Saat aku menulis ini, ada ketakutan tersendiri yang perlahan-lahan merasuk kedalam hatiku. Ketakutan jika pada akhirnya aku harus mengetahui kenyataan yang ada dan untuk kesekian kalinya juga aku terjebak pada perasaanku sendiri. Tapi apapun itu, aku harus mampu mengatasinya. perasaan yang sebelumya baikbaik saja, saat ini menjadi sangat tidak baik-baik saja.

Biasanya, kau tak sungkan untuk bercengkrama ataupun tertawa bersama-sama. Tapi, saat ini, yang aku rasakan seperti ada sekat yang membatasi antara aku dan kamu. Sekat yang teramat tebal dan kokoh kini membatasiku. Bahkan untuk mengucap satu kalimat saja rasanya aku begitu sulit dan berat. Pada akhirnya, aku hanya memilih untuk diam. Tawa dan senyum yang setiap saat terdengar renyah kini menajdi hilang tertelan bumi. Kemana aku harus mencari senyum dan tawa itu ? aku tahu itu resiko yang harus aku hadapi saat mengetahui hatiku terpaut padamu. Kau tahu? Sebelumnya, aku harus berjuang melawan egoku dan mencoba membunuh secara kejam semua perasaanku kepadamu. Namun pada akhirnya, aku harus menyerah karena apa yang aku bunuh secara paksa justru tumbuh dengan subur didalam hatiku. bahkan kini memenuhi seluruh relung didalam hatiku. kau tahu rasanya? Itu menyesakkan..

Advertisement

Saat ini yang bisa aku lakukan hanyalah diam dan berusaha untuk mengusir semua rasa yang berkecamuk didalam hatiku. akan sampai kapan aku mengalami dilema cinta seperti ini, lagi dan lagi. Rasanya hampir ingin menyerah. Namun aku tahu, aku tidak memiliki kekuatan untuk itu. Aku sadar hatiku masih amat begitu rapuh sehingga tak mampu rasanya jika aku harus merasakan luka lagi. Hatiku teramat rapuh karena aku tak ingin membuka luka lama yang belum sembuh ini dan menambahnya dengan luka baru.

Aku ingat kaulah saat itu, yang membantuku mengobati lukaku. Terimakasih untuk luka yang sudah yang rawat dan kau sembuhkan. Tapi, ternyata dirikulah yang terlalu terbawa perasaan sehingga jika persahabatan yang kita bangun selama ini sepertinya akan sudah berada diujung tanduk. Bahkan jika resiko terburuk memang akan terjadi, maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Tenang saja, aku akan pergi jika aku sudah tidak mampu lagi menahan ini semua. Tenang saja, aku akan pergi jika memang sudah waktuku untuk pergi. Hati ini sudah lelah dengan penantian ini. Sudah saatnya memang hati ini memilih sosok yang akan menjadi panutanku, sekarang dan selamanya.

Saat ini aku tak mampu untuk berkata-kata lagi. Hanya melalui tulisan ini, aku curahkan semua yang ada didalam hatiku. saat hati tak lagi mampu menanggung beban ini, biarlah airmata yang akan menemaniku. Tak apa, aku akan mencoba membiasakan suasana seperti ini. Aku baik-baik saja, tenanglah. Aku menyadari ini adalah hubungan yang tidak seharusnya ada dan berlanjut karena aku sadar jika ini tidak akan baik-baik saja. Bukankah persahabatan lebih penting? Iya, buat mereka yang tidak mengalami hal sepertiku. Tak apa, persahabatan memang penting, tapi biarkan sekali ini saja aku menjadi egois. Aku tak ingin seperti ini selamanya tapi aku juga tak ingin tahu kebenarannya jika pada akhirnya akulah yang akan merasakan kesakitan itu lagi.

Advertisement

I see my future in your eyes

I have faith in what I see

Now I know I have met an angel in person

And she looks perfect, no I don't deserve this”. (Perfect-Ed Sheeran)

Terimasih untukmu sahabatku, dan benar aku mencintaimu dalam diam.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya