Lauh Mahfuz tidak menuliskan namaku untuk menjadi orang yang kau lihat saat fajar datang meskipun sulit aku akan mencoba bangkit. Tuhan memang terlampau baik, kau yg sangatku idamkan saja Tuhan masih menyimpan yang lebih sempurna. Kapan dan di mana, hanya itu masih jadi rahasia. Karena iman, aku percaya. Tuhan tidak akan pernah berdusta.

Mungkin kau masih bertanya dari mana aku dapatkan kekuatan untuk sekedar menyalamimu di pesta pelaminan, sedangkan kau sendiri kehilangan daya melihat diriku. Aku hanya ingin datang di hari bahagiamu, melepas ingatan yang membelenggu, mengantar ragaku kepada tempat di mana pikiranku sebelumnya tertuju agar aku tak lagi bersusah payah memikirkannya lagi. Memastikan jika kini ada seseorang yang telah mampu menjagamu lebih dari aku. Melalui senyum tipis aku bicara aku rela dengan pilihanmu duduk di kursi pelaminan dengan cincin yang melekat dijari manis dan bukan dariku.

Advertisement


Pikiran tak terkendali mulai memenuhi seluruh isi otak tapi aku tak akan sekotor itu untuk merusak dekorasi bunga warna-warni yang indah ini. Meski kau sendiri tau betapa kejam dirimu memporak porandakan hatiku menjadi tiada lagi berbentuk.


Diriku yg lain berbicara, bukankah rela dan ikhlas adalah dua hal yang berbeda? Tidak masuk akal dengan itu wahai wanitaku yang pernah duduk disinggasana tertinggi hati. Aku berusaha sekuat ini untuk tersenyum, meski hatiku berubah seketika menjadi remahan hanya dengan satu potretan. Simpan itu sebagai prasasti tentang kemunafikan diriku dan kenanglah. Jangan menangis hanya karena melihatku ada dan tersenyum. Kau wajib tahu, kau bukan satu satunya pemegang kendali atas bahagiaku, tak usah merasa menyesal ataupun bersalah. Aku pernah menjadi superhero untukmu. Kini saatnya aku menolong diriku sndiri..

Seluruh dunia tahu menjaga jodoh orang lama-lama akan membuang waktuku saja. Aku tahu, sebab itu aku melepasmu. Namun tak bisa kupungkiri tak ada lagi tenaga yang tersisa sepulang dari pesta yang dulu selalu kuimajinasikan. Astaga! Pesta indah itu dahulu terlihat seperti oase yg menyejukkan, hingga aku sadar ternyata hanya akan berakhir menjadi fatamorga. Nyata, tapi tidak untukku.

Advertisement


Aahh aku hampir gila. 


Beruntungnya hanya aku tak hampir mati saja. Aku masih punya iman dan sedikit kewarasan. Terkatung-katung, kalut, sedih tak berujung, dan tak tahu lagi harus ke mana mencari mata air kebahagiaan, selain mengenang masa indah kisah kita dahulu. Aku baru sadar betapa teramat dalam cintaku hingga memaksaku harus jatuh terlalu dalam. Seakan tak hanya hatiku yang patah, namun juga kaki ini. Tak ada lagi daya untuk melangkah, walau sejangkah dan aku tertatih, yang tak kusadari ketika dulu bersamamu adalah hidupku menjadi teramat mudah.

Kini aku sadar betapa berat hidup saat tak bisa lagi menggandeng tanganmu erat. Bernafas pun susah. Apalagi mencari penggantimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya