Ketika mendengar lagu Stasiun Balapan yang diciptakan oleh Didi Kempot, teringat rasanya ketika aku kembali menginjakkan montorku di atas rel kereta api. Dibawah guyuran hujan dan juga sabarnya aku mengantri beberapa kendaraan yang lebih dulu mendahuluiku. Teringat pula ketika kita harus terakhir kali berpisah di antara jalan menuju rumahku juga tempat di mana kosmu. 

Aku masih ingat. Jangan dikira sudah dua tahun ini aku tak pernah muncul lagi dihadapanmu bukan berarti karena aku bisa berhenti melupakan apa yang dulu pernah kuperjuangkan untukmu. Maaf . Bukan berarti pula aku bicara seperti ini karena aku ingin menuntut balas darimu. Iya. Dulu memang pernah. Tapi, sekarang tidak. Aku sadar bagaimana posisi kita sekarang.

Advertisement

Masih ingatkah kamu dengan kalimat yang dulu aku ucapkan? Di mana sebenarnya aku tidak pernah berani mengatakannya. Namun dini hari itu, aku tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak mengatakanya padamu. Iya. Kamu membuatku akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama 2 tahun kupendam rapat-rapat. Meskipun aku sendiri awalnya ragu-apakah yang kukatakan ini sudah waktunya ataukah hanya karena aku tidak akan kembali ke tempatmu lagi-tempat di mana aku bisa melihat dan mendengarkanmu bersua lewat suara?

Setiap kali mendengar kata "Stasiun" rasanya kembali teringat, ketika aku harus menunggu untuk bisa bertemu denganmu. Meskipun bukan kamu yang menjemput malam itu, namun dirimu membuatku merasa bahwa perjalananku sudah hampir sampai untuk bisa dekat denganmu. Rasa lelah perjalanan jauh tak terasa. Sampai aku pun tak berselera untuk makan bekal yang sudah di bawa oleh temanku. Namun aku juga ingat bahwa "Stasiun" pula yang harus mengingatkanku pada perpisahan yang bukan kuinginkan sebelumnya.

Aku tidak akan pernah lupa di setiap sudut jalan yang pernah kita lalui beriringan bersama meskipun memang tak ada ikatan apa-apa di antara kita. Mungkin benar LDR hanya bisa dialami oleh mereka yang memiliki pasangan. Tapi bagiku tidak. Aku ingin mengatakan padamu bahwa jarak yang kutempuh sejauh ini untukmu, memang tak bisa kutebus dengan berhasilnya aku meluluhkan hatimu. 

Advertisement

Dan aku sadar kini aku harus berhenti untuk menghubungimu. Kamu sudah bersama dengan pasangan hidupmu. Namun di sini aku masih saja teringat jarak yang dulu pernah membuatku merasa hubungan kita bisa lebih dekat. Tapi, ternyata aku salah. Aku hanya pandai berandai-andai. Sedangkan kamu mungkin tak pernah tahu sebenarnya aku tak pernah sama sekali membohongi perasaanku.

Terima kasih untuk kesempatan dulu yang kamu berikan untukku-bisa mengutarakan rasa sayangku. Meskipun bukan jawaban "iya" yang kudapatkan darimu-Meskipun kukira waktu itu kamu masih memberikan kesempatan untukku. Kurasa aku salah. Kamu bilang kita tidak bisa selalu bertemu karena memang jarak kita yang terlampau jauh. Lantas apakah itu alasan sebenarnya kamu menggantung jawaban pada malam itu? Dan akhirnya dua tahun kemudian kudengar bahwa kamu pun menikah.

Jarak telah membuatku percaya akan pertemuan berikutnya. Jarak mngajarkanku bahwa rasa cinta bukan karena sering bersama. Jarak mengajarkanku berjalan beriringan bersama rasanya sugguh luar biasa meskipun tak ada ikatan apa-apa. Jarak mengajarkanku bahwa aku tak pernah lelah menunggu pesan singkat darimu meskipun kutahu kamu tak akan membalasnya. 

Namun aku harus tetap berterima kasih pada jarak, akhirnya aku harus kembali ke tempat di mana aku tidak bisa untuk mendekatimu-dan memang tidak bisa. Aku memilih untuk berhenti mendekatkan jarak yang memang dari awal tidak pernah benar-benar dekat.

Dulu aku telah berjuang untuk mendapatkan hatimu, namun kini aku harus benar-benar berjuang untuk melepas kepergianmu. Terima kasih pernah menanyakan kabar padaku. Itu lebih dari cukup ketika sudah lama kita tak lagi bersua setelah sekian lama aku menghindarimu. Terima kasih dan maaf bila dulu jarak membuatku melupakan satu hal: bahwa bukan perkara seberapa jauhnya jarak itu, namun jika antara dua insan manusia saling mencintai, perihal jarak itu bukan menjadi masalah. 

Yang jadi msalahnya adalah karena jarak itu hanya aku saja yang mencoba untuk mendekatnnya, sedangkan kamu selalu mencoba untuk menjauhkannya. Iya aku tahu, itu mungkin jawaban darimu ketika tidak bisa menerima diriku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya