Dalam urusan menikah, pasti selalu ada harapan bahwa pernikahan yang nantinya dijalani bukan hanya sekedar pernikahan dalam waktu singkat saja, tetapi akan menjadi pernikahan yang pertama sekaligus terakhir sampai menutup usia. Tentu saja, diperlukan sikap bijak dan hati-hati dalam memilih dan menentukan si dia yang akan menikah denganmu dan menjadi pasangan hidupmu karena pernikahan yang cenderung terburu-buru dalam memilih bisa beresiko buruk pada pernikahan yang nantinya berjalan.

Akhir-akhir ini saya menyadari kalau begitu banyak remaja yang usianya sekitar 20 tahunan bahkan kurang, sudah terobsesi atau bercita-cita untuk menikah. Tepatnya, mereka merasa sudah waktunya untuk memikirkan pernikahan atau dengan siapa akan menikah nanti. Sebagian orang yang saya kenal. "maaf kalau ada yang merasa", malahan ada yang takut sekali kalau tidak mendapatkan jodoh atau tidak akan menikah. Apa mereka salah memikirkan pernikahan? tidak, terus apa masalahnya? masalahnya adalah mereka belum waktunya menikah. Oke kalau memikirkan pernikahan dalam arti mencari tau apa yang perlu dipersiapkan untuk berumahtangga, tapi bukan menikah sekedar mencintai seseorang sampai maut memisahkan (romantisme basi!).

Advertisement

Mungkin ada yang beralasan "yach…kan kita harus mengenal calonnya dulu sebelum menikah, kalau ingin menikah umur 22 ya ada baiknya mengenalnya sejak umur sebelum 20 dong. Well… kalau gitu saya balik tanya, kalau ingin menikah umur 22, kira-kira seandainya dikaruniai anak, bisa nggak ngasih makan anak? dan kira-kira kalau sudah umur segitu bisa nggak hidup tanpa minta lagi dari ortu?

Well, saya sendiri orang yang baru dalam hal pernikahan ini. Secara sadar saya juga nggak ingin hidup sendiri sampai akhir hayat, dan saya juga tidak pernah berniat untuk menikah di usia di mana banyak teman sudah punya 3 atau bahkan 4 orang anak. Tapi..terlepas dari kondisi saya saat ini, saya hanya heran, kenapa sih banyak orang yang takut tidak menikah? Saat ini saya mengenal begitu banyak wanita di atas 25 tahun yang sudah mulai gelisah mencari calon pasangan hidupnya.

Sejujurnya saya hampir jadi orang seperti itu. Saya bahkan sudah meminta jodoh dari ortu saya, tapi… orangtua nggak mau, saya disuruh nyari sendiri. Saya juga sempat berkencan buta dengan beberapa orang yang sesuai kriteria umum, tapi saya masih waras untuk tidak membabi buta dan tidak ada yang mengena di hati. Banyak yang menasihati saya untuk "jangan pilih-pilih, umur jalan terus", tapi.. rasanya statement itu salah. Saya lebih setuju untuk bilang kita memang harus pilih-pilih, karena ini bukan sekedar pernikahan yang berupa pesta, surat nikah, punya anak demi meneruskan keturunan, tapi ini lebih berat ke orang yang harus dihadapi seumur hidup. Harus memilih orang yang memang bisa sejalan, seia sekata dan bisa mengerti dan dimengerti.

Advertisement

Kembali ke para remaja 20 tahunan yang sudah memikirkan menikah, mungkin mereka kebanyakan nonton sinetron yang selalu happy ending, atau mungkin mereka hanya membaca cerita serial cantik ataupun dongeng pengantar tidur di mana ceritanya selalu berakhir bahagia. Apakah mereka pernah membaca tentang "bagaimana mengelola keuangan", sedangkan mungkin saja mereka selalu mendapatkan apa yang mereka butuhkan dari orangtua mereka tanpa mencari. Atau, "peran suami dan istri dalam rumahtangga", atau "masalah-masalah yang mungkin timbul dalam keluarga" atau "cara berargumen yang baik". Semua judul itu fiktif, tapi setidaknya semua itu sudah harus terpikirkan sebelum menikah. Selain masalah bagaimana membesarkan anak, dsb.

Kalau dari beberapa berita yang Saya baca, gadis remaja biasanya dibodohin oleh pria yang tak bertanggung jawab yang waktu melakukan kejahatan itu ngakunya "akan bertanggung jawab". Halah, nggak usah percaya deh dengan omongan busuk dari lelaki yang tak dapat mengendalikan dirinya. Yakinlah, kalau sekarang dia ngomong gitu, besok-besok dia akan bilang: sudah lupa tuh atau menghilang tanpa jejak atau ya macem-macemlah cara mengelak dari tangung jawab. Heran yah, masih usia belasan kadang sudah berani-beraninya bilang akan bertanggung jawab, lebih heran lagi ada gitu gadis belasan tahun percaya omongan cowok buaya?

Buat para remaja yang masuk kategori belasan dan awal 20 tahunan. Sebelum memikirkan dengan siapa yah nanti menikah, sebaiknya cari tahu lebih banyak mengenai pernikahan. Cari tahu yang pait-paitnya, jangan yang manis-manisnya doang. Cari tahu apa saja masalah yang muncul dalam pernikahan. Sedangkan buat teman-temanku yang belum menemukan pasangan yang tepat, jangan terburu-buru dalam memilih, pertimbangkan apakah menikah dengan orang itu akan lebih baik? kalau emang tidak lebih baik, lebih baik jangan. Lagipula, menikah itu tidak tergantung usia. Yakin dan percaya saja kalau jodoh itu ditentukan oleh Tuhan (sebagian orang mungkin ditakdirkan telat menikah, seperti saya !).

Pikirkan Baik-Baik Pilihanmu

Lebih baik terlambat menikah asalkan kamu bisa mendapatkan pilihan jodoh yang tepat untuk sebuah pernikahan yang abadi sampai akhir nanti daripada menikah cepat dan terburu-buru namun berujung perceraian karena menyesal telah memilih pasangan yang tidak baik.

Kesimpulannya jangan menikah kalau hanya untuk menyenangkan orang lain atau karena dikondisikan atau karena ketakutan akan kesepian di hari tua atau karena dipaksa lingkungan. Menikah bukan karena usia. Menikah sekali untuk selamanya, sampai maut memisahkan (bukan karena sudah tidak ada kecocokan lagi!). Ah sutralah.. terlalu banyak teori!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya