Aku pernah merutuk akan jarak yang terbentang antara aku dan dia.

Akupun pernah merutuk akan waktu yang disebabkan oleh jarak yang terbentang.

Advertisement

Aku pernah mengeluh mengapa harus ada jarak diantara kita.

Aku pernah merasa dibuat tak berdaya mulai dari menjadi cemas berlebih hingga tak semangat menjalani hidup.

Terkadang aku merasa iri dengan hubungan orang lain dimana setelah janji suci diucapkan mereka bisa menikmati waktu berdua bersama dan merajut kasih yang sering orang bilang dengan waktu bulan madu. Sedangkan aku dan dia tak bisa merasakan hal itu karena sehari setelah hajatan selesai, dia harus memenuhi panggilan untuk berjarak kembali denganku.

Advertisement

Detik demi detik, menit demi menit hingga hari demi hari bagaikan di gurun pasir. Hariku selalu gerah akan rasa rindu dan perhatian. Kadang rasa rindu ini berlebih namun tak mendapat respon yang berlebih darinya hingga membuat diri ini kesal.

Ya, itulah aku saat awal mengenal jarak setelah janji suci ucapkan. Bukankah memang lebih baik bila sepasang insan yang sudah diikat janji suci hidup tinggal bersama? Bukankah dengan tinggal bersama ketenangan, kebahagiaan, kasih sayang akan mudah didapat?

Memang dalam masa tertentu sepasang insan harus mengalah dengan jarak. Bukan karena keinginan namun karena ada tuntutan misalkan pekerjaan, pendidikan atau hal lainnya. Sejatinya bukanlah jarak yang salah. Namun kita sebagai manusia yang salah mengartikan keberadaan jarak.

Saat awal mengenal jarak, aku merasa menjadi manusia paling nelangsa di dunia. Saat orang-orang setelah menikah bisa langsung berbulan madu tapi aku harus berteman dengan jarak. Beberapa orang terdekatku pun mengasihaniku. Namun seiring berjalannya waktu, aku bertemu dengan orang-orang dengan cerita yang berbagai macam.

Ada cerita tentang suami istri yang sudah lama menikah tapi belum dikaruniai buah hati. Ada yang harus berjarak dengan suaminya disaat hamil tua bahkan saat melahirkan pun tak ada suami disisinya. Ada yang baru berusia kepala dua namun sudah menyandang predikat janda dengan seorang anak dan cerita lika-liku lainnya.

Aku tertegun dan selalu menyimak selalu cerita-cerita itu. Kemudian aku melihat ke dalam diriku sendiri. Mengapa aku tak bersyukur sekali? Ada yang berjarak dengan pasangannya bahkan jaraknya lebih jauh dengan durasi waktu bertemu tiga bulan sekali bahkan enam bulan sekali. Aku jauh lebih beruntung karena jarak yang membentang tak terlalu jauh dan durasi bertemu pun paling lama hanya dua minggu sekali. Oh Tuhan maafkan diri ini yang sering kali tak bersyukur.

Semenjak itu aku mengerti bahwa jarak telah mengajarkanku banyak hal. Aku belajar bahwa belajar bersyukur adalah yang utama. Bersyukur karena telah diberikan pasangan yang setia meskipun jarak membentang. Bersyukur karena jarak yang terbentang tak terlalu jauh dan masih bertemu beberapa kali dalam sebulan. Aku belajar untuk menerima setiap rasa rindu dan rasa yang lain datang. Tak hanya itu akupun belajar itu mengelola perasaan agar rasa rindu tak bercampur dengan curiga yang membuat hubungan merenggang. Tentang hal ini aku pernah diberikan pelajaran yang sangat berharga.

Pelajaran berharga yang aku dapatkan adalah ketika kehilangan buah hati yang tengah dikandung. Alasannya kenapa ? Karena saat itu aku terlalu dirundung perasaan curiga yang membuat hatiku dan pikiranku berprasangka buruk terhadap suamiku. Aku merasa menjadi manusia nelangsa, hanya karena suamiku lupa memberi kabar. Pelajaran itu sungguh luar biasa menamparku dan memberi pelajaran yang berharga bagiku.

Kini aku mengerti bahwa setiap hubungan itu istimewa. Setiap hubungan memiliki porsi ujian masing-masing dan setiap ujian yang ada ternyata sebagai sarana perekat tali cinta diantara pasangan. Jangan terlalu membuat standar dalam sebuah hubungan bahwa hubungan harus begini dan begitu. Karena nanti apabila hubungan tak berjalan sesuai standar yang telah dibuat maka jatuhlah kita pada perasaan down, menyalahkan diri hingga membandingkan diri dengan hubungan orang lain.

Mulai sekarang sudah siapkah kamu untuk berhenti membandingkan hubunganmu dengan hubungan orang lain?

Lewat tulisan ini aku ingin mengatakan bahwa kamu dan hubunganmu itu istimewa dan satu-satunya di dunia ini. Bukankah sekalipun ada anak kembar namun sifatnya berbeda? Maka seperti itulah hubunganmu. Kisah cintamu adalah cerita istimewa dan tidak ada yang menyamainya di dunia ini. Maka marilah kita berterima kasih dengan jarak yang secara tak langsung memberikan banyak pembelajaran dan pendewasaan bagi diri yang dirundung rasa cinta. Sekali lagi terima kasih jarak.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya