Bilangan kilometer yang menjadi spasi, semoga tak menjadi alibi memudarkan sayang. Sebab kita memiliki tujuan yang harus bersama diperjuangkan.

Hai Cinta, apa kabarmu di sana? Semoga dekap Tuhan tak pernah lepas, seperti doaku dan doamu yang senantiasa berbalas.

Advertisement

Biarkan kali ini aku menuliskan sesuatu untukmu.

Untuk kita yang harus memupuk sabar meski tidak selalu bersama. Untuk kita yang harus menyediakan stok pikiran positif dan rasa percaya yang sedikitpun tak boleh dibiarkan habis. Untuk kita yang rindu, menginginkan temu menjadi penyembuh.

Masih kuingat malam itu, wajahmu sendu, dan penuh ragu. Aku tidak mengucap banyak kata kecuali menenangkanmu. Keputusan yang kuambil menjadi konsekuensi untuk kita.

Advertisement

Berat, meski harus. Tidak mengungkapkannya padamu, sama saja aku mengkhianati kepercayaanmu.

Kamu hanya terdiam, meski aku merajuk. Aku tahu, kamu bukan manusia yang semudah itu dibujuk. Toh pada akhirnya aku dan kamu harus merujuk, kenyataan memaksa untuk diterima, bukan lagi didebat.

Aku tahu, kita dua orang yang sama asingnya tentang jarak itu.

Jarak yang katamu seperti jurang. Jarak yang menurutku ruang untuk curang.

Sebaiknya tidak kita teruskan pendapat tentang jarak ini.

Ada hal yang lebih baik kita pahami berdua.

Tentang menumbuhkan kepercayaan, perihal kabar yang diutamakan, juga kita yang merupakan bagian dari masa depan, serta tidak memusingkan soal–soal yang menjadi keributan. Satu lagi, saling mendoakan yang menjadi keharusan.

Kali ini, kita harus mengerti. Meski hati tak menyanggupi. Baiknya kita sadari.

Aku dan kamu yang dipertemukan Tuhan untuk saling memberi arti. Sekarang ini, Tuhan menghadirkan jarak, seberapa mampu kita bertahan untuk diuji.

Kali ini, rindu adalah menjadi kebiasaan yang berulang. Tapi percaya tidak akan tega biarkan rasa berkurang.

Karena kebersamaan kita memiliki tujuan, bukan ribuan alasan apalagi sekedar bualan.

Kali ini, setia tak hanya pembicaraan, tapi apa yang kita lakukan. Menahan goda, merenda bahagia berdua.

Meski kadang iri tak terpungkiri, memiliki kekasih tapi tak bisa selalu disisi.

Ah, aku percaya sayang. Ada masanya nanti, setiap waktu adalah kebersamaan yang paling berkesan. Sebab pandangmu dan pandangku tidak akan pernah saling melepaskan.

Kesibukan yang menyita waktu, tidak akan menjadi alasan menghilang tanpa kabar.

Kita tak boleh membiarkan keraguan sekecil apapun menggerogoti, meski rindu tak selalu terobati.

Aku dan kamu cukup tangguh menjadikan semuanya tetap utuh.

Hanya bersedia lapang, bahwa cinta diuji untuk terus diperjuangkan.

Sebab jarak sementara. Karna kita adalah segalanya.

Jangan menyerah. Percayalah .. jarak tak melulu memisahkan, tapi juga menguatkan.

Aku harap kita selalu dekat, meski jarak menjadi sekat.

Bukan pada temu yang dirindukan, tapi untuk setiap doa yang tidak bosan saling melantunkan.

Semoga masa depan berdua selamanya berpihak pada kita. Semoga setia dan percaya senantiasa menjadi ketenangan untuk kita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya