Kartini: Perempuan Merdeka Dalam Karya Abadi Perempuan Indonesia

Sudahkah kita merdeka seperti Kartini?

                “jangan tanya apa yang aku inginkan, tanya apa yang diperbolehkan untukku” – Kartini.

Advertisement

Kesetaraan gender saat itu adalah muskil. Laki-laki dan perempuan terbatas budaya leluhur. Masa pingitan satu-satunya jalan bagi remaja perempuan seusai menempuh pendidikan dasar. Masa dimana nikah muda dan perjodohan adalah satu-satunya langkah yang boleh di ambil  saat itu. Masa dimana dapur dan merawat anak adalah satu-satunya dunia mereka setelah menikah. Perempuan saat itu adalah pelengkap rumah tangga, pembantu suami memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya. Tidak ada pilihan. Dunia luar tidak di peruntukkan bagi mereka.

kartini mendobrak sekat itu, kekolotan yang menciptakan dinding besar anatara perempuan dan laki-laki. Ia di anggap ‘kuda liar’ karena tidak se-lembut wanita jawa masa itu. Ia membuka lebar-lebar wawasannya. Ia mencintai pendidikan eropa saat itu. Pikirannya enggan menerima budaya turun temurun yang membatasi dirinya. Ia kacau ketika harus di pingit, dunia luar ditutup rapat untuknya. Ia marah pada tradisi, tapi ia sadar tak bisa melawan. Enam tahun dalam masa pingitan ia mengisi kepalanya dengan berbagai bacaan, feodalisme, feminisme dan buku-buku barat lainnya yang saat itu tak bisa di baca sembarang anak. Tidak hanya membaca ia juga rajin menulis. Tak sampai hati melihat sang anak di pingit dan terkurung dari dunia luar, ayahnya mengizinkan kartini kembali menikmati dunia luar. Kini, dari buku-buku yang ia baca selama enam tahun ia lebih kritis lagi dalam memandang sekitarnya.

Kartini menulis semua keresahannya dalam surat yang selalu ia kirim ke sahabat penanya di Belanda yang kini di bukukan dalan “Habis Gelap terbitlah Terang”. Benar-benar saat itu budaya tidak adil pada perempuan. ia mendobrak dengan pemikiran-pemikirannya, kritiknya pedas pada stereotipe masyarakat saat itu. Kartini berjuang dalam tulisan. Ia tak bisa berteriak lantang seperti Bung Tomo, atau turun di medan perang seperti Cut Nyak Dien. Ia melawan dengan pena. Ia berteriak dengan karya. Ia menusuk dengan kritik dalam karya.

Bicara perjuangan memang kartini selalu punya tempat tersendiri bagi kesetaraan gender di rumah ibu pertiwi.  Ia percaya dan berjuang bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Hak memilih pendidikan. Hak untuk menikah dengan pilihannya. hak untuk menikmati dunia luar dan lain sebagainya. Dengan tulisan yang tak bersuara, ia memerdekakan keresahannya. Membuatnya hidup dalam tulisan-tulisannya

Kini, sudahkan kita seperti Kartini?

Kita mampu berlenggang ke mana saja. Mencoba apa saja, membaca apa saja, menjadi apa saja. Sudahkah kita memerdekakan diri kita dan menjadi apa yang kita inginkan? Menjadi wanita yang lembut sekaligus tegas memiliki prinsip. Menjadi wanita anggun sekaligus tangguh menggapai mimpi. Sudahkah kita menjadi perempuan harapan kartini?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya. Suka dan sedang belajar menulis berbagai jenis tulisan.

CLOSE