Sahabat menurut saya adalah orang yang ada disaat kita senang atau susah. Sahabat tidak akan berkata manis hanya untuk menyanjung kita. Sahabat akan berkata jujur dengan berkata “kamu salah” jika apa yang kita perbuat memang salah. Sahabat tidak akan menjerumuskan kita kepada hal-hal yang buruk. Karena sejatinya sahabat adalah orang yang membuat kita semakin baik.

Persahabatan antara Jane dan Lia sudah terjalin semenjak mereka ada diasrama. Mereka berdua menempuh pendidikan setara dengan sekolah menengah atas di Yogyakarta. Dimana mereka tinggal diasrama sekolahan. Perkenalan dimulai dari Jane yang menyapa untuk ijin duduk disebelah Lia. Setahun berlalu Jane dan Lia menempuh pendidikan. Mereka berdua bisa naik kelas dengan bersamaan.

Advertisement

Ditahun ketiga pembelajaran, Lia tidak bisa lagi tinggal di asrama. Lia juga sering tidak menghadiri kelas. Saat itulah Jane kesulitan untuk menghubungi Lia. Jane mencoba menghubungi melalui telepon, tidak ada jawaban. Semua pesan singkat melalui SMS, whatsapp dan BBM tidak pernah Lia jawab. Jane yang mulai penasaran dengan keadaan Lia, Jane mulai mencari tahu kabar Lia melalui guru-guru di sekolah.

Setelah mengetahui bahwa Lia sakit diakhir pekan bulan dimana terdapat akhir pekan yang panjang, karena hari senin adalah hari libur. Jane memutuskan untuk mengunjungi Lia. Jane pergi kerumah Lia. Jane mendapatkan alamat rumah Lia dari wali kelas mereka. Setelah mendapatkan ijin dari ibu asrama untuk mengunjungi Lia, Janepun berangkat kerumah Lia.

Inilah kali pertama Jane berkunjung kerumah Lia. Peraturan asrama yang sangat ketat tidak mengijinkan siswanya keluar sesukanya. Jarak rumah Lia sangatlah jauh, karena berada diluar kota Yogyakarta. Tiba dirumah Lia, Jane kaget dengan keadaan Lia.

Advertisement

Lia terbaring lemas dikasur. Lia pucat. Jane yang mengetahui keadaan Lia hanya bisa terdiam dan termenung. “Hai, Jane, apa kabar? Akhirnya kamu sampai dirumahku, kemari duduk dikasur dekat dengan ku. Gimana pelajaran minggu ini? Aku dengar kamu kesulitan mencari pasangan debat saat pelajaran Bahasa Indonesia, karena aku sibuk cuti sekolah”. Sapa Lia kepada Jane. Lia yang sekujur tubuhnya lemas, wajah dan bibir pucat memutih tidak ingin menunjukan kepda Jane jika dia sakit. Jane tetap termenung melihat keadaan Lia.

Tak terasa air mata Jane menetes. Sambil duduk didekat Lia, Jane mulai bertanya “Kau sakit apa? Kenapa kau tidak memberitahu aku tentang keadaanmu? Aku menghawatirkan kamu”. Sambil tersenyum berat karena lemas Lia menjawab, “Aku tidak apa-apa, aku hanya bosan sekolah, bosan dengan pelajaran, aku ingin dirumah nonton TV dan mendengarkan musik”. Lia tidak ingin Jane mengetahui keadaan yang yang sebenarnya Lia rasakan.

Lia sudah tidak sekolah sejak 3 bulan. Sebelum Lia sakit, Lia dan Jane adalah sahabat yang tak bisa dipisahkan. Semua yang dirasakan dan terjadi Lia pasti diceritakan kepada Jane, dan sebaliknya. Namun kali ini, saat Lia sakit tidak bercerita kepada Jane. Karena Lia tidak ingin Jane khawatir.

Lia mengidap leukemia. Lia sudah sering menjalani tranfusi darah, namun kondisi Lia tetap semakin parah.

Beberapa jam berjalan, “aku pamit ya. Minggu depan aku kemari lagi. Besuk aku akan minta ijin ibu asram untuk bisa mengunjungi kamu”, pamit Jane. “baiklah, tapi jangan lupa ya dengan janjimu, jika kamu akan mengajakku jalan, dan aku tetap boceng dibelakang kamu untuk keliling asrama dengan sepeda”, sahut Lia.

Dua minggu berselang.

Siang itu Jane masih duduk sendiri dibangku kelasnya. Tiba-tiba seorang guru masuk dikelas Jane dengan suasana sedih, dan memanggil Jane, “Jane kemari. Saya ingin memberi kabar kurang baik kepada kamu. Namun kamu harus kuat”, mengangguklah Jane, “Lia meningga dunia”, sambung guru Jane. Seketika Jane lemas dan terduduk dilantai. Jane menangis. Semua teman dikelasnya keluar karena mendengar tangisan Jane.

Tiba rumah duka Lia.

Jane diantarkan ibu Lia untuk melihat jenazah Lia yang saat itu sudah dikafani. Tangisan Jane pun pecah kembali. Dari jarak 1 meter, Jane berkata didepan jenazah Lia, “katanya kamu akan sembuh, katanya kita akan keliling asrama lagi, katanya kita akan lulus bareng. Tapi kamu pergi, siapa yang akan memarahiku jika aku salah?

Siapa yang akan mengingatkan aku sholat tepat pada waktunya, siapa yang akan aku jahili, ku matikan lampu saat kamu dikamar mandi, siapa yang akan aku ajak berdebat soal Bahasa Indonesia. Siapa liaaaaa? Kenapa kamu pergi?”. Tidak tega dengan Jane akhirnya ibu Lia membawa Jane menjauh dari jenazah Lia.

Adakah janji dengan sahabatmu yang belum kau lunasi? Hutang tidak hanya berbentuk uang. Namun lunasilah janji-janji kepada sahabatmu. Kareba saya tahu sering kali kamu lebih banyak waktu mu kalian habiskan dengan sahabatmu. Saling terbukalah kepada sahabatmu walaupun itu menyakitkan.

Jadilah sahabat yang apa adanya dan saling mengingatkan. Tidak akan ada sahabat yang tega menyakiti sahabatnya. Jika ada, itu bukan sahabat.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya