Terlihat diseluruh ujung kamar berserakan pecahan gelas kaca, lembaran kertas menutupi hampir semua ruangan berbentuk persegi. Malam sudah terlalu larut untuk membuat mata ini terpejam, satu jam lagi pasti akan terdengar alunan Al-qur’an yang menghiasi pucuk menara setiap masjid. Nafasku terdengar jelas diantara benda-benda rumah, pakaian kantor bekas kemarin masih kukenakan lengkap. Selama lima jam perkelahian hebat itu terjadi, aku dengan Sea Putri, anak dari pengusaha ternama Kota Balesta.

Sea Putri, ibu dari anak yang sedang dalam dekapanya sekarang. Darahku mengalir dalam tubuh anak itu, usianya baru menginjak satu tahun, tiga hari yang lalu. Di usianya yang setahun, ia mau tak mau menyaksikan perkelahian hebat aku dengan istriku, Sea. Mungkin tanpanya, lima jam perkelahianku dengan Sea tak kan berujung. Kau penyelamat, anakku. Tak salah Sea memberimu nama Leam, sepenggal nama yang berasal dari Salim, laki-laki yang selamat.

Advertisement

Tangisanku pecah sejadi-jadinya mengetahui ibuku dipukul oleh bapak hingga menyisakan luka di ujung bibirnya. Aku memeluknya sekuat mungkin, mendekapnya merasakan perihnya luka yang ia rasakan. Matanya terlihat sangat lelah, terlihat seperti orang habis menangis. Namun ia masih tetap tersenyum dan membelai kepalaku.

“Ibu baik-baik saja nak, kamu jangan nangis”, sambil membelai lembut kepalaku dan berusaha melihat wajahku yang menempel di perutnya. Usiaku saat itu baru menginjak enam tahun, tinggi badanku hanya mencapai perut ibu. Tangisanku mereda, ibu berhasil menenangkanku dengan berbagai rayuannya.

Aku tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi dengan bapak dan ibu. Di usia akhirku yang ke 6, mereka sering sekali bertengkar dengan suara saling membentak satu sama lain. Ketika mataku mulai membuka setelah tidur semalaman, terdengar bentakan bapak dibarengi bunyi pecahan kaca dan tak kalah suara melengking ibu sambil menahan tangis. Hampir setiap pagi aku merasakannya dan itu sangat menyakitkan. Menjatuhkan semangatku pada hari itu. Mengkunci senyum ikhlasku kepada orang-orang yang kutemui sepanjang jalan menuju sekolah.

Advertisement

Selepas pulang sekolah, rumah tampak sepi tak ada ibu dan bapak. Kami hanya tinggal bertiga dan seekor kucing yang setia menemaniku ketika makan, belajar dan tidur. Ibu tak bisa memberiku adik, entah apa penyebab jelasnya. Aku hanya bisa menangkap satu kata yang pernah terucap oleh bibiku terkait ibuku yang tidak bisa memberiku adik, kata itu adalah rahim. Cukup dan aku tidak mengerti ketika itu.

Aku membuka lemari pakaian di kamar ibu dan bapak untuk ganti baju, hanya ada satu lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati dalam rumah ini. Saat membuka pintunya, tiba-tiba banyak lembaran kertas dan map berjatuhan ke lantai. Aku mengambil salah satu kertas, membacanya dengan ejaan yang tertatih-tatih. Su-rat per-ce-rai-an. Kata yang sering aku dengar di tv, ketika pasangan artis yang ingin berpisah dan datang ke pengadilan agama.

Bapak dan ibu kan bukan artis, pikirku. Mengapa mereka memiliki surat perceraian ini? Ah, nanti aku tanya ke ibu, pasti ibu akan menjelaskanya, pikirku.

Kembali aku merapikan lembaran-lembaran yang berserakan dan memasukannya kembali dalam lemari. Kemudian mengambil satu pasang baju bergambar power rangers berwarna biru kesukaanku.

Aku masih bersandar diatas sofa, mengamati kamar dari jauh dan masih sedikit terbuka pintunya. Sea dan Leam terlihat tidur sangat pulas, sudah lebih dari seminggu aku tidak tidur bersama Sea. Selama itu pula aku tak bisa memberi nafkah batin kepadanya. Melihat wajahku saja dia tak sudi, apalagi bila berhubungan badan. Teringat peristiwa bulan lalu, sebelum aku akan ke kantor. Ia bersama Leam sudah tidak berada dirumah sejak aku selesai mandi dan mengenakan seragam kantor.

Ruang tamu dan ruang makan tampak legang, tak ada suara Leam yang menangis karena menolak untuk mandi. Sea tak menitip pesan apapun sejak tadi malam, ku pandang layar handphone namun tak ada pesan masuk darinya. Sea hanya berpesan melalui makanan yang sudah terhidang di meja makan, bahwa makanan tersebut adalah jatahku untuk sarapan pagi ini.

Tanpa berpikir ulang, aku segera menelfonnya. Demi memastikan ia baik-baik saja diluar sana. Tiga panggilanku tak dijawabnya, aku mulai geram. Seperti menjadi seorang suami yang tidak berarti. Sama sekali tidak dihiraukan oleh istrku sendiri.

Tiba-tiba, suara pintu terbuka dari depan, kemudian aku berdiri untuk memastikan siapa yang membuka pintu barusan. Ternyata istriku bersama dengan Leam.

“Abis darimana? Keluar ga izin suami!!” bentakku kepada Sea.

Wajah Sea yang tadinya tersenyum ceria bersama Leam mendadak berubah setelah aku membentaknya. Matanya mulai berkaca-kaca, Leam hanya menggigit jari-jarinya dan menatap kosong wajahku.

Sea mulai mengangkat bibirnya, tampak sekali getaran bibirnya. Satu tetesan air mata jatuh, disusul dengan tetesan-tetesan selanjutnya.

“Ya Allah mas, pagi-pagi sudah ngebentak. Aku cuma jalan-jalan pagi bersama Leam, salah mas?”

“Ga salah, kalau kamu izin aku dulu!”

“Iya mas, maaf lain kali Sea akan selalu izin ke mas kalau keluar rumah”

“Yasudah, mas mau berangkat kerja dulu. Sudah telat”

“Iya mas, sudah sarapan belum?”

“Gampang itumah, Assalamu’alaikum”, bergegas aku menyalakan mesin mobil. Kemudian melaju cepat meuju perusahaan terbesar di kota Balesta, tak lain adalah milik dari ayahnya Sea.

Sesampainya di kantor, tak sengaja parkir mobilku bersebelahan dengan mertuaku, Bapak Sugiharto. Ayah dari Sea Putri. Aku menyalaminya dan ia tersenyum lebar kemudian menepuk-nepuk pundaaku.

“Gimana kabar Sea dan Leam nak?”

“Emm baik-baik saja pak, sehat Alhamdulillah” terdengar jelas sekali jawabanku yang tersengal-sengal.

“Jaga mereka baik-baik ya sampai di surga nanti, bapak percaya kamu nak”

“InsyaAllah pak” aku menjawab dengan mantap permintaan mertuaku tersebut.

Hidupku kini bergelantungan, bapak dan ibu telah resmi cerai. Meraka menitipkanku kepada embahku yang berada tak jauh dari rumahku yang dulu. Ibu kini bekerja di Malaysia, entah menjadi apa. Aku belum mengerti apa itu TKW. Bapakku menghilang tak menyisakan sepotong nasehat untukku. Aku hanya hidup bertiga dengan embah lanang dan embah wedok. Sifatku berubah menjadi lebih pendiam setelah perceraian bapak dan ibu terjadi. Betapa berat beban yang harus aku pikul di umurku yang baru 6 tahun ini. Namun aku tetap bersyukur, memilliki ibu yang sangat perhatian denganku, ia sering sekali menelponku dan mengingatkanku untuk rajin sholat dan belajar. Ibu sanagat perhatin sekali walaupun jarak menghalangi anatara aku dengan ibu.

Suara adzan shubuh memecahkan lamunanku, tak terasa aku meneteskan air mata. Aku baru menyadari, aku sangat perhatian kepada Sea mungkin karena karakter yang dibentuk ibu kepadaku. Namun caraku memperhatikan Sea itu kesalahan yang besar. Aku selalu membentak dan memarahinya, apakah ini karakter yang diwariskan bapak untukku? Seandainya bapak tidak memarahi dan menceraikan ibu, mungkin aku tak akan memiliki sifat keras seperti ini kepada istriku sendiri.

Bagaimana dengan Leam, anakku? Apakah ia merasakan sama seperti yang aku rasakan saat itu? Cukup aku saja yang merasakan, terasa sakit dan berat sekali. Aku terlalu kejam kepada Sea, sifat bapakku tidak boleh aku lakukan pula kepada Sea.

Aku menangis cukup keras, hingga Sea terbangun dan menghampiriku. Aku menatapnya dan memeluknya erat-erat.

“Bidadariku, Istriku, Bunda dari anakku Leam, aku minta maaf atas semua kesalahanku kapadamu. Maafkan aku yang sering membentakmu, aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi kepadamu. Cukup aku saja yang merasakan perihnya menjadi anak bekas perceraian, aku tidak ingin Leam pun merasakannya.”

“Iya mas, aku juga tidak ingin berpisah denganmu”

Sea melapaskan pelukanku, ia mengambil semua lembaran-lemabaran kertas seperti yang pernah aku lihat ketika umur 6 tahun silam, di lemari orang tuaku. Kemudian ia merobeknya dan membuangnya. Tangisan Leam terdengar dari kamar, aku dengan Sea berlari kecil menuju kamar. Naik ke atas kasur dan menatap penuh bola mata Leam. Anak berumur satu tahun itu tersenyum, melihat aku dengan Sea. Anak sekecil ini saja sudah mengerti betul kedua orang tuanya, Leam berteriak dan tersenyum bahagia. Mungkin jika ia sudah bisa berbicara, ia akan mengatakan “Ayah, Bunda jangan berpisah. Aku sedih tidak punya siapa-siapa nantinya. Siapa yang akan membimbingku menjadi anak yang sholeh? Selain Ayah dan Bunda”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya