Sebagai penggemar film horor, saya tidak melewatkan film Insidious: The Last Key. Kebanyakan penonton bilang bahwa film ini terlalu drama dan banyak adegan ngagetin aja. Wih, makin penasaran, akhirnya cobalah saya menonton film tersebut. Bagi saya sendiri, film ini punya makna yang mendalam mengenai tokoh utama yakni Elise. Who did not know her, please googling it. hehe.

I am sorry for some spoiler. Semua berawal dari adegan Elise terbangun dari mimpi yang menceritakan kisah masa lalu dia. Bukan yang manis tapi sesuatu yang membuat dia merasakan luka mendalam tanpa berdarah. Walaupun luka tersebut bukan luka baru, tapi dia merasakan luka tersebut terasa baru kemarin. Masih terasa perih-perih sedap. Lalu, dia mendapat telepon dari Ted karena rumahnya diganggu banyak roh, ketika menuliskan sebuah alamat rumah tersebut Elise mengenali alamat tersebut.

Advertisement

Ya, rumah semasa dia kecil, rumah yang lebih cenderung sebagai a house tapi bukan a home. Dengan tegas, Elise tidak akan pergi ke rumah tersebut. She was scared. Keesokkan harinya, Elise pun menceritakan masa lalunya kepada kedua relasinya Specs dan Tucker. Diceritakan bahwa dia tidak akan pergi ke sana, tapi dalam beberapa menit dia mengubah rencana, dia akan pergi ke rumahnya terdahulu tapi sendirian. Dia harus menghadapi rasa takut yang dia rasakan lewat mimpi. (Apakah dia pergi sendiri, tonton aja ya)

Ada adegan 'roh' dia disandera monster (I don't know how to called it) ketika dia ingin menyelamatkan roh lainnya. Ketika disandera, dia melihat roh ayahnya yang pernah menyiksa gara-gara melihat spirit gaib. Si monster memberi kesempatan pada Elise untuk membalas rasa sakit yang pernah dia rasakan lewat pukulan dari sebuah tongkat yang diberikan oleh si monster. Apa yang dilakukan Elise, ya dia membalas dendam ayahnya.

Pada saat yang sama, si monster mendapat asupan tenaga dari rasa benci dan dendamnya seorang gadis kecil bernama Elise. Dia berhenti memukul ketika disadarkan oleh keponakannya. Dengan sadar, dia berusaha memutus siklus kebencian pada ayahnya dan fokus kalau dia datang ke sana bukan bukan untuk balas dendam. Pertarungan pun tidak terelakkan, ketika tidak berdaya, sang papa mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi anaknya sambil berkata maaf. Elise mendapatkan perspektif lain mengenai ayahnya sendiri bahwa sekejam apapun, ayahnya akan tetap melindungi sang anak, Elise.

Advertisement

Dari film ini saya belajar bahwa Elise memiliki luka yang diabaikan dan disadarkan ketika dia menjelang tua. Luka ini tak terlihat tapi memang perih, luka yang memang timbul baru dari perspektif kita sendiri dan belum dilihat dari perspektif actor lain saat kejadian berlangsung sehingga cerita yang kita alami setengah komplit. Sesungguhnya fenomena ini tak asing bagi kita, beberapa orang menyebutnya luka batin dan ada pula yang menyebutnya inner child.

Apapun luka yang kita peroleh ketika kecil, baik yang ditutup dengan rapi atau tak sengaja tertutup sesuatu. Baiknya kita menelusuri mengapa kita memiliki luka tersebut. Kenapa, ya karena dengan begitu kita akan bisa mengobati tanpa salah sasaran ketika diobati. Sakit ya jangan ditanya, Elise saja yang umurnya mungkin sudah 50 tahunan sewaktu harus mengingat luka lamanya serasa kemarin sore. Apalagi yang emang beneran kemarin sore terjadi. Membuka luka lama itu semacam membuka Pandora box yang isinya tidak bisa kita tebak. Tapi dengan begitu kita bisa menyempurnakan cerita yang kita alami sehingga kita bisa menerima keadaan masa lalu.

Teruntuk manusia di bumi yang berusaha menerima dan memaafkan kenyataan, semangat berjuang :)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya