidak pantas mendapatkan cinta itu.

Bagaimana mungkin aku senaif dan sebodoh itu untuk meyakini sesuatu menjadi jodohku dan memaksakan dia untuk mengasihiku. Hahahah lucu bukan. Mungkin dulu hal yang aku ratapi dan tangisi tiap malam, bisa aku tettawakan sekarang. Atau dulu karena masih bocah umur 16 tahun, yang dimana memiliki seorang kekasih adalah hal yang dianggap kekinian oleh sebagian orang, rasanya memiliki pacar menjadi suatu kebutuhan yang wajib dimiliki.

Malu rasanya mengingat hal bodoh yang aku lakukan untuk seseorang yang bahkan tidak menginginkanku di kehidupan nyatanya. Kini aku sadar bahwa apa yang Tuhan inginkan dariku lebih dari apa yang aku bisa berikan sekarang, karena hadiahnya akan sangat luar biasa. Mungkin bisa dibilang kini aku sudah pulih.

Aku tidak membenci, aku menerima dan meaafkan. Hanyansaja aku masih punya pikiran dan akal sehingga untuk melupakan tidak akan semudah itu. Biar saja bagian bagian tertentu akan terus tersimpan di memori terdalam ingatanku agar jika suatu saat terjadi hal yang sama, aku bisa menggunakan ingatan tersebut sebagai pertahanan terakhirku agar tidak kembali jatuh pada lubang yang sama. Pulih tidak hanya bermakna sembuh dari sakit dan luka, pulih karena mampu memaafkan, mampu menerima dan terus berjalan.

Karena titik tertinggi dari mencintai dengan tulus adalah mengikhlaskan dan titik tettinggi dari itu semua adalah memaafkan sebesar apapun kesalahannya padamu dan sesakit apapun perih dan luka yang ia goreskan dulu di hari harimu. Ingat hanya pohon brbuah yang dilempari batu, jadilah pohon berbuah itu jangan jadi orang yang melempari batu.

Dari kepulihan ini, aku bisa menjadi pribadai yang lebih dewasa secara mental dan utuh, jiwa yang bebas, hati yang kembali suci dan bahagia. Sungguh belum pernah aku merasakan sebahagia dan selega ini sebelumnya. Terima kasih Tuhan doa ku telah dikabulkan, terima kasih telah membalikkan hatiku dan mendamaikan jiwaku. Memnag benar Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan.

Mungkin ini kabar yang kamu tunggu tunggu. Akhirnya waita itu yang selama beberapa tahun terakhir ini selalu mengganggu hidup kamu, mengejar dan mengemis cintamu, sekrang sudah memutuskan pergi. Perasaannya sudah berubah, wanita itu sudah terbiasa tanpa adanya kehadiranmu. Perasaan yang dulu dia dewakan sudah musnah, berganti dengan bahagia luar biasa karena akhirnya ia terlepas dari jeratan pilu yang selama ini membelenggu hatinya. Kini biarkan wanita itu pergi, biarkan ia menemukan bahagianya karena memang sudah sepantasnya dia mendapatkan hal itu. Kamu yang tidak mampu untuk membalas cintanya, cukup mendoakan saja. Karena sejatinya selama ini, wanita itu tidak pernah berhenti mendoakanmu. Jika kamu tidak sanggup membalas kebaikan dan kasih sayangnya selama ini, cukup balas dengan emndoakan kebaikan untuknya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya