Jangan Melanggengkan Victim Blaming Ketika Terjadi Pelecehan Seksual. Ini Lho Akibatnya!

Jangan salahkan korban! Apapun alasannya, pelecehan seksual tetap tidak boleh dilakukan.

Beberapa dari kalian para wanita mungkin pernah mendengar teriakan seperti “Mau ke mana cantik..” atau “Mau abang temenin nggak?..” atau siulan ketika kamu sedang berjalan. Tindakan ini sebenarnya merupakan salah satu tindakan dari pelecehan seksual.

Advertisement

Sangat disayangkan bahwa hal seperti ini masih sering dialami oleh wanita-wanita di Indonesia yang membuat kita, para perempuan Indonesia menjadi was-was ketika melewati kerumunan laki-laki atau menjadi takut untuk pulang sendiri apalagi bila langit sudah mulai gelap.

Pelecehan seksual masih kerap terjadi padahal tindakan ini sangat merugikan dan merenggut hak orang lain. Menurut Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban menyatakan bahwa pada tahun 2016, kasus kekerasan seksual pada anak mencapai 25 kasus, pada tahun 2017 mencapai 81 kasus dan pada tahun 2018 mencapai 206 kasus. Kasus yang terus meningkat ini merupakan kasus yang dilaporkan sehingga sangat memungkinkan kasus yang terjadi lebih banyak dari kasus yang tercatat.

Tidak jarang kejadian pelecehan seksual yang kita alami mendapatkan respon seperti “Kamu sih pake baju a.” atau “Wajarlah kamu di siulin pakaian kamu seperti itu sih..” respon ini merupakan tindakkan dari blame victim atau tindakkan yang menyalahkan korban terhadap suatu bencana yang dialaminya.

Advertisement

Kejadian yang menutup hak kita sebagai wanita untuk mendapatkan kebebasan berjalan tanpa rasa takut atau gelisah, sering sekali dipandang sebelah mata oleh masyarakat Indonesia. Tidak sedikit masyarakat Indonesia melakukan blame victim kepada korban baik di media maupun secara langsung. Hal ini membuat korban menjadi takut dan tidak berani untuk speak up mengenai kejadian yang tidak mengenakkan baginya.

Salah satu kasus blame victim yang terjadi di Indonesia adalah kasus dari artis Shandy Aulia. Shandy yang pada saat itu sedang berbadan dua mengambil foto maternity untuk mengenang masa kehamilannya tersebut, foto tersebut kemudian ia unggah ke Instagram sebagai bentuk sharing kepada publik. Namun, tidak disangka foto tersebut dibanjiri komentar-komentar yang tidak mengenakkan, hal ini membuat Shandy akhrinya mengambil jalur hukum. Kasus ini akhirnya diangkat pada acara Polusi Ruang Publik oleh Metro Tv.

Pada acara tersebut, John De Rantau juga memberikan pendapatnya kepada kasus yang dialami Shandy. “Saya pernah melihat kamu berpakaian tipis yang memperlihatkan seluruh bentuk lekuk dan aurat kamu, maaf seluruh laki-laki nusantara kayak menginginkan kamu. Nah itu yang tidak kamu sadari. Ketika bully-an datang kemudian keluar kata-kata yang tidak senonoh dan segala macam, kamu tidak bisa salahkan.”

Kata-kata yang diucapkan John De Rantau merupakan salah satu bentuk dari blame victim, karena ia memaklumkan komentar-komentar yang tindak mengenakkan kepada Shandy dengan alasan pakaiannya yang terlalu terbuka. Seharusnya pakaian kita tidak menjadi tolak ukur seseorang untuk melontarkan komentar-komentar yang tidak mengenakkan kepada orang lain karena hal ini sudah melanggar hak seseorang.

Blame victim yang dilakukan dapat memberikan dampak yang membekas baik kepada korban, pelaku dan generasi selanjutnya. Korban yang mengalami pelecehan seksual akan mengalami rasa trauma, stress, gelisah, takut dan mungkin depresi. Bila korban yang keadaan mentalnya sedang terguncang medapat perlakuan blame victim oleh orang lain, ia akan merasa semakin tertekan hingga memungkinan terjadinya hal yang tidak kita inginkan.

Dampak yang buruk juga akan dialami oleh pelaku. Blame victim yang dilakukan masyarkat, akan membuat pelaku merasa tindakan yang ia lakukan adalah hal yang wajar sehingga sangat memungkinkan bahwa pelaku akan mengulang tindakannya tersebut ke orang lain.

Sedangkan untuk generasi selanjutnya, blame victim akan menumbuhkan pelaku-pelaku kekerasan seksual di masa depan, hal ini terjadi karena generasi yang lebih muda akan memiliki pola pikir bahwa melakukan tindakan tersebut adalah hal yang wajar, ia tidak tau bahwa tindakan itu merupakan hal yang salah karena generasi sebelumya mewajarkan atau menormalkan tindakan tersebut. Bila ini hal ini terus terjadi, tentu akan memberikan dampak yang buruk terutama untuk kita para wanita karena kasus kekerasan seksual di Indonesia akan semakin meningkat dan hak perempuan Indonesia akan semakin terbatas.

Maka dari itu, blame victim harus segera di hentikan, berikut tips dan cara yang dapat kamu lakukan untuk menghentikan blame victim :

Mulailah dengan Diri Kita Sendiri

Blame victim tidak dapat dihentikan bila kita tidak memulainya. Dengan kita tidak melakukan blame victim terhadap orang lain, kita telah mengurangi satu orang yang melakukan tidakan blame victim.

Bagikan Pengetahuanmu

Jangan malu dan takut untuk memberikan pengetahuanmu! Dengan memberikan edukasi dan informasi yang kamu miliki mengenai betapa buruknya blame victim dan bagaimana cara untuk menghentikannya, kamu dapat mengurangi tindakan blame victim.

Angkat Suaramu!

Bila kamu melihat temanmu atau orang di sekitarmu melakukan blame victim, tegur dia! Cobalah untuk menghentikan dan menyadarkannya bahwa tindakan yang ia lakukan merupakan tindakan yang salah.

Berikan Supportmu

Bila kamu melihat temanmu atau orang di sekitarmu mengalami blame victim, berikanlah support mu karena tindakanmu tersebut dapat menyemangati mereka. Kamu bisa memberikan support mu dengan memberikan dukungan baik dari segi kata-kata dan tidakan. Bila temanmu masih enggan untuk membicarakannya, kamu bisa menemaninya sehingga ia tau bahwa kamu ada di sisinya.

Pelecehan seksual akan terus meningkat bila blame victim tidak dihentikan. Blame victim sendiri juga memberikan dampak yang buruk baik untuk korban, pelaku dan generasi kita selanjutnya. Seharusnya blame victim dalam bentuk apapun tidak boleh dilakukan terlebih bila hal itu dilakukan didepan media dimana semua orang dari berbagai kalangan dapat melihatnya. Jangan salahkan korban! Apapun alasannya, pelecehan seksual tetap tidak boleh dilakukan. Marilah kita hentikan blame victim dengan memulainya dari diri kita sendiri dan disebarkan ke orang disekitar kita.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE