Keenakan sama fasilitas orang, nggak mau bangun negara sendiri.

Lupa negara sendiri.

Kabur dari negara sendiri.

Pengkhianat bangsa.

Dll

Contoh di atas adalah beberapa “kata-kata” yang diucapkan oleh orang-orang sekitar, saat tau ada yang memilih bekerja di luar negeri. Bener-bener bikin males pulang kalau gini sih. Susah payah berusaha yang terbaik, nekad meninggalkan rumah yang nyaman demi berkembang menjadi lebih baik, ternyata hanya dinilai segitu oleh mereka. Niatnya pulang ke kampung halaman untuk beristirahat sekalian menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman-teman malahan di-julid-in sama “tetangga”.

Advertisement

Memangnya salah yah kalau mendapat kesempatan bekerja di luar? Memang di mana letak salahnya kalau ternyata ada perusahaan luar terlebih dahulu tahu kemampuan kita? Toh kami hanya ke sana untuk bekerja, bukan menyebar aib negara apa lagi aib tetangga. Kami juga bukan ke sana menjual kewarganegaraan (emang juga siapa yang mau). Kenapa kami malah dipanggil pengkhianat bangsa?

Memangnya bukti pembela negara hanya bisa dilakukan di dalam negeri? Teman-teman, justru kita-kita yang memilih berjuang dari luar juga merupakan pembela negara. Sejak kami menjejakkan kaki di negara orang, kami menjadi duta bangsa. Segala tingkah laku, tutur kata, dan tindakan kami mencerminkan negara kita ini.

Orang luar mengetahui seperti apa rupa, budaya, dan keramahan negara kita ini dari kami. Kalau kami berlaku tidak sopan, yang pertama terlintas di pikiran mereka adalah orang-orang dari negara yang sama tidak sopan. Demikian juga kalau kami ramah, maka mereka akan menganggap kalau negara kita orangnya ramah-ramah.

Advertisement

Awalnya, mereka tidak tertarik untuk mengetahui tentang bangsa kita. Tetapi karena mereka mengenal kita, mereka pun penasaran akan cerita-cerita mengenai negara kita, akan keindahan alam, dan keramahan masyarakatnya. Kehadiran kami di antara mereka menggugah rasa penasaran dengan negara kita ini. Tak jarang setelah mendengar cerita kita, mereka semakin penasaran bahkan membeli tiket untuk mengunjungi negara kita.

Untuk membuat keputusan keluar dan berkarya bukanlah hal yang mudah. Banyak yang harus kita relakan demi keputusan besar ini. Lebih sulit lagi pilihan untuk bertahan. Jangan tanya berapa kali kami putus asa disini dan ingin kabur pulang, jangan juga dihitung berapa kali kami menangis sendirian entah karena sulitnya hidup sendiri disini, rindu rumah, atau alasan lainnya.

Bekerja di luar mungkin terlihat wow bagimu, tapi bukan berarti bisa dengan seenaknya dijadikan bahan tawaan. Tidak, kami tidak meminta kalian untuk paham dan merenungi setiap detail kesusahan kami. Hanya, tolong berhenti berkata sembarangan tentang keputusan ini. Stop memperlemah tekad yang hampir goyah ini. Mungkin maksudmu hanya bercanda, tapi kalimat kalian benar-benar merusak kami.


Terlalu mudah kagumi terang. Coba, bila berani kenali gelapnya.

 – Marchella FP, KTBB


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya