Izinkan Aku Melupakanmu. Meski Kutahu Setiap Hari Harus Berjuang Mematahkan Rindu

Mematahkan rindu

Aku sedang dalam proses melupakanmu. Rasanya sangat berat, benar-benar tidak seperti apa yang orang katakana padaku bahwa semua akan segera berlalu. Ini lebih payah dari bayanganku. Setiap hari aku harus bergelut pada penderitaanku sendiri, melupakan kamu. Bisakah? Mampukah? Atau menyerah saja? Itulah pertanyaan yang saban hari kupertanyakan ke diri sendiri.

Advertisement

Aku sedang dalam perjalanan menikmati siksaan dari melupakanmu. Ini keputusan yang melibatkan segenap emosi. Aku tidak ingin tersakiti lagi, tapi, setelah melalui ini, nyatanya aku tersiksa lagi dan lagi. Batinku merindukanmu, tapi benakku tidak membolehkan itu. Bagaimana?

Kukira kita akan baik-baik saja. Sesekali berargumen, sesekali menaikkan nada bicara, sesekali tidak tegur sapa menjadikan kita merindu satu sama lain. Ternyata, tidak. Kita semakin berkeras hati, tidak mau mengalah. Lupa bagaimana dulu kita merajut perasaan, menyamakan jalan dan menyatukan hati. Kini, kita memilih jalan masing-masing. Aku kamu bukan kita.

Aku mencintaimu, namun, jika tetap dipaksakan, kukira kita tidak akan bisa lagi menghormati. Caci maki lebih sering terucap daripada kalimat pendamai yang dulu sering kita lontarkan. Kata maaf seolah tabu disebutkan. Menunjukkan sikap romantis canggung dilakukan.

Advertisement

Sekarang, aku berproses melupakanmu. Sesulit apapun itu, aku mencobanya. Aku ingin menciptakan bahagia untuk diriku, dan kuharap begitu pula kamu.

Jadi, kumohon, tetaplah begini. Jangan hancurkan aku dengan kata hai lalu bertanya kabar. Kukira itu akan meruntuhkan kekerasanku dan mulai menaruh lagi harapan untuk bisa bergantung padamu. Dan, aku takut mengulangnya kembali.

Benar, mungkin ini waktu kita merefleksikan diri. Tapi aku takut jika kita bersama lagi. Percayaku telah luntur, harapanku kini gugur, dan aku tidak mau mengambil langkah yang melantur.

Namun, kutegaskan, bertemu denganmu telah digariskan dan aku tidak pernah menyesal pernah bergandengan tangan serta menatap masa depan dengan harapan-harapan. Aku tidak sekalipun menyesali pertemuan yang menyatukan kita meski sebentar. Banyak pelajaran yang kudapat darimu, banyak pendirian yang kubangun karenamu.


Mungkin ini titik finish-nya. Mengikhlaskanmu tanpa duka.


Bagaimanapun, kamu telah menjadi bagian dari cerita hidupku. Aku tidak bisa memungkiri itu, justru aku sangat berterima kasih karena dulu pernah peduli, menyayangi, mengisi hari-hari dan aku menyadari betapa bersyukurnya aku dipertemukan denganmu.

Sekarang, kita harus meneruskan hidup masing-masing, berproses sendirian untuk mematangkan pemikiran. Jangan ada sesal, biarkan saja tertinggal di belakang.

Sudah waktunya kita menghadap pada masa depan. Meski kita kini menjadi aku dan kamu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

selalu ingin belajar menulis

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE