Siapa yang tak kenal pensil, alat tulis minimalis dengan berbagai warna yang sangat menarik bahkan bentuknya pun lucu dan menggemaskan. Benda yang wajib kita punya saat masuk bangku sekolah. Alat tulis yang keberadaannya sangat dibutuhkan dan membantu kita mengisi lembar ujian.

Dahulu kala pensil terbuat dari bahan grafit sehingga mudah patah, terlalu lembut, memberikan efek kotor saat media bergesekan dengan tangan, dan tangan pun menjadi kotor ketika menggoreskan.

Advertisement

Pensil yang kita gunakan saat ini terbuat dari komposisi grafit dan tanah liat. Dicampur, diolah, dan dibentuk menjadi batang yang dibakar dalam perapian. Sehingga bentuknya menjadi lebih keras. Kemudian komposisi tersebut dibalut dengan kayu dan biasanya berbentuk bulat sehingga lebih nyaman untuk digenggam.

Pensil memiliki tingkat ketebalan yang berbeda. Kode B (Boldness) berarti menggunakan komposisi bahan grafit yang lebih banyak. H berarti kekerasan komposisi, leadnya dan kandungan tanah liatnya lebih banyak. F berarti sangat tepat untuk diraut hingga kerucingan maksimal. Angka di depan huruf menunjukkan ketebalan atau kekerasan komposisi. Misalnya 2H berarti lebih keras dari H. 2B berarti lebih lembut dan tebal dibandingkan B. Sedangkan kode HB berarti keras dan tebal. Kita bisa memilih pensil yang seperti apakah yang kita gunakan untuk kita goreskan.

Pensil juga memiliki gradasi warna yang beraneka ragam. Tak heran pensil warna-warni pun sangat digemari. Setelah disapu dengan air maka gradasi warna yang dihasilkan pun bisa secantik yang kita harapkan. Berbagai macam merek dengan tingkat keunggulan masing-masing telah banyak diproduksi dan mudah sekali kita temukan di pasaran.

Advertisement

Sebuah pensil memiliki filosofi yang sangat menarik untuk ditelisik. Belajar dari pensil adalah belajar tentang kehidupan. Dimana kehidupan yang kita jalani kita ibaratkan dengan pensil kehidupan. Banyak pelajaran di dalamnya dan banyak pula makna kehidupan yang mendalam. Diantaranya sebagai berikut,

1. Pensil Butuh Penggerak

Pensil tak akan berfungsi kalau tidak ada yang menggerakkan. Pensil butuh tangan untuk digunakan. Kehidupan yang kita jalani sudah ada yang mengatur dan ada yang menggerakkan. Percaya dan yakin Tuhan telah mengatur yang terbaik untuk hidup kita. Jalani hidup ini dengan penuh kebersyukuran dan usaha terbaik yang kita bisa.

2. Pensil Perlu di Raut

Apalah guna pensil kalu tidak di raut. Tergeletak begitu saja dan tak bermanfaat. Tak pernah tajam dan menghasilkan goresan. Begitulah hidup ini, terkadang ada ujian yang silih berganti menemani, guna mendidik diri. Kita perlu terluka sedih dan menangis hingga diri ini sanggup berbenah dan bertumbuh untuk menjadi pribadi yang lebih bijak dan mendewasa. Maka rautan sebagai ujian dan pensil pun akan tajam dan penuh kebermanfaatan.

3. Kesempatan Menghapus

Pensil tercipta sepaket dengan penghapus. Penghapus yang memang sangat dibutuhkan ketika ada goresan yang keliru dan butuh perbaikan. Tak semua goresan sempurna, terkadang kesalahan pun kita perbuat. Bahkan selalu dan sering.

Penghapus menggambarkan kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Berbenah dan bertumbuh untuk kebaikan-kebaikan selanjutnya. Manusia tempatnya salah dan lupa, tugas kita mengoreksi dan tak mengulangi.

Kesempatan selalu terbuka, tergantung mau atau tidak kita memanfaatkannya. Jangan sampai penghapus sudah tersedia, kita masih bergelimang dosa. Tuhan selalu membuka kesempatan untuk bertaubat dan mendekat. Tak ada kata terlambat sebelum nafas tercekat dan tak lagi sempat.

Perbaiki kesalahan dan gantilah dengan melakukan kebaikan. Kebaikan yang berkelanjutan dan jangan sampai kembali ke belakang. Kebaikan yang harus diikhtiarkan dan kesalahan yang musti diminimalkan.

4. Bagian Dalam Pensil Lebih Utama

Begitu pun dengan hidup kita. Apa yang terlihat dari luar tak selalu menampakkan sisi kedalaman hatinya. Ibarat wajah yang dipoles berlebihan hingga menjadikan topeng yang ternyata berdampak buruk bagi dirinya. Bersembunyi dengan topengnya dan menjadi orang lain bukan dirinya sendiri.

Semua bermula dari hati. Ketika hati kita sehat dan baik, baiklah seluruh tubuh kita. Ketika hati kita sakit, rapuh dan gampang patah, maka cepat pula berdampak buruk bagi kesehatan. Wajah dan fisik penting, tetapi bukan yang utama, budi pekerti lah yang tak boleh hilang dan tertinggal di belakang. Itulah cerminan diri kita yang sebenarnya. Janganlah menilai orang hanya dari tampilan luarnya.

5. Pensil Meninggalkan Jejak

Goresan yang dihasilkan dari perbuatan kita pun begitu. Akan meninggalkan jejak. Pastikan jejak yang kita tinggalkan adalah kebaikan. Jangan sampai kita terlalu rucing meraut hingga terlalu tajam dan bisa melukai. Membuat goresan yang menyakitkan di hati teman, saudara, kerabat hingga membekas dan sulit terlupa.

Jangan pula terlalu tumpul merautnya hingga goresan pun tak muncul, susah dibaca, dan tak ada jejak tertinggal. Jangan sampai hidup kita sia-sia, tak ada karya, bahkan kebaikan yang kita perbuat sedikit bahkan membekas buruk di hati orang-orang tecinta. Tiada kenangan baik, banyak mengeluh dan kurang bersabar.

Semoga hanya goresan-goresan kebaikan dan kebermanfaatan saja yang kita tinggalkan. Kebaikan yang selalu kita usahakan dan kita tumbuhkan. Semoga mereka yang tersakiti atas goresan pensil kita, Tuhan melapangkan hati mereka untuk memaafkan diri kita. Berusahalah meminta maaf kepada mereka yang dengan sengaja atau pun tidak telah kita telah menggoreskan luka di hatinya.

Begitu pun sebaliknya, goresan pensil orang lain yang membekas di hati kita, semoga Tuhan mudahkan untuk memaafkan dan mengikhlaskan. Pilihlah pensil terbaik dalam kehidupanmu. Berusahalah menggoreskan serta menggunakannya hanya untuk kebaikan dan kebermanfaatan.

Semoga bermanfaat.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya