Entah sihir apa yang kau gunakan, aku tak tahu, yang jelas aku sudah jatuh jauh kedalam dirimu, ya hanya aku yang jatuh disini

Ya dari awal aku tak tahu mengapa memberanikan diri untuk mengirim kan salam padamu lewat seseorang yang tak begitu ku kenal, dia yang ditunjuk sebagai koordinator dalam acara yang kita buat. Ralat lagi bukan kita yang buat tapi salah satu organisasi yang kita ikuti yang membuatnya.

Advertisement

Dalam pesan grup kamu sangat aktif di dalamnya, aku yang tadi jarang membuka grup itu mulai rajin jika kamu mulai berpesan di dalamnya. Rasanya menarik membaca pesan darimu walaupun di tujukan untuk grup itu, lagipula mana mungkin kau menujukan itu padaku, siapa aku ini?

Berani kirim salam saja harus lewat orang lain. Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka obrolan denganmu, ya hanya melalui chat, belum bertemu secara langsung. Nyali ku tak sebanyak itu, untuk bertemu langsung denganmu dan mengajak berbicara. Maaf aku memang pengecut.

Percakapan ku dengan dia melalui chat hanyalah sekedar pengenalan diri saja. Tibalah hari dimana acara yang diadakan di organisasi kita terlaksana, pada hari itu karna aku dari region yang berbeda denganmu dan acaranya pun berada di deket lokasi region-mu, datanglah aku dengan beberapa kawan dengan region-ku.

Advertisement

Singkat cerita ketika sampai di meeting point, ya kau sudah tau pasti apa yang aku lakukan, mencarimu, mataku berkeliling melihat sekitar apakah ada dirimu? Ternyata kamu belum ada disana, anehnya aku sudah merasakan deg-degan seakan-akan kamu nantinya akan bersikap hangat padaku.

Dan selang beberapa menit akhirnya kau datang dengan segala perlengkapan untuk kebutuhan acara. Dan ya aku masih belum berani menyapa hanya memandangimu saja.

Tiba waktu acaranya, ya saat itu aku tidak memikirkanmu, karna untuk itu ada saatnya, saat itu aku hanya memikirkan proses acaranya. Ketika saat di acara kau menyampaikan materi kepada para adik-adik yang memang kita dedikasikan acara ini untuk mereka.

Ya, kamu jika kamu berpikir aku akan mengambil gambar dirimu tentu saja kamu benar. Tanganku rasanya gatal jika tidak mengambil foto saat itu. Kau sangat bersahabat dengan mereka, padahal aku yakin itu hari pertama juga kamu bertemu dengan anak-anak itu.

Tapi kau terlihat sangat nyaman, mungkin memang sudah dasarnya kamu bisa langsung nyaman bergabung kemana saja. Tak banyak komunikasi antara aku dan kamu, memang dasarnya aku yang takut memulai, padahal aku yakin disana kamu pasti kamu akan menerima komunikasi dengan baik.

Memang aku yang salah, tak berani lebih tepatnya si pecundang, tunggu bukan pecundang tapi pengecut. Di akhir acara ada moment yang membuat aku semakin yakin untuk hati ini hanya memendam. Disana ada yang lebih dari segalanya atas diriku dekat denganmu.

Aku hanya bisa berfikir positif, mungkin dia se-regional denganmu makanya dia berani dan kau pun menyambut dengan hangat karna memang sudah dekat. Namun sayangnya itu berlangsung sampai obrolan di grup setelah acara selesai. Lupakanlah obrolan grup itu, terlalu rumit untuk dibahas.

Aku berfikir setelah acara itu mungkin rasa kagum akan selesai, kekaguman sesaat yang menggebu-gebu, tadinya. Nyatanya setelah itu kita kembali di satukan dalam acara yang akan digelar. Tunggu jangan pakai kita, karena mungkin itu takkan terjadi, aku dan kau kembali bertemu untuk membahas acara selanjutnya.

Memang komunitas ini sangat membutuhkan orang sepertimu yang gampang beradaptasi dengan siapa saja dan dimana saja. Memang menyenangkan mengenalmu, sayangnya aku berlebihan untuk ini, dan akhirnya aku yang terjebak, sendiri.

Terjebak perasaan sendiri yang kagum tak mampu mengungkapkan, takut akan hal-hal yang mungkin sebenernya tak terjadi, tapi menurutku lebih baik seperti itu, jadi hal yang terburuk tak terjadi. Singkat cerita tiba saat di mana semua divisi bertemu untuk menyatukan ide (FYI: acara cukup besar yang perdivis punya tanggung jawab sangat beruntung aku dan kau tak 1 divisi, jika sedivisi mungkin aku takkan mengeluarkan pendapat karna tertegun untuk melihat terus).

Bertemulah kau dan aku di sebuah taman yang berada di Jakarta, ya karna itu menjadi titik tengah untuk semua divisi dan daerah. Di sana aku bersifat dingin terhadapmu, bukan aku yang percaya diri, karna pesan singkatmu itu cukup merasuk kedalam pikiranku, pesan singkatmu yang mengatakan kau hanya mencari pendamping atau teman dekat yang memiliki raga tinggi serta wajah yang mengademkan hatimu.

Sementara aku? Hah, untuk tinggi saja dirimu jauh lebih tinggi, apalagi untuk wajah sangat jauh, bukannya aku merendah, ini hanya berfikir untuk sesuatu yang realistis, dunia ini kejam kalo kita hanya berandai.

Setelah pertemuan itu, di mana aku bersikap sangat dingin itu karna aku hanya tak ingin memendam rasa kagum ini terlalu dalam saja. Kamu tak pernah salah, hanya aku yang salah mengagumi setiap aspek yang kamu miliki.

Malamnya ketika aku yang memang tak memiliki kesibukan membuka sosial media dan mendapati kau update sesuatu yang baru, di sana kau bicara tentang kejenuhanmu terhadap tugas akhir yang sedang kau hadapi, dan di sana terdapat note kecil yang merupakan sebuah kode, entah untuk siapa sampai sekarang ini di tulis pun aku tak pernah tau.

Dengan beraninya aku mencoba menjawab kode itu, ya aku sudah yakin memang kode itu awalnya bukan untukku, tapi jawabanmu sangat tak terduga. Ntah mungkin aku yang menganggapnya berlebihan atau memang ini sebuah jalan baru. Jawabanmu sepertinya kau kesal aku tak berani menyapamu ketika dalam pertemuan di taman menteng itu.

Aku yang memberikan alasan sebenernya pun sepertinya tak kau percaya, sepertinya memang kau sudah muak dengan sifat anehku ini. Aku sempat bertanya kepada beberapa orang yang dapat aku percayai dan paham tentang hal seperti ini, mereka bilang itu merupakan sebuah lampu hijau atau jalan baru untuk bisa dekat dengannya.

Nyatanya justru itu merupakan awal dari semakin berhasilnya kau jauh dari diriku. Bukan salahmu semua salahku yang tak mampu mengartikan keadaan, harus bagaimana dan bersifat seperti apa seharusnya dimatamu. Singkat cerita tibalah H-1 sebelum acara, saat itu divisiku dan divisimu harus sangat menyatukan visi agar acara berjalan sesuai dengan apa yang direncakan.

Maaf lagi aku salah yang sangat berharap bisa menghabiskan waktu di sana dengan berkomunikasi denganmu, nyata kau lebih memilih temanku untuk membicarakan hal itu, dan barulah temanku itu yang menyampaikannya. Mungkin menurutmu dia lebih kompeten, dan memang kau benar akan hal itu. Tidak ada yang salah darimu. Percayalah, seandainya kamu salah pun tak ada yang akan menyadarinya.

Tiba saat acara, semua berjalan sesuai dengan yang sudah direncankan, baik dan memang kamu dan divisi tak usah diragukan lagi, rancangannya sesuai dengan yang diharapkan. Sangat senang disana kau memerankan peranmu sangat baik sebagai pengatur jalannya acara.

Aku berkomunikasi denganmu saat itu, di saat itulah aku banyak melakukan pembicaraan bersamamu, ya walau hanya sebatas seperlumu saja, dan aku pun tak berani bicara selain yang kau butuhkan. Kau tetap mengupayakan berkomunikasi dengan temanku yang akhirnyapun menyampaikan kepadaku untuk keputusan akhirnya.

Sekali karna mungkin kau berfikir dia lebih kompeten. Dan ya kau benar dan memang kau takkan pernah salah, setidaknya dimataku seperti itu. Selesai acara sudah, kita meluapkan tawa canda serta sedikit keluh kesah atas acara yang terjadi. Saling berfoto, sayangnya di sana aku tak berhasil dapat foto berdua denganmu, hah harapku tinggi sekali untuk bisa itu.

Kita ada foto bersama satu frame, itu ketika semua panitianya ada, ya hanya seperti. Untuk di-crop dan disatukannya pun sepertinya sulit, dari foto pun kita sulit memang untuk disatukan. Karena memang yang menginginkan kita satu hanya satu pihak, yaitu pihak-ku saja. Pihakmu tentu tidak, melihatku saja tidak.

Aku sangat kecewa dengan diriku sendiri yang tak berani untuk hanya sekedar berkata "bisa kita foto berdua?", pengecutnya diriku, laki-laki kah seperti itu? Ah ya aku lupa, ternyata kenapa kau lebih memilih untuk berkoordinasi kepadaku temanku dibanding diriku karna saat persiapan dan hari H aku mendapati penyakit radang, yang dimana menyulitkan aku untuk berbicara.

Mungkin kau tidak ingin membebankanku untuk memaksakan bersuara, karna memang itu sangat menyiksa jika dipaksakan. Itu fikir positifku dan semoga benar. Selesailah kegiatan hari itu, beberapa dari panitia sudah meninggalkan venue untuk kembali ke kota mereka masing-masing, disana hanya tinggal beberapa orang saja, termasuk kau, ya kau selalu menjadi bagian akhir dan terpenting akan segala hal yang terjadi saat itu.

Saat aku dan beberapa temanku menuju pintu keluar dari venue kau dan temanmu yang waktu itu aku mintai tolong untuk menitipkan salamku padamu, serta satu pria yang diacara itu memang mulai dekat denganmu, ya karna sifat humble-mu jadi mudah bergaul dengan siapa saja, berpas-pasan dan saling menyapa, disitu aku hanya memberikan senyum karna memang masalah radangku masih belum teratasi, tapi temanmu bertanya kepadaku.

"Hey, diem-diem bae , sapa apa sapa", aku langsung teringat pesan singkat yang kau kirim sebelum kau berubah menjadi dingin kepadaku, aku tak paham maksudnya apa, ya yang jelas kepalaku dipenuhi tanda tanya setelah itu, dan mungkin ini hanya inginku, aku seperti mendengar gumammu dari kejauhan setelah itu, "katanya mau deket tapi gitu."

Ya itu yang ku dengar entah aku ke-pede-an atau nggak, ya mungkin anggaplah di sini memang aku yang ke-pede-an. Karna setelah di grup-pun aku yang sering mencoba menjawab jika kau bertanya tetap diacuhkan, aku merasa tak terlihat olehmu, mungkin memang benar aku tak terlihat.

Aku tak tahu fungsinya apa menulis ini, yang jelas aku salah memiliki sifat yang cenderung pengecut ini, mungkin ini salahku yang tak berani secara langsung atau berterus terang untuk bisa dekat denganmu. Ntahlah aku hanya ingin menyampaikan saja apa yang terjadi beberapa akhir ini, dan ini versiku.

Tak tahu bagaimana dengan versimu, mungkin kamu risih dengan keberadaanku, ah tapi rasanya tidak, aku kan tak terlihat olehmu. Dan untuk pembaca aku tak tahu ilmu apa yang bisa diambil dari cerita ini, saya hanya ingin bercerita bagaimana saya mengagumi salah satu wanita yang kehadirannya sulit dihilangkan dari pikiran saya. Hanya itu saja, terima kasih sudah membuang waktu yang cukup lama untuk membaca ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya