"Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim"

Sebelumnya aku kasi tahu dulu, kalau aku bukanlah pemuda yang alim dan agamis, yang berpedoman kalau “ pacaran itu haram ” atau mungkin “ pacaran itu dosa ”, atau bahkan rela menjomblo bertahun-tahun sehingga dipikirannya hanya ada kata “menikah”, aku nggak sampai sejauh itu.

Aku juga bukan pemuda nakal dan playboy yang sering ganti-ganti cewek dengan bermodal tampang dan kekayaan, seperti di senetron-senetron alay, aku ndak setega itu. Aku hanyalah pemuda yang memiliki pemikiran rasional dan bebas, seperti pemuda-pemuda pada umumnya, tapi masih terbatasi dengan norma-norma agama tentunya. Aku punya sedikit opini dan pengalaman mengenai “Jodoh” dan “Pacaran”.

Opini dan pengalamanku ini bukan bermaksud untuk menggurui atau bahkan mendoktrin seperti quotes-quotes yang bikin para jomblo jadi baper, ini hanya sebatas pengalaman hidup saja. Dulu guru agama di SMA ku bilang, kalau jodoh itu sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Jadi, kita nggak perlu khawatir nggak dapat pasangan, karena sudah pasti kita dapat pasangan, sudah diatur sama Tuhan kok. Secara alamiah kami para jomblo pun tersenyum berjamaah setelah mendengar berita baik itu. Tapi seketika pikiran rasionalku memunculkan pertanyaan yang cukup menggelitik di otakku,

Advertisement

“Kalau memang jodoh sudah ada yang ngatur, berarti kita tak perlu susah-susah cari cewek dong? Dan juga ndak perlu repot-repot deketin cewek dong? Tinggal tungguin aja ntar juga datang sendiri.”

Nah loh, logikaku mulai mikir lebih jauh lagi, gimana ceritanya cewek bisa dateng kalau kita aja ndak niat untuk mendekatinya. Iya kalau cewek itu wajar-wajar saja, soalnya memang kodrat cewek untuk menunggu dan memilih. Nah kita sebagai para cowok, kodratnya untuk mencari dan berusaha kan?. Aku jadi teringat dengan konsep rizki. Bukankan rizki juga udah ditentukan sama Tuhan, tapi Tuhan tetap memerintahkan kita untuk berusaha mencarinya. Apa ini juga berlaku untuk konsep jodoh?

Apalagi jodoh adalah manusia, bukan barang yang dengan gampang bisa didapat dan berpindah tangan. Akhirnya teori “jodoh tak perlu dicari” dalam otakku pun perlahan mulai tumbang, teori ini menurutku kurang cocok untuk para cowok. Pikiran polosku pun mulai tergoda untuk untuk mencoba berpacaran.

Sebagai orang yang baru pertama kali ingin mencari pacar, kriteria cewek yang kucari masih terikat dengan banyak aturan seperti asrama militer. Seperti dia harus baik hati, rajin beribadah, pinter, ramah, tidak sombong, rajin menabung, harus memiliki hobi yang sama, dan berderet-deret kriteria lain yang mendekati cewek sempurna. Dan apakah aku menemukannya?

Ya jelas TIDAK lah. Sampai SMA ku menjadi perguruan tinggi pun ndak bakalan bisa kesampaian. Apalagi itu masih lingkup satu SMA, mana ada cewek se ajaib itu. Saat itulah aku mengerti satu hal, bahwa jodoh kita nanti juga bukanlah manusia yang sempurna, bahkan mungkin dia sama sekali tak memiliki tipe dan kriteria yang udah kita susun.

Tapi perhatianku mulai tertuju pada satu cewek. Kalau menurutku dia sangat alim, ceria, baik hati, pinter juga, pokoknya masih lumayan lah memenuhi kriteria cewek fantasiku. Yang paling penting adalah dia alim dan agamis banget, aku berharap dengan menjadi pacarnya aku bisa berubah jadi rajin sholat, rajin mengaji, rajin pergi ke masjid, rajin mengikuti kajian islami dan segudang kegiatan yang biasa dilakukan oleh pemuda-pemuda alim pada umumnya. Aku pun mulai mendekatinya, mengerahkan berjuta jurus PDKT. Tapi pada akhirnya aku baru ingat satu hal, kalau cewek alim dan solehah itu ndak mungkin pacaran. Sudah terlihat kan kesimpulannya?

Pencarianku berlanjut dan tak lama kemudian aku menemukan cewek kedua yang menarik perhatianku (cepet banget move on nya). Alasanku memilihnya karena kami memiliki hobi yang sama. Aku tak memperhitungkan parasnya, sifatnya atau bahkan sopan santunnya. Aku hanya berpatokan kalau kami memiliki hobi yang sama, maka kami pasti cocok.

Hubungan kami berjalan selama 3 bulan, dan entah mengapa rasa bosan mulai menghampiriku. Sudah berjalan selama itu tapi aku tak merasa ada perubahan di diriku ataupun dirinya. Terbesit sedikit rasa penyesalan di hatiku, ternyata hubungan ini tak seperti yang kubayangkan, ternyata dia tak seperti yang kuharapkan. Meskipun kami tak pernah ada masalah, tapi aku merasa telah salah memilih cewek ini.

Tapi sebelumnya mohon maklum karena aku waktu itu pertama kali menjalani pacaran, jadi tanpa pikir panjang aku langsung memutuskan dia dengan alasan yang sengaja kubuat-buat. Yah, memang terkesan agak kejam sih, dan aku baru menyadarinya setelah beberapa tahun kemudian. Dan yang lebih mengagetkanku adalah, ternyata dia merasa cukup terpukul setelah aku memutuskannya.

Dari situ aku belajar satu hal lagi, bahwa meskipun aku merasa telah salah memilih dia, belum tentu dia juga merasakan hal yang sama, bisa saja dia malah merasa bahwa dia adalah cewek yang beruntung telah memilikiku. Tapi namanya juga udah terlanjur, ndak mungkin kan aku ngajak balikan. Aku yang nembak, aku yang mutusin masa aku juga yang ngajak balikan, emangnya aku cowok apaan. Yaudah pada akhirnya aku kembalikan semua ke Tuhan, kalau memang jodoh juga bakalan balik.

Setelah aku mengalami ditolak cewek, nembak cewek, pacaran sampai mutusin cewek, aku sudah merasa seperti veteran yang sudah cukup berpengalaman untuk menjalani kisah pacaran selanjutnya. Kisahku dengan cewek ketiga ini tak kalah luar biasa, aku mengenalnya hanya dalam kurun waktu dua bulan, habis itu kita resmi pacaran. Seperti biasa aku juga mendapatkan banyak hal baru dengan cewek ketiga ini.

Dia berhasil mereduksi kriteria-kriteria konyol yang dulunya menjadi pedomanku dalam mencari cewek, hingga tinggal dua kriteria saja yaitu membuatku nyaman dan membuatku bisa menjadi diri sendiri. Dengan menjadi diri sendiri itu berarti dia menerima dirimu yang sebenarnya.

Percaya atau tidak tapi inilah kenyataannya, pacaranku dengan cewek ketiga ini sudah berjalan hampir 4 tahun lebih (menuju 5 tahun), setara dengan pendidikan sarjana (S1). Dulu aku yang mengenalnya hanya dua bulan, tapi pacaran kami bisa bertahan selama ini. Ini secara tak langsung mendukung teori “Nikah dulu baru pacaran”.

Dulunya aku berpikir kalau teori itu terkesan mustahil. Lebih masuk akal pacaran lalu nikah, karena selama pacaran kita bisa mengenal pasangan kita lebih dalam. Mana mungkin kita menikahi cewek yang belum kita kenal secara mendalam, terus ntar kalau udah nikah ternyata zonk gimana? Ternyata nggak cocok gimana? Ribet deh ngurus surat cerainya, belum lagi pembagian harta gono-gini dan segala tetek bengeknya.

Tapi ketika melihat fakta mengenai hubungan kami yang telah berjalan 4 tahun lebih, akhirnya aku mengerti. Kalau selama kami dalam proses saling mengenal, ternyata itu bersamaan dengan tumbuhnya cinta diantara kami. Sehingga teori “Nikah dulu baru pacaran” menurutku cukup masuk akal, dan aman untuk dijalani.

Mungkin hubunganku dengan cewekku yang ketiga ini yang paling banyak mengajariku hal-hal penting. Sebenarnya dia bukan cewek yang alim atau agamis kok, tapi tetep dia masih dalam kategori cewek baik-baik. Kami juga banyak memiliki sisi yang berbeda, tapi aku merasa dia seperti cerminan dari diriku.

Mungkin ini yang dimaksud dengan “jodoh kita adalah cerminan dari diri kita”. Dia adalah cewek yang memiliki pemikiran rasional dan bebas, seperti cewek-cewek pada umumnya, tapi masih terbatasi dengan norma-norma agama tentunya. Dia seakan ikut berkembang saat aku juga berkembang. Pada akhirnya aku menyadari, kita memang harus memantaskan diri agar mendapatkan pasangan yang pantas untuk kita, perempuan baik-baik untuk lelaki baik-baik, begitu pula sebaliknya. Karena memang jodoh kita adalah cerminan dari diri kita.

Jadi itu tadi beberapa pengalaman-pengalamanku dalam pacaran, yang telah memberiku banyak pelajaran penting mengenai konsep hubungan dan jodoh. Jodoh memang sudah ada yang ngatur, jadi perlukah kita pacaran? Jawabannya terserah anda-anda semua, kalau menurutku pacaran itu semacam simulasi untuk menjalin hubungan. Tapi percuma juga pacaran kalau ndak bisa mengambil hikmahnya. Kalau aku sih mending memantaskan diri sambil nyari yang pantas juga. Memang jodoh sudah ditentukan, tapi menurutku cowok wajib berusaha sampai jodohnya terungkap.