Cinta. Terkadang kita hanya butuh waktu satu menit untuk mencintai, meskipun padahal kita butuh waktu selamanya untuk melupakannya.

Setiap hati memang memiliki rasa. Iya. Cinta. Untuk sampai kepada jodohnya, seseorang tidak tentu bisa langsung bertemu dengan orang tersebut. Banyak orang jatuh cinta berkali-kali, semua (mantannya) ikut andil dalam perjuangannya menemukan pasangannya. Meski sebagian yang lain ada juga yang sekali jatuh cinta langsung pada siapa yang ternyata Tuhan jodohkan. Meski demikian, kedua kisah tersebut tetap saja memiliki persamaan. Dalam kedua kisah tersebut pasti ada adegan dimana keduanya mendapati suatu perdebatan. Perdebatan yang mungkin menjadikan keduanya memiliki keraguan atau sekedar masalahan perselisihan kecil. Tetapi bagaimanapun, setiap kisah memiliki adegan tersebut.

Demikian kisahku. Aku memang sudah lupa kapan aku mulai mencintaimu. Bahkan aku sudah melupakan hal apa yang meyakinkan aku untuk mencintaimu (kemarin). Tapi, hingga hari ini yang sudah menginjak satuan waktu tahun, aku belum juga bisa melupakan sosokmu. Juga belum bisa melupakan apa-apa yang telah kita jalani meski belum sempat menjadi kita. Tetapi aku ingat, kita sudah sempat makan bersama. Bahkan kita sudah banyak saling menghibur saat itu. Iya, saat kita sempat jalan bersama. Aku ingat sekali.

“Ini pertama kali lho aku ke sini malem-malem. Sama cowok pula.” Ya, aku mencoba sedemikian jujur malam itu. Dengan gayaku yang riang sambil melihat pemandangan sekitar, hingga akhirnya kamu memberi respon selang beberapa detik aku diam.

“Sama.” Sangat singkat memang. Lagi-lagi aku masih ingat, jawaban singkat itu berhasil menyatukan tatapan kita, dengan bersamaan kita saling membuang pandangan.

Advertisement

Malam itu aku menjadi seorang pendengar setia, sedang kamu menjadi pendongeng yang tak pernah kehabisan cerita. Kamu bercerita banyak hal tentang keluargamu, kamu juga banyak bercerita tantang kota rantau kita ini.

“Kapan-kapan jadi guide-ku, ya?” Pintaku setengah bercanda.

“Iya. Insya Allah.” Ini memang jawaban yang aku inginkan, tapi aku benar-benar tidak habis pikir kalau kamu akan memberikan jawaban itu.

***

Advertisement

Aku masih ingat satu hal yang sempat membuatku tertawa terpingkal-pingkal, tapi kamu hanya terus diam. Sampai aku sungkan sendiri dan akhirnya aku menahan tawaku.

“Mau kemana lagi?”

“Terserah lah. Aku nggak ngerti.” Ya, di antara teman-teman yang lain aku memang yang paling tidak pernah jalan kesana kemari.

Akhirnya, setelah berhasil mengeluarkan motor dari parkiran, kita bersepakat untuk melihat bangkai kapal Cheng Ho. Meski sebenarnya kamu juga tidak tahu itu di mana. Konon, kapal itu ada di depan klenteng di area kota lama. Akhirnya kami menuju ke sana. Hingga sampai kita dip emukiman yang bagi saya cukup kumuh. Suasananya sepi dan gelap. Kadang ada beberapa laki-laki yang duduk-duduk dipinggiran. Sebenarnya saya takut, tapi tidak sampai mulut untuk mengatakan itu. Di perempatan kami berhenti dan kami bertanya pada seorang bapak yang sedang menambal motor. Jawabannya jujur dan membuat saya terus tertawa.

“Wah, mas. Kapalnya sudah dibongkar sekitar setahun yang lalu. Asalnya di depan klenteng sana, mas.”

Kami pun berpamit. Akhirnya kami pulang setelah sebelumnya sempat mampir di sudut kota rantau kita itu.

***

Hari berikutnya aku pulang. Ya, liburan semesteran yang panjang. Empat hari kita tidak saling sapa. Sebenarnya rindu. Tapi tahu diri aku. Siapa aku sehingga layak menyapa tanpa ada perlu. Tapi hari itu, tepat tanggal 7 Juli 2015 aku tidak bisa menahan diri. Aku mencoba menghubungimu via BBM. Alhamdulillah, mendapat respon. Setidaknya bisa ngobrol walau hanya dengan beberapa kali balasan. Sore hari aku coba menghubungi lagi, tapi tidak ada balasan. Saat itu aku mulai risau. Tapi ku coba hibur diri dengan aktivitas lain.

Hingga pada pertengahan aktivitasku, sekitar pukul 19:30 WIB aku menerima pesan singkat dari kawan.

“Mbak, Mas Firdaus kecelakaan.”

***

Aku segera menghubungi siapapun yang aku kira sedang bersamamu diperjalanan malammu itu. Sayang, tak seorang teman pun mengangkat telponku. Satu jam kemudian, aku berhasil mendapat jawaban. Sayang, kabarnya, kamu masih belum siuman.

Aku pun meminta kawanku itu untuk terus mengabariku. Sejak itu aku hanya diam di kasur dan tidak pernah melepaskan handphone dari genggaman. Pukul 00:00 WIB masih saja belum ada kabar dan semua juga tidak ada yang angkat telpon dariku. Hingga sekitar pukul 00:30 WIB aku berhasil mendapat jawaban. Aku hanya diminta untuk berdoa. Katanya, kamu belum siuman. Aku pun hendak menutup teleponnya. Tapi dia menahan dan memanggilku. Aku pun bertahan.

***

“Ra, Mas Firdaus sudah di surga.”

Aku memintanya mengulangi.

Aku tidak salah dengar. Aku berteriak sejadi-jadinya. Dari balik ganggang telepon dia memintaku ber-istighfar. Lalu, aku lupa bagaimana telepon itu tertutup.

***

Sebelumnya memang aku sudah pernah jatuh hati kepada pria lain sebelum Mas Firdaus. Tapi, orang tuaku tidak merestui. Selain memang aku dilarang untuk pacaran karena masih SMA, saya juga pernah sakit hati pada seorang pria yang sempat berkata suci. Tapi pada akhirnya mengkhianati sendiri, membagi cintanya pada perempuan lain yang bagiku itu bukan orang lain. Iya, dia bagikan cintanya kepada adik sepupuku. Sejak itu, aku tidak lagi berhubungan dengannya.

Butuh waktu yang lama untuk jatuh cinta lagi. Sampai pada akhirnya aku jatuh pada hati Mas Firdaus. Meski aku tahu, sampai Mas Firdaus pergi pun sepertinya Mas Firdaus belum sempat mencintaiku.

Menyakitkan. Jauh lebih sedih daripada disakiti. Karena kepada seorang terkasihku yang tidak menyakitiku, meski belum juga mencintaiku, aku tidak sempat mengucapkan salam perpisahan. Tidak sempat melihat wajahnya pada detik terakhirnya. Padahal, 3 hari sebelum itu, kita sempat bahagia bersama untuk sepaling tidak makan dan berbagi cerita.

Cinta…

Beritahu aku, hal apakah yang lebih membahagiakan dari jatuh cinta?

Apakah itu saling mencintai?

Cinta…

Ajari aku lebih memahami apa arti dicintai. Aku tidak peduli seberapa paham aku kepada makna mencintai.

Jika aku mengerti arti dicintai, maka aku akan dapat mengerti siapakah yang benar mencintaiku. Kemudian, aku pikir aku bisa jatuh cinta padanya. Dan akhirnya aku mendapat kebahagian yang lebih, yang kau maksud dengan saling mencintai. Aku tidak mau kecewa pada hal yang sama untuk kesekian kali.

Sejak itu, aku menjadi penakut. Lebih tepatnya aku trauma untuk kembali jatuh cinta. Hingga pada akhirnya, yang selalu aku lakukan adalah membunuh rasa.

Ternyata, membunuh benih cinta juga sama sakitnya dengan dikhianati. Kedua sama-sama membuatku sesak. Bahkan, selalu menyita waktuku untuk diam-diam merindukan. Jika suatu hari nanti aku bisa kembali berani mencintai, aku harap, aku akan jatuh cinta pada pria yang telah Allah jodohkan untukku.

Mengertilah cinta, aku lelah untuk kembali gagal.