Siapa sih diantara kita yang tidak ingin dikenal sebagai orang yang membawa pengaruh positif? Apalagi kita yang punya ambisi, pengen kuliah di universitas ternama, pengen kerja dengan gaji yang tinggi, pengen jalan-jalan ke luar negeri, dan lain sebagainya.
Menurut maslow, kebutuhan aktualisasi diri menempati puncak tertinggi dalam kebutuhan manusia. Maka tak heran bila banyak dari kita yang butuh pengakuan diri dari orang lain. Kenapa begitu? Karena kita daftar kuliah, ikut magang, gabung organisasi, dan ikut lomba semata-mata tidak hanya memperluas pengalaman dan relasi namun, guna memperkaya diri dengan terus mengupgrade kemampuan kita yang nantinya dikenali oleh orang disekitar kita. Contohnya saja, Oh ini ya, anak pak Mamat yang sekolah diluar negeri itu, Oh ini ya, perempuan miliarder dari kampus X, Oh ini ya, laki-laki pianis yang sudah go internasional itu dan banyak contoh lainnya.
Salah satu cara untuk mendapat pengakuan itu ialah dengan membranding diri kita. Tidak hanya produk yang butuh brand, tetapi kita juga butuh brand atau merek yang melekat dalam diri kita. Bagaimana kita membentuk identitas dari apa yang kita mampu dan ingin orang lain tahu akan hal itu. Dengan personal branding kita dapat membangun citra diri, melalui keunikan, hobi yang kita tekuni, dan kemampuan lain yang membedakan kita dari orang lain.
Membangun personal branding bukanlah hal mudah yang dapat dilakukan, prosesnya bisa sampai bertahun-tahun, loh. Lalu, bagaimana caranya kita membangun personal branding? Ada beberapa tahap yang dapat dilakukan dalam membangun personal branding.
1. Kenali Dirimu
Mengenali diri sendiri sangat penting untuk dilakukan, namanya udah personal yang pastinya menyangkut pribadi kita, dong. Berikut hal yang wajib kita jawab guna mengenali diri sendiri, yakni:
1. Apa bidang yang kita sukai dan passion yang kita miliki?
2. Apakah keunikan dan faktor apa yang membedakan kita dari orang lain?
3. Sudahkah kita memahami keinginan kita mau dikenal sebagai apa?
4. Bagaimana usaha kita dalam mengeksplorasi keunikan yang kita miliki hingga menjadi identitas milik pribadi?
Selain itu, kita juga dapat menganalisis diri sendiri dengan menggunakan metode SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats). Membantu kita mengetahui apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman baik dari dalam maupun luar diri kita. Sehingga, kita dapat mengevaluasi sejauh mana usaha, sasaran, dan strategi yang dilakukan sudahkah mencapai tujuan kita atau masih belum, nih.
2. Ketahui Target Audiens
Mengetahui target audiens ini sepenting kita mengenali diri kita sendiri. Bagaimana mungkin kita menjual sandal kepada orang yang sudah memiliki sepatu, bagaimana kita mungkin menjual lipstik kepada seseorang yang gak suka dandan. Nah, disinilah pentingnya kita riset. Riset itu bukan hanya tentang seberapa viral atau trendnya konten yang ada. Tetapi, cobalah ketahui kesukaan mereka seperti apa? Cocok gak sama seleranya, cocok gak dengan harganya, cocok gak dengan kualitas yang mereka mau, adalah hal yang terutama kita pegang saat riset. Agar kita dapat menyelaraskan tujuan antar audiens kita dengan konten yang kita buat.
3. Konsistensi dan Stay Focus on Track.
Tanpa konsistensi, personal branding yang dibangun hanya bagaikan angin lalu saja. Tidak ada dasar atau fondasi yang kuat, bagaimana kita bisa menjadi brand yang besar kalau promosi hanya dilakukan diawal atau hanya sekali doang? Promosi sebaiknya dilakukan terus secara rutin, tidak mengapa dari yang terkecil dulu atau dari yang mudah kita lakukan asal tetap konsisten. Stay focus on track, artinya bagaimana kita mampu terus fokus di bidang yang ingin kita kembangkan. Jangan sebulan bangun Y, sebulan lagi udah X, terus balik lagi ke Z. Orang-orang nantinya akan sulit nih, ngeliat kita sebenarnya mau jadi apa sih? Sebenarnya dia mau bangun apa sih? Dan lain sebagainya.
4. Komunikasikan dalam Bentuk Cerita
Hal menarik bagi audiens kalau melihat produk yang mengundang penasaran sehingga ingin membelinya. Begitu pulalah dengan personal branding, bagaimana kamu mengemas dan membungkus brand yang kita pasarkan dengan cerita yang tidak pasaran juga. Berikan sedikit bumbu-bumbu cerita didalamnya, terserah mau pake sudut pandang mana asal gaya bahasa dan penyampaiannya menunjukkan ciri atau identitas kita.
5. Selalu Lakukan Evaluasi
Bagi seorang pemula, masukan dan tanggapan sangat berguna bagi tumbuh dan kembangnya diri pribadi. Evaluasi sangat diperlukan agar dalam penyampaian personal branding tidak terkesan monoton dan strategi yang digunakan tidak berulang. Namun, kita juga perlu memilah mana yang dapat dijadikan masukan dan mana yang tidak. Karena, selama kita membangun selalu ada aja komentar yang kesannya menjatuhkan dan merugikan kita, loh.
Nah, itu dia beberapa tahap yang dapat kita terapkan guna membangun personal branding. Kalau teman-teman yang lain bagaimana sudahkah mencoba hal-hal yang sudah di tuliskan tersebut? Kalau belum yuk, coba terapkan!
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”