Aku percaya bahwa semua itu tidak ada yang kebetulan. Semua sudah ada jalannya masing-masing. Tinggal bagaimana kita bisa menerimanya dengan hati yang lapang.


Ini bermula saat dua hari setelah ulang tahunku. Yap entahlah bagaimana ceritanya aku juga tidak tahu. Yang pasti aku percaya ini pasti sudah diatur oleh Tuhan. Singkat cerita kita membuat janji dan akhirnya kita berjumpa. Yah, dari awal aku melihat wajahmu sungguh aku sudah mulai terpesona dengan parasmu yang menenangkan hati dan jiwaku.

Advertisement

Di pertemuan pertama ini awalnya kita masih sedikit canggung, masih saling malu-malu untuk tahu lebih dalam tentang diri kita. Sehari, dua hari, tiga hari sampai satu bulan setelah kita bertemu intensitas komunikasi kita jadi lebih sering. Hingga akhirnya kita membuat janji untuk bisa berjumpa kembali di sebuah kota yang menjadi kampung halamanku dan juga sudah jadi kota kedua di hidupmu.

Dalam perjalanan menuju hari yang sudah kita tentukan, akupun mulai yakin bahwa kamulah orang yang selama ini aku cari. Perhatianmu sungguh luar biasa. Di saat waktu makan tiba, kamu tidak pernah lupa untuk mengingatkanku agar tak lupa makan. Dan yang paling aku suka adalah kamu sangat mengerti aku saat aku butuh waktu untuk menyelesaikan pekerjaanku. Pengertianmu sungguh aku acungi jempol.

Walau status kita ini masih belum jelas, tapi entah kenapa aku sudah merasa nyaman. Dari caramu perhatian kepadaku, caramu mengerti aku, dan juga kebaikanmu yang aku akui luar biasa baiknya. Hingga pada suatu saat terbesit di pikiranku, “Semoga semua yang terjadi saat ini tidak akan hilang dan akan hanya jadi angan semata.

Advertisement

Sampai tibalah hari yang kita tunggu. Betapa senangnya diriku, akhirnya aku bisa melepaskan kerinduan yang selama ini aku pendam. Akhirnya kita bisa bersatu di kota yang romantis ini. Sungguh bahagianya diriku bisa bersama denganmu, bisa lebih dekat dan tahu akan dirimu. Aku pun makin jatuh dalam kenyamananmu.

Hingga saatnya kepahitan itu datang, di mana aku pun akhirnya mengungkapkan yang sebenarnya. Aku berusaha jujur atas apa yang aku rasakan selama ini, berusaha agar berani mengutarakannya kepadamu. Mungkin ini juga kesalahanku yang terlalu terbawa suasana dan akhirnya menaruh harapan indah kepadamu.

Kecemasanku akan saat itu menjadi kenyataan. Ingin menjadi seseorang yang bisa jadi teman berbagimu yang lebih pun hanya angan semata. Remuk rasanya, ingin aku pergi dari mimpi buruk ini, namun aku tak bisa. Aku terdiam dan menahan kesedihanku hingga tak ada sepatah kata yang bisa terucap.

Hancur? Iya aku hancur. Remuk? Iya aku remuk. Perasaanku pun sudah tak berbentuk. Ya, aku sudah terjebak dengan kenyamanan ini, kenyamanan yang membelenggu di dalam diriku. Tetapi, ya sudahlah aku berusaha untuk ikhlas dan menerima semua ini. Mau diapakan lagi? Aku tak memaksa kamu untuk bisa mersakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan.

Aku juga tidak ingin kamu bisa membalas rasa ini. Setidaknya kamu boleh dan bisa membuat hatiku hancur, tapi kamu tidak bisa menyuruhku untuk bisa berhenti mencintai dan menyayangimu. Tak apa aku tak bisa memilikimu seutuhnya, tapi biarkan aku mencintaimu dalam diam. -WD-

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya