Diam? Ya, kamu memang tidak banyak bicara. Bahkan ketika sedang denganku yang terlalu banyak bicara, kamu selalu menenangkan suasana dengan diam dan memberi senyum termanis untukku. Kamu, sangat tidak mudah untuk didapatkan. Berkali-kali aku mencoba ingin menyerah, tapi kamu selalu menguatkanku.

Saat aku ingin sekali marah, kamu selalu menepis kemarahanku dengan memberi senyum termanismu. Setiap kali ada waktu untuk berdua dan sekedar berbagi cerita, rasanya aku tak ingin waktu terus mengalir. Aku tak ingin situasi seperti itu berakhir. Ya, walaupun tak banyak yang kamu ucapkan, tapi kamu selalu paham apa yang aku butuhkan.

Advertisement

Kamu, bahumu, dan senyum termanismu. Yang selalu mengembalikan suasana hatiku yang sedang kacau dan tidak beraturan. Tanpa banyak bicara, kau selalu bisa menenangkan. Lewat matamu, aku selalu menyadari betapa kau ingin aku menjadi yang terbaik. Dalam segala hal, kau selalu mengajarkan apa yang memang seharusnya aku lakukan. Pun dengan cara yang baik, bukan dengan memakiku dan memarahiku.

Kau memang yang termanis yang Tuhan hadirkan untukku kini. Mungkin banyak di luar sana yang menginginkanmu, tapi entah kenapa kau memberikan hatimu padaku. Pada seseorang yang kadang tidak bisa mengimbangimu. Pada seseorang yang belum sepenuhnya mengerti kamu. Waktu demi waktu berlalu, berkali-kali kamu selalu membuatku ingin menyerah, karena memahamimu memang tidak mudah. Tapi lagi-lagi kau memang selalu pintar menguatkanku, kamu memang yang terhebat mengerti aku.


Jadi, tetaplah disini menemaniku, agar aku tidak pernah menyerah menghadapi diammu. Tetaplah sabar menungguku, hingga aku bisa mengerti kamu.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya