Jikalau Dipertemukan Kembali, Tak Perlu Bertegur Sapa Lagi. Cukup Sampai di Sini

cukup sampai di sini

Pernahkah kamu merasa bahwa kamu tak hanya satu-satunya? Pernahkah kamu benci pada diri sendiri karena menganggap bahwa bagimu, dia adalah satu-satunya? Pernahkah kamu mencoba untuk berubah, untuk perubahan yang tidak kunjung ada di dalam benaknya?

Advertisement


Kalau aku: pernah.


Aku tidak menyangka, apa yang sudah kuusahakan untuk mengubah hal itu, ternyata kamu juga melakukannya. Ternyata selama ini aku bukanlah satu-satunya. Aku adalah satu dari sekian banyak tempat singgah yang kamu coba pertahankan. Pengisi waktu ketika cintamu pergi dan di kala kamu kesepian seorang diri. Entah ketika saat kamu sedang bosan. Entah ketika dirimu rindu untuk digemborkan. Namun yang jelas, diriku adalah satu dari orang yang kamu cari untuk membunuh rasa bosan. Kata yang pernah engkau ucapkan padaku malam itu, ternyata engkau mengucapkannya juga ditempat lain. Rasa rindu yang engkau utarakan kepada ku pagi itu, ternyata engkau utarakan juga kepada sosok lain. Tempat pertama yang engkau datangi bersamaku itu, ternyata kamu mengaku bahwa engkau tahu tempat itu bukan dari aku melainkan kepada orang lain.

Aku tak ingin terlalu menyalahkanmu. Mungkin ini adalah akibat dari diriku yang tidak terlalu memperhatikanmu. Atau mungkin ini adalah akibat dari engkau yang terlalu ingin diperhatikan? Tapi, jika diriku adalah salah satu dari banyaknya tempat singgahmu, mungkin jika kehilangan aku! Kamu tak akan pernah tahu.

Advertisement

Aku pernah berusaha keras memahami semua tentangmu. Walau kenyataannya diriku tak pernah berhasil dengan sempurna memahami segala hal tentangmu. Selalu saja ada bagian dan hal yang tak mampu aku pahami. Dan betapa lucunya, diriku tidak pernah menyesal karena hal itu. Justru, saat itu berulang kali kulakukan semuanya diam-diam, tanpa sepengetahuanmu, semuanya ku tutup dengan rapat tanpa ada yang tahu, termasuk kamu. Sudah kuceritakan di awal, aku lelaki kuat untuk perihal menunggu; apapun.

Seperti ini, aku pernah berusaha sekuat tenaga menyelam lebih dalam di palung hatimu. Walau sebenarnya semua usahaku tak pernah menemukan titik temu. Yang aku lihat hanya bayangan, semuanya terlihat abu-abu. Namun bodohnya, diriku terus saja menyelam lebih dalam lagi dan lagi. Aku membayangkan berubah menjadi  Monster laut dalam "Anglerfish" yang mampu bertahan di tempat terdalam di lautan. Namun, diriku tak sekuat dan setangguh monster itu, ia mampu beradaptasi dengan sempurna di kegelapan dan keheningan yang begitu luar biasa. 

Advertisement

Dan aku tak bisa seperti itu. Aku tak suka dengan gelap, karena membuatku sesak. Aku tak suka dengan keheningan, karena membuatku kesepian. Semakin dalam diriku menyelami hatimu, semakin banyak tekanan yang aku rasakan. Rasanya pembuluh darahku pecah; berdarah-darah; dan hampir mati ketika aku berada di palung hatimu.

Pada akhirnya, segala hal yang dari awal selalu aku banggakan, akan kubiarkan segalanya menghilang bagai asap rokok yang menggantung di udara. Untuk segala hal yang dari awal yang aku genggam erat, akan aku lepaskan dengan mudahnya seperti pasir yang tertiup angin. 

Untuk segala hal yang manis dan kenangan manis masa lalu, selamat tinggal. Aku pergi, tak akan menoleh lagi. Jika suatu saat dipertemukan kembali, tak usah lagi bertegur sapa. Cukup sampai di sini saja. Aku memutuskan untuk tidak menyelam lebih dalam lagi. Aku menyerah dengan semuanya termasuk kamu. Nyatanya aku benar-benar gagal menyelam lebih dalam di palung hatimu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Nikmati lezatnya rasa dan peristiwa yang terbalut kata-kata