“Kamu boleh pergi dulu. Terserah saja. Kemanapun, sejauh apapun, melakukan apapun, dengan siapapun, mau selama apapun, silahkan pergi saja dulu. Aku tak melarangmu atau menghambat langkahmu. Tapi, jika kamu sudah lelah, butuh tempat untuk berbagi, butuh bahu untuk bersandar bahkan pelukan hangat, butuh tempat untuk pulang, pulanghlah. Pulang ke aku. Dengan senang hati kumembuka pintu untukmu. Aku hanya meminta satu hal saja padamu. Jangan pernah datang kepadaku disaat kau belum benar-benar ingin pulang dan masih ingin melakukan perjalananmu sendiri. Jangan temui aku disaat hatimu masih ragu. Aku disini memang untukmu namun aku bukan tempat bersinggah melainkan untuk menetap. Bersama selamanya untuk perjalanan kita berdua."


Lima tahun lalu ketika akhirnya kata yang terangkai berubah menjadi “janji tak sengaja” dan menumbuhkan percaya. Ketika itu aku menangkap raut wajah hangat yang menenangkan. Manusia yang ada di depanku memberikan senyum kecil penuh makna. Suatu saat nanti akan kumiliki sepenuhnya apa saja yang kau berikan padaku.

Advertisement

Melalui hari yang berlalu begitu saja, terkadang menggoreskan pilu berkepanjangan. Aku masih mengenang kita sebagai manusia yang selalu dirundung ragu dan takut. Bisakah mendapat apa yang diharap atau hilangkan semua bagai kabut pagi.

Hari ini aku melihatmu untuk pertama kalinya setelah lima tahun “janji tak sengaja” itu kupegang. Mempercayai manusia yang hakikatnya terkadang mengecewakan. Merasa percaya diri bahwa semua akan sesuai harap dan janji bukan hanya sekedar lelucon untuk kita. Aku berdiri tepat di depanmu dengan senyumku dan kau pun tertawa bahagia. Tawa itu masih sama seperti dulu. Membahagiakan bahkan untuk orang-orang yang melihat. Sayang, tawa itu bukan untukku.

Bahagia yang kau rasakan dan kau berikan untuk orang yang berada di sampingmu, bukan yang ada di depanmu. Genggaman erat sepasangan tangan itu sungguh tak bisa diraih oleh siapapun yang ingin melepasnya. Kau bahagia, begitu bahagia denganya. Aku sadar, mungkin memang tak mudah namun kau berhasil keluar dari janji tak sengaja itu.

Advertisement

Entah kau yang egois atau aku yang terlalu bodoh berharap angan menjadi nyata. Harusnya aku bisa bahagia bersamamu, menangis karena mu namun kau yang mengobatinya kembali begitupun sebaliknya. Merangkul dirimu dalam pelukku, memastikan bahwa kita baik-baik saja. Ternyata aku tertipu bukan hanya karenamu tapi karena bodohnya aku.

Kau melihatku, akhirnya pandanganmu mengarah kebola mataku. Aku kumpulkan keberanian walau terkuras tenagaku. Aku beranikan diri memberikan senyumku padamu dan tawamu seketika hilang, aku tau kau bergetar terkejut hampir tak percaya tentang siapa yang berada didepanmu.

“Hai” kataku. Kau masih bungkam tak membalas. Janji tak sengaja itu akhirnya diingkari oleh manusia yang tak bisa percaya. Atau mungkin diingkari oleh manusia yang tak kuat menahan godaan lalu menjadi serakah dan menimbulkan perih pada hati manusia yang ditinggalkan.

Melihatmu hari ini adalah hal terberat. Menganggap bahwa akan ada rumah diantara kita, tempat untuk berhenti dan memulai kembali berdua. Nyatanya, ku kubur semua bayang itu. Tidak, kau yang mengubur duluan harapan itu. Aku hanya menaburnya dengan bunga sebagai sisa-sisa usaha terakhirku untukmu.

Aku tak pernah mengira usahaku untuk meyakinkan hatimu bahwa aku adalah rumahmu ternyata sia-sia. Diwaktu lima tahun ini aku masih membuka pintu untuk kau kembali, aku siap dengan semua keluh kesahmu. Aku masih berada di tempat terdepan untuk menantimu pulang.

Sayang, kau kembali dan menuju ke rumah yang berbeda. Atau mungkin saja dulu kau tak benar-benar pergi. Itu hanya alasan besarmu agar kau bisa pulang kerumah yang lebih awal kau temui dan masuk kedalamnya lalu tinggal bersamanya.

Karena kau tau, sejak dulu aku memang bukan rumah yang kau butuh. Bukan tempat berbagi yang kau cari. Mungkin saja dulu kau telah melakukan tugasmu untuk menuntaskan kisah kita. Hanya saja aku yang terlalu bodoh untuk menyadarinya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya