Kepada kaum jomblo,

Kejombloan memang udah jadi hal yang paling memalukan bagi sebagian orang di negara ini. Rasanya gengsi untuk mengakui kejombloan kita, jika ada yang bertanya. Di antara kita, pastilah masih ada yang suka sok-sok punya pacar/pernah pacaran hanya semata-mata demi pengakuan dari lingkungan yang masih menganggap kaum jomblo sebagai kaum terhina. Momen-momen awkward dimana orang-orang akan menanyakan status kita, seperti saat di acara keluarga, reuni atau kondangan. Hey, kata siapa jomblo itu hina? Jomblo bukan kesalahan, jadi mengapa kamu merasa merendah seperti ini?

Advertisement

Kamu pasti familiar dengan pertanyaan ini, ” Gebetannya mana, bro/sis?”. Kalau kamu single dan penuh kegengsian, kamu pasti berusaha untuk menutup-nutupinya. Saking malunya terhadap ejekan atau sindiran dari para penanya penuh basa-basi dan kepo.

Dulu saya pernah mengenal seseorang yang sudah beberapa tahun jomblo. Gengsinya setinggi langit dan dia haus akan pengakuan dari teman-temannya. Tampaknya dia aktif di tinder atau aplikasi online dating lainnya. Beberapa kali dia terlihat membawa beberapa “gandengan” di sosmednya, namun selang beberapa waktu kemudian, foto si “gebetan” menghilang dari postingan-postingannya. Tidak ada satupun dari mereka yang resmi menjadi pacarnya. Orang ini terkenal sangat desperate ingin punya pacar supaya dia tidak terlihat cemen dan ngenes terutama di acara kondangan.

Nah, menurut kalian sendiri, apa kalian seperti orang ini? Banyak dari kita yang gengsian, tetapi banyak juga yang biasa aja. Ada yang beberapa tahun menjomblo atau baru menjadi jomblo. Ada juga yang jomblo dari lahir, seperti saya. Namun saya tidak peduli soal status. Saya lebih memilih untuk mengurusi hal-hal yang lebih penting dibandingkan dengan status jomblo. Orang bilang, umur 25 adalah waktu yang pas bagi para wanita untuk menikah dan memiliki keturunan, tapi tidak bagi sebagian orang termasuk saya.

Advertisement

Saya telah melewati umur 25 tahun dan masih tidak peduli dengan orang-orang yang menanyakan status saya ataupun teman-teman saya yang berusaha menjodohkan saya dengan orang lain. Terdengar egois dan bodo amat? Ya memang bebas dari kejombloan & mendapatkan pasangan bukan tujuan hidup saya. At least untuk saat ini. Banyak hal yang saya mau lakukan. Saya juga masih menikmati kesendirian dan mencari kebebasan. Biarpun ada yang menghina saya dengan sebutan nggak laku, teman-teman yang “memaksa” saya untuk tampil lebih feminin, berambut panjang, memakai makeup (by the way, saya pake makeup kok. Namun minimalis), dan orang-orang yang kerap kepo. Saya tetap berpegang pada prinsip saya.

Bagi saya, kejombloan bukanlah akhir dari segalanya. Kejombloan bukanlah suatu hal yang hina atau pantas dihinakan.  Kamu bisa bahagia kok, meskipun jomblo. Banyak keuntungan yang akan kamu dapat walaupun tak ada pasangan. Nggak usah gengsi-gengsi atau malu mengakui kejombloan kamu, entar juga suatu hari akan tiba masanya bertemu dengan jodoh kamu. Jomblo juga bukan hal yang abnormal kok, ada orang-orang yang memang lebih nyaman menjomblo. Bahkan ada yang memutuskan untuk tidak menikah seumur hidupnya. Saya pun, kalau suatu saat memang tidak bertemu jodoh/tidak ditakdirkan untuk punya pasangan, saya akan menggunakan waktu saya untuk traveling (dari dulu saya kepengen banget bisa traveling, sendirian pula. Sebebas-bebasnya. Hehehe), belajar hal baru, lebih banyak kumpul sama orang.

Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya jika saya bisa melakukan apapun yang saya mau (anaknya independen banget) tanpa ada kekangan atau “kewajiban” (berumah tangga) yang harus dilaksanakan. So, berbahagialah dan syukurilah kejombloanmu <3

Salam,

Si jomblo perak menuju mutiara

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya